Minggu, 09 Desember 2007

DONG MU : SEBUAH (MAUNYA) ROMAN SPIONASE MELAYU

Judul buku: Dong Mu
Penulis: Jamal
Penyunting: -
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, September 2007
Tebal: 237 hlm.

“Dong mu” dalam bahasa Korea bermakna sama seperti kamerad dalam bahasa Rusia. Kira-kira dalam bahasa kita artinya kawan (rekan). Biasanya dipakai sebagai panggilan akrab sesama anggota partai komunis. Ingat film Pengkhianatan G 30 S/PKI karya Arifin C.Noor yang sangat populer di paruh tahun 80-an? Dalam dialognya, sesama anggota PKI (Partai Komunis Indonesia) saling menyapa dengan sebutan “kawan” (Kawan Sam, Kawan Aidit, dll). Kurang lebih seperti itulah arti kata “dong mu”.

Dong Mu menjadi judul novel kelima Jamal karena mengambil setting cerita di Negeri Ginseng. Tokohnya seorang pria Indonesia, Herman, staf Departemen of Safeguard International Atomic Energy (IAEA), sebuah organisasi PBB yang mengurusi energi nuklir. Bermarkas di Wina, Austria, IAEA bertugas mengawasi penggunaan tenaga nuklir di setiap negara agar tidak dipakai sebagai senjata pemusnah yang membahayakan umat manusia.

Korea Utara adalah salah satu negara yang memiliki reaktor nuklir cukup besar di Asia. Pada 5 Juli 2006, negeri di bawah pimpinan Presiden Kim Jong Il itu diam-diam meluncurkan peluru kendali (rudal) dalam rangka uji coba di laut Jepang. Peristiwa tersebut sangat mengejutkan dunia, khususnya Amerika Serikat selaku negeri adi kuasa yang selalu merasa diri sebagai polisi dunia itu. Seluruh dunia khawatir rudal tersebut berhulu ledak nuklir yang apa bila meledak dapat mengakibatkan bencana besar bagia kemanusiaan.

Kejadian itu membawa Herman tiba di Seoul, Korea Selatan, untuk mengulik kebenaran fakta langsung dari sumbernya. Namun, alih-alih memperoleh informasi yang diperlukan, Herman malah terseret dalam sebuah upaya penculikan seorang agen CIA, Robert Campbell, yang dilakukan oleh pihak intelejen Korea Utara. Mereka meminta tebusan berupa uranium sebanyak 50 kilogram. Jumlah yang sangat cukup untuk menghancur-leburkan dunia.

Keterlibatan Herman karena ia diminta pihak Korea Utara sebagai perantara yang akan menyerahkan barang tebusan tersebut. Dengan alasan kemanusiaan, akhirnya Herman tak sanggup mengelak dari “tugas” yang penuh risiko itu. Bersama tentara Korea Selatan dan Amerika, ia melaksanakan operasi pembebasan Campbell. Turut serta dalam petualangan itu Prof.Rukayadi, ahli mikrobiologi Indonesia sahabat Herman yang telah lama menetap di Seoul.

Lagi-lagi, Jamal yang asli Tasikmalaya ini membuat cerita berlatar belakang luar negeri. Kali ini ia (mencoba) berkelana ke Korea meskipun ia belum pernah menginjakkan kaki di negeri yang diramalkan akan menjadi salah satu Macan Asia ini. Permasalahan politik yang berakar pada soal ideologi antara Korea Utara dan Selatan “dimanfaatkan” Jamal untuk memperkaya novelnya ini. Tidak cukup dalam sih, karena memang Dong Mu tidak berambisi menjadi sebuah novel politik.

Tema yang kali ini diusung Jamal lumayan berat sebetulnya. Tetapi sayangnya tidak lalu menjelma novel yang cukup berbobot. Malah cenderung cetek dan enteng-enteng saja. Usahanya menghadirkan plot beraroma thriller tak cukup berhasil kendati telah disiasati dengan gaya cerita spionase ala James Bond. Penyelesaian masalah yang mestinya cukup serius itu terkesan terlalu gampang.

Yang menarik “spionnya” adalah Herman, orang Melayu; sedangkan korbannya adalah Campbell, agen CIA. Menarik sebab selama ini Amerika dengan CIA-nya nyaris selalu digambarkan sebagai pahlawan yang tak terkalahkan. Namun, dalam Dong Mu, dengan usilnya Jamal menjungkirbalikkan gambaran tersebut.

Sebenarnya jika penulis yang juga dosen ITENAS ini mau membebaskan diri dari keharusan menyampaikan pesan moral tentang bahaya penggunaan nuklir sebagai senjata pemusnah, barangkali Dong Mu akan jauh lebih asyik dinikmati sebagai semata-mata novel spionase. Tentu dengan menggali lebih dalam lagi informasi dan data bagi kisah dengan tema besar ini. Di sini, ia jadi tidak fokus lantaran sibuk mengampanyekan perdamaian dunia dan anti senjata nuklir.

Jamal juga terlihat kelewat nasionalis dengan menjadikan Herman dan Prof.Rukayadi sebagai pahlawan. Boleh saja sih berbangga-bangga dengan negeri sendiri sepanjang itu rasional dan sesuai fakta. Tetapi jika sebaliknya, apa malah tidak akan jadi lelucon saja?***

endah sulwesi 9/12

Tidak ada komentar: