Senin, 31 Desember 2007

FIKSI SEJARAH DALAM KEMASAN THRILLER


Judul buku: Rahasia Meede
Penulis: E.S. ITO
Penyunting: Yulia Fitri
Penerbit: Hikmah
Catakan: I, Agustus 2007
Tebal: 671 hlm

“Dosa manusia yang terbesar adalah imajinasinya yang kadang-kadang berlebihan,” demikian Eddri Sumitra atau yang lebih dikenal dengan nama E.S. Ito itu menjawab pertanyaan saya pada satu kesempatan ngobrol dengannya. Pertanyaan saya waktu itu adalah tentang dari mana ia mendapat ide soal harta karun VOC yang menjadi tema novel keduanya, Rahasia Meede. Novel dengan subjudul Misteri Harta Karun VOC ini ditulisnya dalam kurun waktu dua tahun. Itu sudah termasuk riset dan wawancara dengan orang-orang yang dijadikan nara sumber. Selebihnya, Ito memanfaatkan kecenderungan masyarakat kita yang telah lama hidup dengan mitos-mitos di seputar harta terpendam, Imam Mahdi, dana revolusi, dan segala yang serbamistis.

Isu adanya harta karun VOC di perut bumi Jakarta ini dijadikan pintu masuk Ito ke dalam penulisan novel yang sarat data sejarah ini. Dari sini, Ito membawa pembaca menyusuri sejarah panjang VOC yang mau tidak mau terkait erat dengan sejarah jatuh bangunnya Republik kita ini.

Keliaran fantasi anak muda kelahiran Kamang, 26 tahun silam ini selanjutnya akan menyeret kita kepada peristiwa-peristiwa bersejarah di masa silam; mempertemukan kita dengan pemikiran-pemikiran Gandhi dan Muhammad Hatta, dua tokoh yang sangat dikaguminya.

Bermula dari ide perlawanan tanpa kekerasan yang diyakini oleh Hatta dan Gandhi yang dalam novel ini telah disalahartikan oleh sekelompok orang yang menyebut diri Anarki Nusantara untuk melegalkan perbuatan mereka memberontak kepada negara.
Awalnya, Anarki Nusantara ini adalah sebuah grup diskusi mahasiswa di Yogya yang kerap mengangkat topik sensitif seputar kondisi sosial politik dalam negeri yang menurut mereka carut-marut. Kelompok ini kemudian membesar karena mendapat banyak simpati dari masyarakat. Termasuk Guru Uban, seorang pengajar sejarah di sebuah SMA kumuh di Bojonggede yang kelak terlibat aktif dalam aksi-aksi yang dilakukan komplotan pemberontak ini.

Tanpa disadari oleh para pengikutnya, Anarki Nusantara telah lama menjadi target operasi kalangan militer, khususnya Kopassus. Mereka mengincar Attar Malaka, anak muda cerdas berbakat lulusan SMA Taruna Nusantara (almamater Ito) yang ditengarai sebagai otak Anarki Nusantara. Operasi intelijen itu melibatkan seorang letnan muda berjuluk Lalat Merah. Attar Malaka dijadikan target bukan semata-mata karena perbuatannya melawan negara tetapi karena ia juga dicurigai memiliki informasi perihal harta karun peninggalan VOC.

Maka kemudian terjadilah “perang” antara Attar Malaka dengan Lalat Merah. Perwira muda yang pandai menyamar ini ternyata sahabat lama Attar Malaka. Mereka bersekolah di SMA dan kelas yang sama. Kepada sahabatnya ini, Attar Malaka memercayakan seluruh rahasia hidupnya. Kedua sahabat karib ini sayangnya setelah dewasa terpaksa bersimpang jalan. Yang satu menjadi perwira pengabdi negara, sedangkan yang lainnya berdiri berseberangan sebagai pemberontak.

Lalu dengan caranya yang asyik, melalui kisah perseteruan kedua sahabat yang berbeda ideologi ini, Ito mengajak kita menerobos ke masa ratusan tahun lalu. Mengubek-ubek sejumlah berkas dan dokumen bersejarah; mulai dari berdirinya VOC hingga Konferensi Meja Bundar yang ternyata menyinggung soal harta karun VOC.

Kabar tentang harta terpendam yang diduga nilainya sanggup untuk membayar utang luar negeri Indonesia ini ternyata terendus juga baunya oleh segelintir peneliti di Belanda. Berkedok sebagai peneliti, mereka datang dengan bermacam kepentingan. Salah satunya adalah Cathleen Zwinckel, mahasiswi tingkat master yang tengah menulis tesis ikhwal sejarah ekonomi kolonial. Oleh Prof Huygens, dosen pembimbingnya, gadis cantik ini dititipkan di CSA (Center for Strategic Affair), sebuah lembaga peneliti yang dipimpin oleh Suryo Lelono, sahabat Prof Huygens.

