Selasa, 09 September 2008

Olenka


Judul buku: Olenka
Penulis: Budi Darma
Penerbit: Balai Pustaka
Cetakan: Keempat, 1992
Tebal: 232 hlm.



Budi Darma, sedikit dari begawan sastra yang kita miliki, mengaku menulis masterpiece-nya ini hanya dalam waktu tiga minggu saja. Diawali oleh perjumpaan beliau dengan seorang perempuan di sebuah lift gedung Tulip Tree di Bloomington, Amerika Serikat pada 1979. Saat itu musim dingin dengan suhu udara yang, seperti ditulisnya, sangat kurang ajar. Beliau hampir tertinggal lift, namun untungnya seorang wanita yang telah lebih dulu ada dalam kotak itu membukakan pintu dan mempersilakannya masuk. Wanita itu bersama tiga orang bocah lelaki dekil dan kumal. Oleh karena wajah ketiga bocah tersebut mirip dengan si wanita, Budi Darma sempat mengira mereka adalah ibu dan anak-anaknya. Tetapi ternyata sangkaannya keliru.


Sesampai di kamar apartemennya, Budi Darma segera mengambil mesin tulis hendak membuat cerpen berdasarkan pengalamannya berjumpa dengan wanita dan tiga bocah gelandangan itu. Tetapi, ia tak bisa berhenti menulis sehingga bukan lagi cerpen yang dibikinnya melainkan novel. Maka, sesudah tiga pekan lahirlah Olenka. Empat tahun kemudian (1983) novel tersebut diterbitkan oleh Balai Pustaka.


Seingat saya, pertama kali saya membaca novel yang memenangi Hadiah Sastra Dewan Kesenian Jakarta tahun 1983 ini, saat saya duduk di bangku SMP. Bukunya saya pinjam di perpustakaan sekolah. Tak ada yang tersisa dari pembacaan saya kecuali ingatan tentang Olenka yang gemar membaca buku di taman. Selebihnya, gelap.


Maka, ketika saya membaca kembali buku ini, saya seperti membaca sebuah buku yang belum pernah saya baca sama sekali.


Baiklah, baiklah. Saya harus kasih empat bintang untuk novel ini. Novel ini benar-benar membuat saya terpukau, tertawa, dan berkali-kali bergumam : “Sinting! Benar-benar sinting!”


Yang sinting itu bukan pengarangnya tentu. Kalau “makian” itu saya tujukan untuk pengarangnya, pasti akan saya beri tanda petik di antara kata sinting itu. Sebutan sinting itu saya tujukan kepada para tokoh dalam buku yang sudah beberapa kali mengalami cetak ulang ini.


Pertama, pastilah untuk Fanton Drummond, tokoh utama sekaligus narator dalam kisah yang berseting Bloomington ini, kota tempat Budi Darma pernah tinggal sebagai mahasiswa di Universitas Indiana. Fanton Drummond, bekerja sebagai sutradara pembuat film iklan, adalah seorang dengan masa lalu yang kelam. Ia yatim piatu sejak kecil yang diangkat anak oleh suami istri Drummond. Tetapi itu tidak lama, sebab kedua orang tua angkatnya itu tewas dalam sebuah kecelakaan lalu lintas dan ia harus kembali dipelihara oleh negara. Setamat SMA, Drummond bekerja serabutan sebelum akhirnya memperoleh beasiswa untuk melanjutkan ke universitas. Ia tumbuh menjadi pribadi yang kesepian sehingga kerap bertingkah aneh, seperti menulis surat untuk dirinya sendiri dengan berpura-pura surat tersebut ditulis oleh gadis yang ditaksirnya.


Fanton Drummond jatuh cinta dan menjalin affair dengan Olenka, istri Wayne Danton, suami pecundang yang terobsesi menjadi penulis besar. Masa silam Olenka tak kalah gelap dibanding kekasihnya, Fanton. Ia memiliki bakat besar menjadi pelukis, tetapi kedua orang tuanya tak mendukung cita-citanya. Ia pernah terlibat cinta sejenis dengan seorang perempuan yang disebutnya Winifred, diambil dari nama tokoh dalam novel The Rainbow karya D.H. Lawrence. Agar ia tetap dianggap “normal”, maka kemudian ia menikahi Wayne Danton.


Suami Olenka ini juga tak kurang “sakit”-nya. Ia terobsesi menjadi seorang penulis besar sehingga tidak sudi melakukan pekerjaan lain kecuali menulis. Dari sekian banyak cerita yang ditulisnya, hanya beberapa biji saja yang berhasil dimuat koran. Sementara itu, Olenka dibiarkan bekerja menafkahi rumah tangga mereka dan ia sendiri lebih suka menganggur, menjadi parasit.


Begitulah. Dalam novel ini Budi Darma menyajikan sebuah pertunjukan drama manusia dengan karakter-karakter yang “sakit”, yang hidupnya senantiasa terbentur-bentur dan tidak malu mengakui sisi buruk dirinya. Sebab bagi Budi Darma, manusia adalah makhluk yang penuh luka, hina dina, dan sekaligus agung dan anggun. Manusia bukanlah makhluk yang enak (hlm.224). Tokoh-tokoh dalam Olenka bukanlah para pahlawan. Mereka hanya manusia biasa yang jujur dan berani berterus terang ihwal diri mereka yang sebenarnya.


Membaca buku ini, sekejap saya teringat novel karya satrawan Rusia Fyodor Dostoyesky, Crime and Punishment, yang juga meneropong jauh ke dalam pergumulan jiwa manusia. Menurut Budi Darma, begitu kita terjun ke dalam pikiran seseorang, kita akan mengetahui betapa kayanya pikiran orang itu dan kita dapat bercerita banyak mengenainya. Pada hakikatnya, masih mengutip sastrawan berusia 71 tahun ini, setiap orang adalah Immanuel Kant. Hidupnya terkungkung, akan tetapi pikirannya berloncatan ke sekian banyak dunia.


Dengan demikian, tidaklah mengherankan jika kemudian ia banyak menciptakan karakter-karakter kuat yang gelap dan riuh bergelut menemukan jati diri. ***




Senin, 01 September 2008

Harry dan Geng Keriput


Judul buku: Harry and The Wrinklies
Judul asli: Harry dan Geng Keriput
Penulis: Alan Temperley
Penerjemah: Hidayat Saleh
Editor: Poppy Damayanti Chusfani
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Mei 2008
Tebal: 336 hlm.

Harry yang ini bukan Harry Potter tapi Harry Barton, meskipun mereka sama-sama bocah lelaki yatim piatu pada usia yang masih sangat muda. Mereka sama-sama orang Inggris. Mereka kemudian juga sama-sama dititipkan di rumah bibi mereka. Bedanya, Harry Barton bukanlah penyihir seperti halnya Harry Potter.

Harry Barton mungkin sedikit lebih beruntung dari Harry Potter karena memiliki dua orang bibi yang sangat mengasihinya. Kendati kedua orang bibinya, Bridget dan Florrie, itu lebih pantas disebut nenek-nenek, namun mereka orang-orang tua yang “gaul”. Bersama para bibinya, Harry justru merasa lebih gembira ketimbang sebelumnya sewaktu masih tinggal sendiri di rumah orang tuanya yang besar, hanya ditemani oleh seorang pengasuh jahat bernama Gestapo Lil. Kelak, si nanny yang seharusnya menjaganya ini, malah menjadi musuh besar Harry dan gengnya.

Iya, di rumah bibinya, Lagg Hall, Harry mendapat teman-teman yang menyenangkan. Sebenarnya sih teman-teman kedua bibinya, tetapi kemudian akhirnya menjadi teman-temannya juga. Mereka rata-rata seusia dengan Bibi Bridget dan Bibi Florrie. Sudah pada tua dan keriput. Itulah sebabnya mengapa kemudian mereka menyebut gerombolan itu sebagai Geng Keriput.

Geng Keriput memiliki riwayat yang unik. Mereka di masa lalu adalah orang-orang “nyentrik” yang karena ulah kriminal mereka pernah menghuni sel-sel penjara. Termasuk kedua bibi Harry itu. Aksi “kejahatan” mereka sebenarnya lebih cocok disebut sebagai aksi Robinhood, sebab mereka melakukan pencurian, membobol bank, dan memalsu karya seni, semata-mata bertujuan untuk membantu orang-orang miskin; menyantuni yayasan yatim piatu atau disumbangkan kepada panti-panti sosial lainnya. Dalam aksi mereka, mereka hanya mencuri dan merampok para orang kaya yang kikir yang mendapatkan hartanya dari cara-cara tidak benar.

Geng Keriput ini sudah lama diawasi gerak-geriknya oleh seorang hakim culas, Kolonel Priestly. Dialah yang pernah menjebloskan sebagian anggota Geng Keriput ke penjara dalam sebuah persidangan yang tidak adil. Diam-diam Geng Keriput merencanakan balas dendam. Tentu dengan melibatkan Harry di dalamnya.

Kisah petualangan yang cukup seru dengan jagoan seorang bocah lelaki yang semula diremehkan dan tidak bahagia (hampir selalu begitu, ya?). Bocah malang ini akhirnya justru menjadi pahlawan di pengujung cerita. Harry dan Geng Keriput berhasil menggulung lawan mereka, Kolonel Priestly yang berkolaborasi dengan Gestapo Lil (spoiler yak? :D)

Sebagai sebuah kisah petualangan, Harry dan Geng Keriput cukup menghibur, meski tak luput juga dari kekurangcermatan. Saya menemukan di bab 25. Pada halaman 253 tertulis sebagai berikut: Suatu larut malam tanggal tiga belas Desember, Harry pergi ke tempat pengintaian bersama Bibi Florrie.