Sungguh malang, baru beberapa hari menikmati udara pengap Jakarta, Cathleen harus mengalami nasib sial diculik oleh gerombolan pemberontak yang diotaki oleh seseorang yang dipanggil dengan nama Kalek. Kalek punya data bahwa Cathleen mengetahui sebuah rahasia dari masa lalu yang akan menggiring mereka menemukan lokasi harta karun VOC. Itulah rahasia Meede.

Pelan-pelan kita disadarkan, bahwa kita tengah bermuka-muka dengan sebuah kisah thriller ala Dan Brown. Teka-teki demi teka-teki dihadirkan di hadapan kita bagaikan potongan-potongan puzzle yang kelak berhubungan satu sama lain dan pada akhirnya menyingkap rahasia dari seluruh teka-teki.

Meski settingnya masa kini, tetapi novel ini sarat memuat data sejarah. Angka tahun dan nama-nama tempat yang berasal dari masa lampau bertaburan di sekujur cerita yang disajikan dalam bentuk dialog para tokohnya. Ini yang menurut saya agak sedikit berlebihan. Boleh dibilang nyaris semua tokohnya pandai dan sangat menguasai sejarah. Mereka mampu bercakap panjang lebar tentang sejarah lengkap dengan menyebut (tanpa keliru) angka-angka tanggal dan tahunnya. Tak peduli itu Kalek di pemberontak, Cathleen si mahasiswi, atau pun Lalat Merah sang perwira penjaga keutuhan NKRI. Mereka memiliki pengetahun yang sama dan seimbang dalam urusan sejarah. Hampir tak ada tokoh pandir dalam novel ini.

Hal ini, menurut hemat saya, karena penulisnya kurang mampu menahan diri untuk tidak pamer pengetahuan. Data yang ditampilkan jadi terasa berjejalan dan kadang terkesan dipaksakan. Semangat Ito sebagai orang muda yang kritis juga acap nyelonong di tengah-tengah dialog. Misalnya tentang sinetron televisi yang hanya mengandalkan tampang indo para artisnya yang tiba-tiba menyeruak di tengah-tengah dialog sejarah. Ito juga sering terdengar sinis mengomentari para pejabat yang korup, tentara yang berbisnis ilegal, atau pun kurikulum sekolah yang hanya menghasilkan manusia-manusia penghapal.

Namun, secara keseluruhan novel ini merupakan bacaan yang menarik. Unsur thriller (dengan kejutan-kejutannya yang tak terduga) dan sejarah menjadi pemikat utamanya. Jika hendak dibandingkan dengan Dan Brown, kelebihan Rahasia Meede adalah karena ia mengambil latar sejarah lokal. Bagi pembaca Indonesia, kejadian-kejadian di masa lampau itu tentu lebih menarik dan terasa akrab.

Keberanian Ito mengawinkan fakta dan fiksi sehingga menghasilkan novel gurih ini perlu dipujikan. Mengingat belum banyak penulis kita yang memanfaatkan lahan subur sejarah tanah air sebagai tema atau latar belakang kisah-kisah fiksi. Dari yang sedikit itu nama besar Pramoedya Ananta Toer sebagai empu belum tergoyahkan.

Oya, ada catatan kecil saya untuk Ito atau editornya agar lain kali lebih teliti. Bukan perkara besar, hanya karena kurang cermat saja. Pada halaman 518, tertulis: Tangannya merogoh rokok dari kantong. Sepanjang pertemuan mereka, baru kali ini dia (Kalek) merokok di depan Cathleen. Padahal di halaman 455, Ito menulis : Pada pertemuan mereka di Banda, Kalek menahan diri untuk tidak merokok. Sekarang dia tidak tahan lagi. Secangkir kopi pahit dan sebatang rokok untuk sebuah perayaan pertemuan.
Dan juga di halaman 541 : Erick mungkin bersama Kalek. Mestinya bukan Erick, tetapi Robert, sebab Erick telah mati bersama Raphael.

Kalau harus memberi bintang, tiga bintang dari saya untuk buku ini.***


endah sulwesi

Minggu, 09 Desember 2007

DONG MU : SEBUAH (MAUNYA) ROMAN SPIONASE MELAYU

Judul buku: Dong Mu
Penulis: Jamal
Penyunting: -
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, September 2007
Tebal: 237 hlm.