Sepenggal narasi di atas itu terasa ganjil jika kita hubungkan dengan bab sebelumnya (bab 24 yang berjudul “Natal di Lagg Hall). Aneh kan jadinya karena pada bab 24 itu diceritakan suasana perayaan natal yang berarti tanggal 25 Desember; sedangkan di bab 25 balik lagi ke tanggal 13 Desember padahal peristiwanya setelah Natal berlalu. Yah, saya jadi “gatal” aja menemukan kekurangcermatan ini. Selebihnya sih saya rasa oke walaupun juga tidak istimewa.

Penulis terkesan menggampangkan dalam mencari sebab Harry menjadi yatim piatu. Juga sulit diterima ihwal kebangkrutan total orang tuanya yang membuat Harry dari seorang anak miliuner dalam sekejap mata menjelma nyaris gelandangan dengan hanya memiliki satu stel pakaian usang yang ukurannya pun sudah kekecilan. Rasanya terlalu berlebihan. Atau mungkin karena saya melihatnya dari kaca mata orang dewasa yang segalanya harus masuk akal dan tidak menerima begitu saja setiap kemungkinan? Bisa jadi sih. Harusnya saya mengeset dulu pikiran saya menjadi kanak-kanak selama membaca buku ini, ya sehingga saya tidak mengeluhkan hal-hal yang terasa kurang pas.

Misalnya lagi soal Kolonel Priestly yang disebut sebagai warga terhormat, harta berlimpah, punya kekuasaan, dan dikenal suka beramal itu, jadi terasa tidak pas ketika diceritakan sibuk menangani dengan tangannya sendiri musuh-musuhnya. Padahal rasanya akan lebih sreg kalau dikisahkan ia memakai tukang pukul atau pembunuh bayaran. Jadinya, buku ini lebih mirip film komedi dengan para penjahatnya kalah secara memalukan dan menjadi bulan-bulanan. Saya membayangkan, kalau difilmkan pasti akan banyak adegan slapstick-nya. Hehehe.

Tetapi baiklah, akhirnya saya harus katakana buku ini asyik kok selama kita tidak terlalu mikir membacanya.

Selasa, 12 Agustus 2008

Namaku, Grace Aja!


Judul buku: Namaku, Grace Aja!
Judul Asli: Just Grace
Penulis: Charise Mericle Harper
Penerjemah: Maria M. Lubis
Penerbit: Atria (Group Serambi)
Cetakan: 2007
Tebal: 107 hlm

Nama aslinya Grace Stewart. Namun, lantaran di kelasnya ada empat tiga anak lain lagi yang juga bernama Grace, maka masing-masing Grace mendapat sebutan sendiri untuk membedakannya. Dan meski tidak suka, Grace Stewart tak mampu menolak ketika akhirnya guru dan teman-temannya sepakat memanggilnya Grace Aja (dan bukan “Grace” aja).

Seperti lazimnya anak-anak, Grace senang melakukan dan ingin tahu tentang banyak hal. Beruntunglah Grace karena memiliki orang tua yang membebaskannya melakukan apa saja dan memberikannya bukan saja pendidikan yang baik tetapi juga terutama cinta dan kasih sayang. Dan sebagaimana anak-anak, Grace juga ingin jadi pahlawan layaknya tokoh-tokoh komik yang dibacanya. Tetapi, Grace juga tahu, untuk menjadi pahlawan seseorang tak perlu menjadi manusia super. Orang biasa seperti dirinya pun bisa jadi pahlawan, sebagaimana di acara tivi favoritnya.

Buku ini memikat selain karena dilengkapi ilutrasi keren juga teristimewa karena cara penyampaiannya yang membiarkan si Grace bertutur sebagai aku. Tak ada wejangan dan nasihat yang menggurui. Plotnya mengalir menurut sudut pandang seorang bocah perempuan yang senang menggambar komik dan selalu ingin menghibur orang lain. Bahasa yang dipergunakan juga sangat mudah dipahami oleh pembaca anak-anak sekaligus menyenangkan bagi orang dewasa.

Kejadian-kejadian yang dikisahkan Grace adalah hal sehari-hari yang kerap dialami oleh bocah seumurnya: teman yang menyebalkan, persahabatan, tetangga yang tampak aneh, hewan peliharaan, ibu guru di sekolah…..Yah, pokoknya hal-hal “remeh” semacam itulah. Bagi Anda yang punya anak atau keponakan seusia Grace tentu tidak asing lagi dengan hal-hal yang saya sebut di atas. Anda pasti pernah dibuat takjub oleh “mutiara-mutiara” kecil itu serta sering dibikin terkejut oleh cara berpikir dan cara mereka menyelesaikan masalah, bukan? Itulah kanak-kanak, makhluk paling indah yang sanggup membuat kita melakukan apapun demi mereka.

Oleh Harper, tema sederhana itu diolah sedemikian rupa melalui kaca mata Grace kecil menjadi bacaan ringan segar yang bikin kita ingin membacanya lagi. Bagi saya, membaca buku ini seperti sedang mendengarkan keponakan saya bercerita. Dengan cara khas kanak-kanak, Harper memunculkan persoalan untuk kemudian menyelesaikannya secara menarik, kocak, dan menggemaskan.

Meski agak berbeda (dan tanpa bermaksud membandingkan), saya jadi ingat serial Anastasia Krupnik. Penulisnya, Lois Lowrey juga tak pernah berpretensi menggurui khalayak pembacanya, dalam hal ini remaja, dengan petuah-petuah membosankan seperti halnya seorang ibu cerewet. Pesan-pesan moral disampaikan secara cerdas lewat dialog atau contoh kasus. Tokoh favorit saya dalam buku tersebut adalah suami istri Krupnik. Mereka adalah model orang tua keren : egliter, demokratis, dan penuh cinta. Sayang, edisi Indonesianya hanya diterbitkan sampai buku ketiga saja dari sembilan judul yang ada. Entah, apakah Serambi lewat lini Atria akan menerbitkan seluruh judul serial Just Grace ini, kita tunggu saja.

Baik Grace atau pun Anastasia bukanlah anak-anak dari orang tua yang kaya raya. Mereka berasal dari keluarga ekonomi menengah yang tahu betul cara “modern” mendidik anak-anak sekarang. Bukan dengan limpahan harta tetapi dengan perhatian, kasih sayang, serta penghargaan sebagai manusia. Mereka sadar betul bahwa anak-anakpun memiliki hak yang sama sebagai manusia. Seandainya semua orang tua di dunia seperti mereka…

Buku Just Grace ini oleh Charise Harper dibuat berseri. Sudah ada 4 judul yang ditulisnya: Just Grace, Still Just Grace, Just Grace Walks the Dog, dan Just Grace Goes Green. Selain itu, ia juga telah menulis buku-buku lainnya, seperti Fashion Kitty yang juga berupa kisah serial. ***

Minggu, 03 Agustus 2008

Niskala


Judul buku: Niskala
Penulis: Hermawan Aksan
Penyunting: Imam Risdiyanto
Penerbit: Bentang
Cetakan: I, Juli 2008
Tebal: 289 hlm

Tidak mudah memadukan fakta sejarah dengan fiksi dan tak banyak penulis yang mampu melakukannya dengan baik. Salah satu yang terbaik, siapa lagi kalau bukan, Pramoedya Ananta Toer. Lihat saja bagaiman ia dengan piawainya menghaturkan sejarah kerajaan Singasari lewat novel Arok-Dedes. Kisah kerajaan Mataram melalui tuturan memikat dalam buku gemuk Arus Balik. Dan tentu masterpiece-nya Bumi Manusia , episode awal tetraloginya itu, yang menyoal riwayat hidup Raden Mas Adi Suryo, tokoh pers pertama Indonesia.

Di belakang Pram, ada banyak lagi penulis fiksi sejarah yang cukup rajin dan konsisten dengan jalur yang dipilihnya, antara lain: Remy Sylado, Langit Kresna dengan serial Gajah Mada-nya serta Hermawan Aksan. Nama yang terakhir ini, sama halnya dengan Langit Kresna, menuliskan kembali riwayat Gajah Mada hanya dengan perspektif yang berbeda. Hermawan Aksan mengambil sudut pandang dari Kerajaan Sunda lewat kisah dramatis Dyah Pitaloka yang konon bunuh diri di padang Bubat saat rombongannya dicegat dan dibantai oleh pasukan Majapahit di bawah pimpinan Mahapatih Gajah Mada. Persitiwa tersebut kemudian kita kenal sebagai Perang Bubat; perang yang menimbulkan luka sejarah di antara orang Sunda dan Jawa. Bekasnya masih terus mengabadi hingga kini. Sampai-sampai di Bandung serta kota-kota Jawa Barat lainnya tidak terdapat jalan yang memakai nama Gajah Mada dan Hayam Wuruk.

Cerita Perang Bubat itu ada dalam novel Dyah Pitaloka yang ditulis Hermawan pada 2003. Rupanya penulis yang juga wartawan Tribun Jabar ini tidak puas hanya sampai di perang Bubat. Ia kemudian melanjutkannya dalam novel terbarunya, Niskala dengan tambahan subjudul Gajah Mada Musuhku (kenapa juga harus ada tambahan judul ini?)

Niskala adalah nama adik lelaki Dyah Pitaloka yang sewaktu ditinggal pergi kakaknya itu baru berusia 9 tahun. Kematian ayahanda dan kakaknya semata wayang di tegal Bubat akibat ulah Gajah Mada diam-diam telah menyemaikan benih dendam dalam hati bocah kecil itu yang tujuh tahun kemudian bertekad membalaskannya.