“Dong mu” dalam bahasa Korea bermakna sama seperti kamerad dalam bahasa Rusia. Kira-kira dalam bahasa kita artinya kawan (rekan). Biasanya dipakai sebagai panggilan akrab sesama anggota partai komunis. Ingat film Pengkhianatan G 30 S/PKI karya Arifin C.Noor yang sangat populer di paruh tahun 80-an? Dalam dialognya, sesama anggota PKI (Partai Komunis Indonesia) saling menyapa dengan sebutan “kawan” (Kawan Sam, Kawan Aidit, dll). Kurang lebih seperti itulah arti kata “dong mu”.

Dong Mu menjadi judul novel kelima Jamal karena mengambil setting cerita di Negeri Ginseng. Tokohnya seorang pria Indonesia, Herman, staf Departemen of Safeguard International Atomic Energy (IAEA), sebuah organisasi PBB yang mengurusi energi nuklir. Bermarkas di Wina, Austria, IAEA bertugas mengawasi penggunaan tenaga nuklir di setiap negara agar tidak dipakai sebagai senjata pemusnah yang membahayakan umat manusia.

Korea Utara adalah salah satu negara yang memiliki reaktor nuklir cukup besar di Asia. Pada 5 Juli 2006, negeri di bawah pimpinan Presiden Kim Jong Il itu diam-diam meluncurkan peluru kendali (rudal) dalam rangka uji coba di laut Jepang. Peristiwa tersebut sangat mengejutkan dunia, khususnya Amerika Serikat selaku negeri adi kuasa yang selalu merasa diri sebagai polisi dunia itu. Seluruh dunia khawatir rudal tersebut berhulu ledak nuklir yang apa bila meledak dapat mengakibatkan bencana besar bagia kemanusiaan.

Kejadian itu membawa Herman tiba di Seoul, Korea Selatan, untuk mengulik kebenaran fakta langsung dari sumbernya. Namun, alih-alih memperoleh informasi yang diperlukan, Herman malah terseret dalam sebuah upaya penculikan seorang agen CIA, Robert Campbell, yang dilakukan oleh pihak intelejen Korea Utara. Mereka meminta tebusan berupa uranium sebanyak 50 kilogram. Jumlah yang sangat cukup untuk menghancur-leburkan dunia.

Keterlibatan Herman karena ia diminta pihak Korea Utara sebagai perantara yang akan menyerahkan barang tebusan tersebut. Dengan alasan kemanusiaan, akhirnya Herman tak sanggup mengelak dari “tugas” yang penuh risiko itu. Bersama tentara Korea Selatan dan Amerika, ia melaksanakan operasi pembebasan Campbell. Turut serta dalam petualangan itu Prof.Rukayadi, ahli mikrobiologi Indonesia sahabat Herman yang telah lama menetap di Seoul.

Lagi-lagi, Jamal yang asli Tasikmalaya ini membuat cerita berlatar belakang luar negeri. Kali ini ia (mencoba) berkelana ke Korea meskipun ia belum pernah menginjakkan kaki di negeri yang diramalkan akan menjadi salah satu Macan Asia ini. Permasalahan politik yang berakar pada soal ideologi antara Korea Utara dan Selatan “dimanfaatkan” Jamal untuk memperkaya novelnya ini. Tidak cukup dalam sih, karena memang Dong Mu tidak berambisi menjadi sebuah novel politik.

Tema yang kali ini diusung Jamal lumayan berat sebetulnya. Tetapi sayangnya tidak lalu menjelma novel yang cukup berbobot. Malah cenderung cetek dan enteng-enteng saja. Usahanya menghadirkan plot beraroma thriller tak cukup berhasil kendati telah disiasati dengan gaya cerita spionase ala James Bond. Penyelesaian masalah yang mestinya cukup serius itu terkesan terlalu gampang.

Yang menarik “spionnya” adalah Herman, orang Melayu; sedangkan korbannya adalah Campbell, agen CIA. Menarik sebab selama ini Amerika dengan CIA-nya nyaris selalu digambarkan sebagai pahlawan yang tak terkalahkan. Namun, dalam Dong Mu, dengan usilnya Jamal menjungkirbalikkan gambaran tersebut.

Sebenarnya jika penulis yang juga dosen ITENAS ini mau membebaskan diri dari keharusan menyampaikan pesan moral tentang bahaya penggunaan nuklir sebagai senjata pemusnah, barangkali Dong Mu akan jauh lebih asyik dinikmati sebagai semata-mata novel spionase. Tentu dengan menggali lebih dalam lagi informasi dan data bagi kisah dengan tema besar ini. Di sini, ia jadi tidak fokus lantaran sibuk mengampanyekan perdamaian dunia dan anti senjata nuklir.