Maka, Niskala yang memiliki nama kecil Anggalarang itu pun berangkatlah menuju Majapahit guna menantang duel sang mahapatih perkasa Gajah Mada. Kisah selama perjalanannya inilah yang dituturkan bagai cerita silat oleh Hermawan yang sangat terkesan pada kisah Panji Tengkorak (Hans Jaladara) serta Nagasasra dan Sabuk Inten (S.H. Mintardja). Sebenarnya menarik andai saja Hermawan bisa menghindar dari pengulangan-pengulangan adegan perkelahian yang terasa monoton.

Jika mesti membandingkan dengan novel pertamanya, saya lebih suka yang pertama. Pada Dyah Pitaloka selain unsur sejarahnya lebih pekat, juga gagasan yang disampaikannya lebih dalam : mendekonstruksi citra Gajah Mada yang selama ini kondang sebagai figur pahlawan dalam novel tersebut berbalik menjadi si biang keladi yang culas. Sementara itu, Niskala hanya bertumpu pada upaya pembalasan dendam.

Jelas novel Niskala ini lebih banyak kandungan fiksinya ketimbang fakta sejarahnya. Maka, kelirulah kalau kita menjadikannya sebagai acuan sejarah, karena meskipun di dalamnya terdapat nama dan peristiwa yang bersangkutan erat dengan riwayat Majapahit serta Kerajaan Sunda yang mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Prabu Siliwangi itu, akhirnya hanya sebagai “tempelan” saja demi memperkuat lakon. Namun, itu toh sah-sah saja dalam sebuah karya fiksi, bukan?***

Senin, 28 Juli 2008

Kacapiring


Penulis: Danarto
Penyunting: Yusi Avianto Pareanom
Penerbit: Banana
Cetakan: I, 2008.
Tebal: 148 hlm.

Andai tidak membaca nama penulisnya, sekilas buku ini mungkin akan dikira buku desain interior karena kovernya yang bergambar satu set meja makan di sudut ruangan di bawah jendela kaca (ya, jendela kaca, bukan kaca jendela, nama jalan tempat penerbit Banana berdomisili. Hehehe.) Setelah kita cermati barulah akan terlihat tulisan “cerpen” di sudut kanan atas dan nama penulisnya, Danarto, persis di bawah judulnya.

Danarto, meski telah menulis novel, namun publik pembaca sastra negeri ini lebih mengenalnya sebagai cerpenis. Ia telah menggeluti dunia penulisan fiksi sejak masih remaja. Cerpen-cerpennya dikenal beraliran surealis atau ada juga yang menyebutnya sebagai realisme magis. Belakangan, karya-karyanya terasa lebih relijius, bicara tentang spiritual dan semangat keagamaan (Islam).

Tak terkecuali dalam buku yang berisi 18 cerita pendek ini. Cerpen-cerpen relijius mendominasi disusul kemudian tema-tema realitas sosial dengan tetap berada di jalur sureal.

Lihat saja, misalnya, cerpen berjudul “Lauk dari Langit” (hlm.58). Dari judulnya pun kita sudah bisa menduga “benda”-nya. Cerpen ini berkisah tentang satu keluarga petani miskin yang tiba-tiba mendapat karunia hujan ikan dari langit. Begitu banyaknya, sampai-sampai mereka kebingungan hendak diapakan ikan-ikan tersebut.

Lalu ada lagi yang tak kalah “magis”-nya, yakni “Jejak Tanah” (hlm.20) yang bertutur ihwal sesosok jenazah yang ditolak bumi lantaran semasa hidupnya orang yang kini telah jadi jenazah itu pernah berlaku sewenang-wenang membebaskan tanah rakyat untuk pembangunan sebuah real estate. Temanya memang agak mirip dengan sinetron hidayah di televisi yang marak beberapa waktu lalu, ya?

Lalu ada juga “Pohon Rambutan” (hlm.84). Sebatang pohon rambutan yang tumbuh begitu saja di tepi jalan, di tepi sawah. Tak bertuan, tak berteman. Ia sudah ada sejak jaman Jenderal Sudirman berperang melawan Belanda. Buahnya selalu lebat dari musim ke musim, dinikmati oleh siapa saja. Pohon ini menjalin persabahatan dengan seorang lelaki. Sebuah pertemanan yang abadi, sejak si lelaki masih belia hingga tua renta. Saya kok menafsirkannya sebagai “persahabatan” antara Golkar (partai berlambang pohon beringin itu) dengan penguasa Orde Baru yang barusan meninggal, Soeharto.

Ada satu cerpen terpanjang (aneh ya kalimat saya, cerpen kok panjang?) di buku tipis ini, yaitu “Alhamdulillah, Masih Ada Dangdut dan Mi Instan” (hlm.114). Dengan menarik dan jenaka, Danarto mendongeng tentang perjalanan panjang kehidupan seorang Slamet yang mengalami jatuh bangun sejak jaman sebelum kemerdekaan hingga era reformasi. Melalui tokoh jelata Slamet, Danarto menjadikan cerpen ini semacam catatan dan kritik kepada pemerintah–tak peduli rezim manapun yang berkuasa–kerap menindas rakyatnya dengan mengatasnamakan kepentingan negara. Cerpen ini juga menggambarkan karakter umum rakyat kecil yang bukan saja nrimo tetapi sekaligus juga ulet dan tahan banting meskipun berulangkali didzalimi. Rakyat kecil terbukti memiliki kekuatan sendiri untuk bertahan hidup di negeri yang carut-marut.

Musibah banjir yang sempat menenggelamkan Jawa Timur dan sekitarnya tak luput dari jamahan Danarto. Ia mengabadikannya dalam “Pantura” (hlm. 108). Atau soal riuh rendah UU Antipornografi, diresponsnya melalui “Telaga Angsa” (hlm. 70).

Tetapi dari 18 cerpen ini, favorit saya adalah “Nistagmus” (hlm. 45). Entah apa artinya kata ini, saya baru menemukannya di cerpen ini. Cerpen yang sebelumnya pernah juga saya baca di Kompas Minggu dan buku Kumpulan Cerpen Terbaik Kompas 2006 ini secara cerdas dan menawan merekam peristiwa gempa besar tsunami yang meluluhlantakkan bumi Serambi Mekah, Nanggroe Aceh Darussalam. “Nistagmus” bercerita mengenai bencana tanpa meratap dan mengiba-iba. Malah cenderung jenaka. Danarto baru memunculkan peristiwa bencana itu pada akhir kisah. Jenius!

Oya, judul Kacapiring diambil dari salah satu cerpen di buku ini.

Karya seseorang sering dianggap sebagai cerminan pribadi orang tersebut. Apakah kehidupan pribadi Danarto juga relijius, saya tidak tahu persis. Saya tak cukup mengenal beliau. Kami hanya bertemu sesekali pada perhelatan dan acara-acara sastra di TIM. Ada satu peristiwa yang mengesankan saya bersama pria kelahiran Sragen, 1940, ini.

Sekali tempo beliau menraktir saya baso di warung paling pojok di TIM. Kami bertiga waktu itu dengan Ita Siregar. Tengah enak-enaknya mengunyah baso sembari ngobrol ngalor-ngidul, seorang bocah lelaki penyemir sepatu menawarkan jasanya. Tanpa ba bi bu, Pak Danarto langsung menyerahkan sepatu sandalnya untuk dipoles. Beliau kemudian menatap juga sepatu kami berdua. Dan kiranya hanya sepatu saya yang paling mungkin untuk disemir. Maka, Pak Danarto yang selalu berbusana putih-putih ini meminta saya untuk memasrahkannya juga kepada si bocah tukang semir. Wah, padahal saya paling malas meladeni para penyemir ini. Sama malasnya seperti kepada tukang asongan atau pengamen. Tetapi kali ini apa boleh buat.

Setelah selesai sepatu kami dibuat separuh mengilap, Pak Danarto pun membayar upahnya. Beliau bukan cuma membayar untuk sandalnya tetapi juga sekalian untuk sepatu saya. Walah, saya jadi malu sekali. Bukan lantaran ditraktir dua kali–baso dan semir–namun karena seperti disentil dan disadarkan betapa saya selama ini sudah jadi orang yang pelit.

Akan tetapi kalau saya katakan, bahwa buku ini layak dinikmati terutama bagi para penggemar cerpen, itu bukan lantaran saya pernah ditraktir beliau loh, ya. ***

Senin, 21 Juli 2008

Bilangan Fu


Judul buku: Bilangan Fu
Penulis: Ayu Utami
Penerbit: KPG
Cetakan: I, 2008
Tebal:

Setelah Saman terbit (1998) dengan segala kehebohannya, citra penulis vulgar seolah-olah melekat pada diri pengarangnya, Ayu Utami (40). Citra ini bahkan tersiar sampai ke luar Indonesia. Fakta ini baru saya ketahui kira-kira dua minggu silam dari percakapan saya dengan 6 orang teman dari Malaysia yang mengaku sebagai “ulat buku”, sebutan di negeri jiran itu untuk kutu buku. Saat mereka berkunjung ke Jakarta pada acara Pesta Buku Jakarta 2008 yang lalu, mereka emoh menuruti saran saya untuk juga membeli (dan membaca) novel-novel Ayu Utami selain tetraloginya Pram lantaran kabar yang mereka dengar buku-buku Ayu itu porno.

Citra porno yang telanjur menempel pada perempuan lajang bertubuh ramping ini juga sempat membuat teman-teman saya yang hendak membeli (dan membaca) buku ini mempertanyakan : masih sejenis nggak ya buku ini dengan Saman?

Setamat saya membaca novel setebal 500-an halaman ini, saya baru bisa mengatakan, bahwa buku ini berbeda dengan karya Ayu terdahulu, Saman dan Larung.

Bilangan Fu barangkali akan menjadi sebuah cerita yang “berat” seandainya Ayu tidak menuliskannya dengan bahasa yang gurih, sebab ia, novel ini, memuat gagasan dan kritik Ayu pada tiga hal yang dianggapnya sebagai ancaman kebebasan dan demokrasi, yakni 3 M: modernisme, monoteisme, dan militerisme. Tema yang serius, bukan? Namun, secara cerdik Ayu menyiasatinya melalui jalinan kisah dua pemuda pendaki tebing yang tampan dan cerdas: Yuda dan Parang Jati.