Jamal juga terlihat kelewat nasionalis dengan menjadikan Herman dan Prof.Rukayadi sebagai pahlawan. Boleh saja sih berbangga-bangga dengan negeri sendiri sepanjang itu rasional dan sesuai fakta. Tetapi jika sebaliknya, apa malah tidak akan jadi lelucon saja?***

endah sulwesi 9/12

Sabtu, 08 Desember 2007

KEPADA CIUM, KEPADA PUISI, KEPADA JOKPIN



Judul buku : Kepada Cium
Penulis : Joko Pinurbo
Penerbit : Pt Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : I – Februari 2007
Tebal : 42 hlm

Kau adalah mata, aku air matamu.

(Kepada Puisi, Joko Pinurbo, 2003)

Kira-kira demikianlah pengakuan tulus Joko Pinurbo kepada puisi, dunia kata-kata yang digelutinya sejak ia masih remaja. Puisi bagi penyair bertubuh ceking yang biasa disapa Jokpin ini, adalah hidupnya. Menyatu. Tak terpisahkan. Bagaikan mata dengan air mata.

“Puisi adalah kekasihku. Adalah kebahagiaanku”, ujarnya saat saya mewawancarainya pada satu kesempatan tahun lalu. “Aku merasa eksis sebagai Jokpin berkat puisi. Aku paling bisa bicara dengan diriku dan dengan dunia di luar diriku melalui puisi”, tambahnya lagi seperti ingin menegaskan betapa puisi adalah segalanya bagi lelaki Jawa kelahiran Sukabumi, 11 Mei 1962 ini.

Dari tubuh yang tampak ringkih itu telah lahir ratusan puisi; di antaranya tertuang dalam 6 buah buku yang sudah kita kenal : Celana (1999), Di Bawah Kibaran Sarung (2001), Pacarkecil (2002), Telepon Genggam (2003), Kekasihku (2004), dan Pacar Senja (2005) serta buku ke tujuhnya yang baru saja terbit : Kepada Cium (2007).

Buat saya yang awam, puisi-puisi penyair ini bagaikan oase menyejukkan tapi sekaligus juga memerihkan hati. Menyejukkan, sebab di sana saya menemukan kejujuran yang relijius, bukan saja kepada Tuhan tetapi juga kepada diri sendiri. Puisi-puisi itu seakan cermin diri kita (manusia) yang serakah dan munafik sembari tetap terus merayu-rayu Tuhan dalam setiap doa-doa kita. Misalnya saja pada puisi Sehabis Sembahyang (hlm 11) dan Di Perjamuan (hlm.30) ini :

Aku datang menghadapmu dalam doa sujudku.
Terima kasih atas segala pemberianmu,
Mohon lagi kemurahanmu : sekadar mobil baru
Yang lebih lembut dan lebih kencang lajunya
Agar aku bisa lebih cepat mencapaimu

(Sehabis Sembahyang, 2005)

Aku tak akan minta anggur darahMu lagi.
Yang tahun lalu saja belum habis,
Masih tersimpan di kulkas.
Maaf, aku sering lupa meminumnya,
Kadang bahkan lupa rasanya.
Aku belum bisa menjadi pemabuk
Yang baik dan benar, Sayang

(Di Perjamuan, 2006)

Dan memerihkan, itu sudahlah pasti. Yang perih-perih menyayat hati itu dengan mudah bisa kita dapatkan, karena sebagian besar puisi-puisi Jokpin merupakan potret/rekaman nasib orang miskin yang berlumur penderitaan, seperti tukang becak umpamanya (dalam buku ini ada 3 puisi tentang tukang becak, profesi yang masih banyak di temukan di Yogyakarta di mana penyair kita ini bertinggal). Kendati demikian, puisi-puisi tersebut tak lantas tampil mewujud berupa puisi cengeng yang mengiba-iba memohon belas kasihan. Malah yang sering terjadi adalah puisi arif yang dengan bijak menertawakan kemalangan :

Tengah malam pemulung kecil itu datang
memungut barang-barang yang berserakan
di lantai rumah : onggokan sepi, pecahan bulan,
bangkai celana, bekas nasib, kepingan mimpi.

Sesekali ia bercanda juga :
“Jaman susah begini, siapa suruh jadi penyair?
Sudah hampir pagi masih juga sibu melamun.
Lebih enak jadi teman penyair.”

Dikumpulkannya pula rongsokan kata
yang telah tercampur dengan limbah waktu.
Aku terhenyak : “Hai, jangan kauambil itu.
Itu jatahku. Aku kan pemulung juga.”

Kemudian dia pergi dan masuk ke relung tidurku.