Kedua lelaki muda yang sehat itu menjadi simbol dan sekaligus para pahlawan di novel ini yang memerangi segala bentuk penzaliman dan penganiayaan kepada alam dan manusia. Yuda dan Parang Jati tidak berdiri berseberangan sebagai dua orang seteru, tetapi justru saling bahu-membahu menjadi protagonis melawani musuh bersama: 3 M itu.

M yang pertama, modernisme, menurut Ayu menjadi penyebab utama rusaknya lingkungan akibat eksploitasi manusia modern yang kelewat batas dan lupa menghormati alam. Manusia modern tak percaya lagi pada segala bentuk keramat dan cerita-cerita takhayul ihwal roh-roh halus penunggu pohon besar, sungai, gunung, dan samudera. Padahal kepercayaan pada takhayul dan keberadaan roh-roh halus yang dahulu “diimani” oleh masyarakat adat telah mampu menyelamatkan alam dari kebinasaan. Kerena percaya bahwa setiap benda dan tempat ada yang punya, mereka tak berani berlaku sewenang-wenang. Tetapi kini seiring dengan semakin lunturnya kepercayaan tersebut, semakin parahlah perusakan yang terjadi.

Kritik dan kampanye anti-perusakan lingkungan ini disampaikan Ayu dengan memilih dunia panjat tebing sebagai latar kisahnya. Yuda dan Parang Jati mengenalkan agama baru mereka : pemanjatan bersih atau yang lebih ekstrem lagi sacred climbing, yaitu teknik memanjat dengan sesedikit mungkin atau sama sekali tidak melukai tebing-tebing dengan alat-alat panjat modern seperti bor dan paku.

M yang kedua adalah monoteisme. Ayu meyakini, bahwa agama-agama langit yang monoteis memiliki persoalan mendasar dalam menerima perbedaan. Ayu menggambarkannya melalui permusuhan antara Kupukupu dan Parang Jati. Kupukupu adalah lambang mereka yang merasa diri paling benar dengan agama yang mereka peluk dan lalu merasa berhak mengadili serta mengkafirkan orang lain yang menganut kepercayaan yang berbeda dengannya. Mereka tak menyisakan ruang bagi perbedaan. Fundamentalis, begitulah tepatnya. Pada bagian inilah Ayu memperkenalkan filosofi bilangan fu yang lebih bermakna metaforis ketimbang matematis. Ini menyangkut pengertian akan Tuhan yang satu yang sering diartikan secara matematis.

Dan M yang ketiga adalah militerisme. Pendapat Ayu bahwa militerisme merupakan musuh utama demokrasi berangkat dari masa Orde Baru, di mana peran militer sangat dominan. Dengan kekuatan dan caranya sendiri, militer menebar teror, ketakutan, dan kekerasan di masyarakat demi mempertahankan kekuasaan. Kebebasan pers dibungkam, acara-acara seni dan sastra dimata-matai, diskusi dan kumpul-kumpul dianggap makar, sebversi. Kita yang sempat mengecap hidup di masa gelap tersebut tentu tahu betul rasanya.

Novel dengan beban gagasan seberat itu tentu akan terasa membosankan jika tak pandai-pandai mengemas dan menyajikannya. Bilangan Fu nyaris terjerumus menjadi novel demikian seandainya Ayu hanya fokus pada ide besarnya itu dan melupakan unsur-unsur “hiburan” dalam bukunya ini. Unsur-unsur hiburan itu di antaranya bumbu seks, asmara, dialog-dialog yang bernas, plot yang tidak linear, dan humor. Kendati saya sempat terserang jenuh juga oleh banyaknya kutipan kliping surat kabar dan majalah, “artikel” serius Parang jati, serta dialog panjang lebar Yuda dan Parang Jati yang sangat ilmiah, namun secara keseluruhan novel ini enak dibaca.

Lantas, bagaimana dengan cinta segitiga seperti yang diiklankan dalam sinopsis di sampul belakang buku ini? Ah, rasanya saya tidak menemukan adanya asmara tiga sisi di novel ini. Ayu tidak pernah secara terang-terangan menampilkan percintaan segitiga antara Yuda, Marja, dan Parang Jati. Marja itu pacar Yuda yang dengan tersirat dan samar-samar–melalui dugaan-dugaan Yuda–diceritakan juga menaruh hasrat kepada Parang Jati. Jadi, jika Anda berharap akan bertemu kisah cinta segitiga yang menggelora dalam novel ini, siap-siaplah kecewa.***

Jumat, 04 Juli 2008

Children of The Lamp


Judul buku: The Children of The Lamp; The Akhenaten Adventure
Penulis: P.B. Kerr
Penerjemah: Utti Setiawati
Penyunting: Akmal N.B. & Fahmi
Penerbit: Matahati
Cetakan: I, 2008
Tebal: 416 hlm

Anda percaya jin? Percaya penuh atau separuh atau justru tidak percaya? Saya sih rada-rada tidak percaya, sebab belum pernah bertemu langsung dengan makhluk yang berasal dari alam gaib itu. Memang sih, dalam ajaran agama saya, Islam, keberadaan bangsa jin diakui. Malah ada yang menggolongkannya dalam 2 jenis: jin kafir dan jin Islam. Yang pertama itu adalah jin jahat yang tidak mau menuruti perintah Tuhan; sedangkan yang terakhir jin saleh yang selalu mematuhi penciptanya.