(Pemulung Kecil, 2006)

Tetapi kali ini yang paling membuat saya begitu tersentuh (percaya nggak? Saya sampai meneteskan air mata membacanya) adalah sajak Harga Duit Turun Lagi (hlm.14). Dalam sajak itu, Jokpin berkisah tentang seorang anak yang mati menggantung dirinya sendiri karena malu telah menunggak uang sekolah selama berbulan-bulan. Kemiskinan yang melilit orang tuanya menyebabkan bocah kecil itu putus asa dan memilih mengakhiri hidupnya yang baru saja mulai. Barangkali, puisi ini dicipta Jokpin karena terinspirasi peristiwa riil serupa yang terjadi di beberapa tempat di tanah air (salah satu kasus ditemukan di Provinsi Jawa Tengah) beberapa waktu silam.

Sajak ini serasa menggedor-gedor perasaan saya. Kebetulan saya membacanya di tengah-tengah ramainya berita perihal pengadaan sejumlah besar laptop seharga 20 juta rupiah untuk para anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Emosi saya yang telah tersulut marah oleh berita tersebut semakin terbakar oleh sajak ini. Alangkah tumpulnya mata hati para pejabat ini, tak terusik oleh realita memilukan yang dialami rakyat seperti bocah malang itu. Untunglah, belakangan usulan sinting yang tanpa nurani itu, dibatalkan.

Untung juga Jokpin tak lupa untuk beromantis-romantis ihwal cinta. Pada puisi Kepada Cium, Magrib ,Wintermachten, 2002, dan Cinta Telah Tiba, kita bisa temukan romantisme yang manis itu. Ia pun sempat pula mengabadikan dua peristiwa bencana alam besar yang pernah menimpa negeri ini, yaitu tsunami di Aceh (Aceh, 26 Desember 2004) dan gempa bumi di Yogya (Surat dari Yogya)

Buku tipis ini seluruhnya memuat 33 buah sajak Jokpin yang dibuat dalam kurun waktu 2005-2006. Sebagian besar telah pernah dipublikasi di harian Kompas.

Menurut saya yang sekadar seorang penikmat puisi, sepanjang kariernya Jokpin telah sukses menelurkan puisi-puisi yang baik dan indah, yakni puisi-puisi yang – seperti pernah dikatakannya – mampu menyentuh dan menghidupkan perasaan dan pikiran; membuat imajinasi makin cerdas; dan bisa menyihir (pembacanya). Dan saya - dengan segala kesadaran serta tanpa paksaan mengakui - adalah salah satu ‘korban’ sihir cium, eh..maksud saya, puisi-puisi itu :)

Endah Sulwesi 1/4

SAJIAN KISAH MISTERI "SANG KOKI" SPANYOL

Judul buku : Little Indiscretion - Rahasia Sang Koki
Judul asli : Pequenas Infamias
Pengarang : Carmen Posadas
Penerjemah : Lina Susanti
Penyunting : Wendratama
Penerbit : Bentang
Cetakan : I – Februari 2007
Tebal : x + 330 hlm

Dari judul (edisi terjemahan Indonesia)-nya, Rahasia Sang Koki, saya sama sekali tidak punya kecurigaan, bahwa novel ini sebuah novel bergenre misteri atau detektif. Perkiraan saya ini kisah percintaan yang berawal dari dapur (makanan). Ringkasnya, cinta yang datang dari perut turun ke hati.

Kiranya, dugaan saya meleset jauh. Novel yang dalam bahasa aslinya (Spanyol) berjudul Pequenas Infamias (edisi Inggrisnya berjudul Little Indiscretion) ini ternyata adalah sebuah novel misteri – dan detektif juga – dengan pola dan plot yang mengingatkan saya pada novel-novel Agatha Christie, khususnya serial Poirot, detektif berperawakan kecil asal Belgia kesayangan Christie. Ada yang sangat khas dari Poirot dalam setiap memecahkan kasus-kasusnya, yakni mengumpulkan fakta dan petunjuk sebanyak-banyaknya kemudian dianalisa,disusun seperti puzzle sembari duduk diam membiarkan sel-sel kelabu dalam otaknya bekerja.

Bisa jadi kemiripan teknik bercerita itu lantaran Carmen terpengaruh Agatha Christie, si Ratu Cerita Detektif dari Inggris.

Kisah bermula dengan ditemukannya sosok Nestor Chaffino terbujur beku dalam ruang pendingin di dapur keluarga Teldi (Hampir di semua novel Agatha Christie dibuka dengan adegan penemuan mayat). Kejadiannya pagi hari setelah malamnya berlangsung pesta makan malam dengan Nestor sebagai juru masaknya. Sejatinya, Nestor adalah pemilik usaha katering berlabel Mulberry & Mistletoe. Malam itu, ia disewa oleh Adela Teldi, nyonya rumah The Lilies, tempat kediaman keluarga Teldi.