Jin yang saya ketahui hanyalah jin-jin dalam dongeng-dongeng yang berasal dari Kisah 1001 Malam. Tentu saja yang paling terkenal adalah jin yang keluar dari lampu ajaib milik Aladin. Atau kalau hendak mengembara ke masa kecil saya adalah jin cantik berambut pirang bermata biru dalam serial tivi era ’70-an : I Dream of Jeannie. Jin perempuan ini tinggal dalam botol dan pandai menyihir. Ia akan mengabulkan setiap permintaan majikannya yang tampan.

Baiklah. Rasanya cukuplah cuap-cuap tentang jin sebagai pengantar ulasan saya untuk buku fantasi Children of The Lamp. Mengapa jin? Ya sebab buku ini berisi dongeng khayalan ihwal jin hari ini yang hidup dan tinggal di tengah-tengah manusia (di sini disebut mundane; sedangkan di Harry Potter Rowling memakai istilah muggle).

John dan Philippa baru tahu kalau diri mereka ternyata berdarah campuran separuh jin dan separuh manusia. Ibu mereka yang jelita, Layla, berasal dari bangsa jin yang menikahi Edward Gaunt, pria Amerika.

Layla tidak mengira kedua anak kembarnya menjelma jin jauh lebih cepat dari yang diharapkan. Pada usia 12 tahun mereka kudu menerima takdir mereka sebagai jin muda yang ditandai oleh tumbuhnya gigi geraham bungsu. Dokter gigi mereka menganjurkan agar gigi-gigi tersebut dicabut melalui operasi.

Saat menjalani operasi itulah, dalam kondisi tidak sadar karena anestesi, kedua kembar berjumpa dengan Nimrod, paman mereka yang tinggal di London. Dalam pertemuan tersebut Nimrod meminta mereka untuk datang ke London dan berjanji akan melatih mereka menjadi jin yang keren.

Maka, lantas John dan Philippa terbang ke London. Di sana Nimrod menepati janjinya melatih mereka hidup sebagai jin : masuk ke dalam botol, berubah wujud, meniadakan dan mendatangkan benda-benda, dll. Nimrod tak semata-mata mengajarkan, tetapi juga mempersiapkan keduanya untuk menghadapi serangan dari jin jahat yang ingin mengembalikan kejayaan mereka seperti di masa lampau. Tanpa mampu dicegah, John dan Philippa tahu-tahu sudah terlibat dalam sebuah petualangan seru di Mesir, menyingkap misteri makam Akhenaten dan para firaun.

Saya sebetulnya tidak begitu suka kisah-kisah fantasi (kecuali Harry Potter yang menurut saya idenya sungguh luar biasa). Tapi sesekali sih boleh juga sebagai selingan. Apa lagi jika ternyata bukunya enak dibaca seperti Children of The Lamp ini.

Buku ini saya bilang enak dibaca lantaran banyak terdapat humor di dalamnya yang bikin tersenyum dan tertawa. Misalnya, pada bagian Groanin yang kepedasan menyantap “creemy special special”. Pelayan Nimrod yang setia dan suka menggerutu ini sampai tak sadar meminum air di vas bunga yang sudah melumut (iiiuuuuuuuh….) untuk menghilangkan rasa pedas yang membakar lidahnya. Saat itu saya kok teringat Squideward, tokoh cumi-cumi dalam film kartun SpongeBob SquarePants.

Dari segi cerita tidak ada yang baru. Artinya, seperti lazimnya buku cerita anak-anak, sangat hitam-putih. Yang baik mengalahkan yang jahat, ada pahlawan dan ada pecundang. Ada petualangan dan keajaiban. Dan yang paling penting ada kegembiraan, satu hal yang membuat saya menyukai buku anak-anak.

Mengenai tokoh-tokohnya yang berasal dari bangsa jin, tentu juga bukan barang asing. Sebagaimana telah saya singgung di atas, jin sudah cukup dikenal anak-anak melalui hikayat Seribu Satu Malam.

So, dapat apa kita dari buku karya P.B. Kerr ini? Tentu terutama sekali mendapatkan penghiburan. Selanjutnya adalah pengetahuan lebih dalam lagi ihwal firaun dan seluk-beluk per-jin-an. Itu pun kalau Anda rela memercayainya.***