Bersama 3 orang kru dapurnya, Nestor sukses melaksanakan tugasnya dengan sempurna malam itu.. Tetamu ramai-ramai memuji dan menyampaikan rasa puas mereka untuk pesta yang elegan tersebut. Sekali lagi, semua itu berkat kerja keras dan kekompakan tim kecil mereka : Nestor sebagai bos beserta Carlos, Karel, dan Chloe.

Carlos adalah mahasiswa hukum yang diam-diam terlibat asmara dengan Adela Teldi, wanita paruh baya yang lebih pantas jadi ibunya. Panah amor menusuk jantung keduanya pada pertemuan pertama mereka di Mulberry & Mistletoe tatkala Adela datang untuk urusan pesta makan malam yang berujung maut itu.

Sedangkan Karel adalah atlet binaragawan asal Ceko yang mengajak serta kekasihnya, Chloe Trias, bekerja membantu-bantu di Mulberry & Mistletoe. Chloe kabur dari rumah orang tuanya dengan membawa serta kenang-kenangan manis tentang sang kakak lelaki yang mati muda karena kecelakaan lalu-lintas. Bayang-bayang wajah dan senyum abangnya itu selalu menghantui ke manapun Chloe pergi. Gadis itu merasa amat kehilangan sahabat masa kecil yang pernah bercita-cita menjadi seorang penulis fiksi. Sayangnya, si abang keburu mati sebelum keinginannya terwujud.

Ketiga anak muda pegawai Mulberry & Mistletoe ini sangat senang bekerja untuk bos mereka sang koki handal, Nestor Chaffino. Koki ramah pemilik kumis pirang kaku ini senang berceloteh menceritakan apa saja, terutama kisah-kisah sejati yang pernah dialaminya, termasuk ihwal rahasia perselingkuhan Adela Teldi.

Pada masa yang lalu, Adela Teldi tertangkap basah tengah bercinta di sebuah kamar di The Lilies bersama suami adiknya sendiri, Soledad Teldi. Tak lama berselang, Soledad kedapatan sudah tak bernyawa dengan kondisi mengenaskan. Diduga perempuan malang itu melakukan aksi bunuh diri terjun dari lantai dua.

Nestor juga mengetahui perihal bisnis curang yang pernah dilakukan Ernesto Teldi, suami Adela, bertahun-tahun silam. Rahasia lain lagi yang dimiliki sang koki adalah tentang Serafin Tous yang gay dan pedofilia. Di The Lilies itulah, ketiga orang ini – Adela, Ernesto, dan Serafin – menyadari kehadiran Nestor. Ketiganya merasa terancam dan cemas. Mereka takut rahasia mereka akan dibeberkan Nestor atau koki itu akan memeras mereka. Maka ketiganya memiliki motif yang kuat untuk melenyapkan Sang Koki dari atas dunia.

Demikianlah cerita bergulir dalam tempo lambat sehingga bisa dimaklumi jika ada pembaca yang mengaku bosan mengikutinya. Tapi sebaiknya jangan buru-buru meletakkan novel ini dan berhenti membacanya sebelum tamat karena selanjutnya kita akan menemukan keasyikannya dengan ikut serta menebak-nebak siapa gerangan yang membunuh Nestor.

Sebagaimana lazim kita jumpai pada novel-novel misteri atau detektif, penulis menggiring para pembacanya pada banyak kemungkinan. Pembaca seperti diarahkan untuk mencurigai beberapa tokoh sebagai penjahatnya melalui paparan motif tadi. Dan biasanya sih, penjahatnya justru tokoh yang seakan-akan tidak ditonjolkan. Itulah yang nyaris selalu kita temukan dalam karya-karya Agatha Christie.

Barangkali agak kurang tepat juga jika dikatakan bahwa Little Indiscretion ini sebuah novel detektif mengingat di dalamnya tak ada seorang detektif pun yang hadir. Kendati demikian tak lantas membuat novel debutan Carmen Posadas ini jadi kurang menarik. Padanya kita tetap dapat menemukan unsur-unsur misteri yang memicu rasa penasaran. Kita bahkan bisa menjadi detektifnya.

Lewat karya perdananya ini Carmen Posadas berhasil meraih Planeta Prize (1998), penghargaan sastra paling bergengsi di Spanyol. Sejak diterbitkannya, novel ini telah diterjemahkan ke dalam 18 bahasa.

Endah Sulwesi 8/4

TATKALA MIMPI-MIMPI BERAKHIR SEPI


Judul buku : The Heart is A Lonely Hunter
Penulis : Carson McCullers
Penerjemah : A.Rahartati Bambang Haryo
Penerbit : Qanita
Cetakan : I – Februari 2007
Tebal : 491 hlm

Pada mulanya adalah persahabatan dua orang bisu tuli, John Singer dan Spiros Antonapoulos. Mereka menempati satu kamar sewaan. John Singer, si Kurus, bekerja di sebuah toko perhiasan sebagai tukang gravir. Sedangkan si Gendut, Antonapoulos, bekerja di toko buah dan permen milik sepupunya. Meski Antonapuolos lebih sering tak peduli pada sahabatnya, kasih sayang John Singer kepadanya tak pernah berkurang. Bahkan pun setelah Antonapoulos dikirim ke rumah sakit jiwa oleh sepupunya, John tetap setia mengunjunginya secara berkala.

Setelah kepergian sahabatnya, John dilanda kesepian yang sangat. Ia benar-benar kehilangan orang tedekat yang sangat dikasihinya, walaupun orang tersebut dalam kenyataannya tak pernah membalas kasihnya. Hanya makanan dan tidur saja yang menjadi perhatiannya. Sebuah persahabatan yang timpang sebetulnya.

Ketika John Singer tak tahan lagi bersendiri di kamar yang biasa mereka tempati bersama itu, ia kemudian pindah menyewa sebuah kamar milik keluarga Kelly. Di sini ia bertemu orang-orang baru yang kelak menjadikannya teman curhat mendengarkan segala uneg-uneg mereka : Mick Kelly, Dr.Copeland, Biff Brannon, dan Jake Blount. Bagi mereka, John Singer adalah 'pendengar' yang baik. Ia 'mendengarkan' cerita-cerita mereka dengan cara membaca gerak bibir.

Dari sinilah Carson McCullers membawa pembaca menelusuri jiwa-jiwa manusia yang kesepian. Karakter-karakter dalam novel yang ditulis ketika McCullers baru berusia 23 tahun ini – berarti pada tahun 1940 – adalah sejumlah karakter yang kesepian. Mick Kelly, anak perempuan pemilik penginapan yang disewa John ini, baru berusia 12 tahun. Ia tomboy, tidak memiliki banyak teman, tak akur dengan kakak-kakak perempuannya, dan diam-diam terobsesi menjadi pianis terkenal. Dalam kesendiriannya ia asyik memutar musik di kepalanya.

Biff Brannon, pemilik New York Café, kedai makan kecil tempat John Singer dan orang-orang di kota itu ngopi dan kongkow-kongkow. Sejak kematian istrinya, lelaki baik hati ini betul-betul meras kesepian. Ia mendambakan kehadiran seorang anak dalam hidupnya.

Dokter Copeland – lengkapnya Benedict Mady Copeland – adalah seorang kulit hitam yang berpendidikan dan berpikiran maju bagi masa depan anak-anaknya dan orang-orang Negro yang ketika itu mengalami perlakuan sangat diskriminatif, terutama di (Amerika Serikat bagian) Selatan. Ia bertekad memberikan pendidikan terbaik bagi putra-putranya. Namun, apa lacur, harapannya hancur. Tak satu pun dari ketiga orang putranya mewujudkan impiannya. Bahkan, si Bungsu Willie, sempat masuk bui lantaran terlibat perkelahian. Sedangkan putrid satu-satunya, Portia, hanya mampu 'berkarier' sebagai pelayan di rumah keluarga Kelly. Di hari tuanya, Dr.Copeland harus menerima kenyataan pahit : ditinggalkan anak-anaknya dan berjuang sendiri menentang perilaku rasis masyarakat dan pemerintah (kulit putih) negara bagian Georgia.

Dan, Jake Blount. Sebenarnya ia seorang pendatang di kota itu. Pemabuk yang tak memiliki pekerjaan tetap ini adalah juga seorang penganut paham sosialis yang radikal. Ia, seperti halnya Dokter Copeland, menentang keras perbedaan kelas dan pengagum berat Karl Marx. Ia senantiasa merasa sendirian dalam ideologinya itu.

Tadinya, saya menduga para karakter ini pada akhirnya akan dipertemukan dalam sebuah peristiwa. Atau setidaknya ada satu persoalan yang menautkan mereka. Tetapi, kiranya tidak demikian. Sampai di lembar penutup, tokoh-tokoh ini berjalan sendiri-sendiri. Hanya ada satu kesamaan : mereka makhluk-makhluk yang kesepian.

Ya, ini novel klasik tentang orang-orang yang kesepian. Daya pikatnya, barangkali, ada pada narasi yang digarap secara amat detail, halus, cermat. Akibatnya, tempo cerita terasa lambat sehingga butuh perjuangan tersendiri menamatkannya. Bagi pembaca yang tak sabaran, bisa jadi malah membosankan. Mungkin, The Heart Is A Lonely Hunter ini bisa dikategorikan sebagai novel psikologis. Konfliknya internal, berupa pergulatan batin para tokohnya.

Sesungguhnya, McCullers tak hanya bercerita tentang kesepian belaka. Secara halus ia juga menyampaikan persoalan rasialisme yang tengah marak di Selatan pada masa-masa itu. Disinggungnya pula ihwal kapitalisme yang menindas dan mengeksploitasi kelas pekerja (buruh). Problem sosial yang sangat khas Selatan : kemiskinan dan keterbelakangan.

Bagi seorang yang terlahir sebagai kulit putih, McCullers memiliki kepekaan seorang humanis yang tinggi terhadap masalah-masalah sosial yang terjadi di lingkungannya pada masa itu. Gadis ini tak bisa hanya diam berpangkutangan dalam keprihatinannya. Maka kemudian, ia memilih bersuara lewat karya-karya prosanya.

Film dengan judul yang sama berdasarkan novel ini telah dibuat pada 1968 dan mendapat nominasi untuk kategori pemeran utama pria dan pemeran pembantu wanita terbaik dalam ajang Oscar.

OUT : Kebebasan Itu Mahal

Judul Buku : Out
Penulis : Natsuo Kirino
Penerjemah : Lulu Wijaya
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : I – April 2007
Tebal : 571 hlm

Mungkin di antara kita masih ada yang mengingat dengan baik peristiwa menggemparkan yang terjadi pada 1990-an awal, yaitu pembunuhan atas Ny.Dyah oleh suaminya sendiri. Tak cukup hanya menghabisi nyawa, si suami lalu memotong-motong tubuh perempuan yang pernah menjadi istrinya itu dan kemudian membuangnya – setelah dimasukkan dalam karung goni – di depan Kampus IKIP Jakarta (sekarang Universitas Negeri Jakarta).

Dari pengakuannya di hadapan polisi, si suami sadis yang berprofesi sebagai guru sekolah menengah ini melakukan mutilasi tersebut di dapur dengan menggunakan gergaji. Dan kita dibuat terpana. Kok bisa ya ada orang setega itu kepada istrinya sendiri? Kemana menguapnya cinta di antara mereka ya?

Peristiwa itulah yang pertama kali terlintas di benak saya saat membaca novel Out karya Natsuo Kirino. Hanya saja, dalam karya fiksi ini korbannya justru sang suami.

Barangkali bila pembunuhan itu dilakukan oleh penjahat atau yakuza akan tidak terlampau menarik. Penjahat berbuat jahat kan sesuatu yang biasa. Tetapi ketika empat orang perempuan baik-baik berstatus istri dan ibu rumah tangga terlibat di dalamnya, maka kisahnya menjadi "tidak biasa".

Tewasnya Kenji Yamamoto secara mengenaskan – potongan-potongan tubuhnya ditemukan dalam lima belas kantong plastik hitam di tempat sampah – membawa penyelidikan polisi kepada Satake, pemilik sebuah rumah judi ilegal. Dari data yang diperoleh polisi, pada malam terbunuhnya Kenji, diketahui bahwa Satake sempat memukuli Kenji di rumah judinya. Beberapa saksi mata memberi keterangan yang memberatkan Satake ditambah pula dengan catatan kriminal yang dimilikinya di masa lalu. Ia tercatat pernah dipenjara lantaran kasus pemerkosaan disertai pembunuhan.

Sebetulnya, polisi sempat menaruh curiga pada istri korban, Yayoi, sebagai pelaku pembunuhan itu. Namun, karena Yayoi bisa memberikan alibi yang meyakinkan, menjadi mentahlah semua dugaan itu. Apa lagi alibi tersebut diperkuat oleh keterangan dan kesaksian para rekan kerjanya di pabrik makanan kotak yang sama-sama bertugas shift malam pada malam kejadian itu. Bahkan pada akhirnya polisi pun terpaksa kudu juga melepaskan Satake karena tidak ditemukan bukti-bukti yang cukup untuk menyeretnya dengan pasal pembunuhan.

Sekeluarnya dari bui, Satake nyaris bangkrut total. Usaha judi dan bar yang dirintisnya dari nol hancur musnah akibat kasus Kenji itu. Maka, ia pun bertekat menemukan pembunuh yang sebenarnya demi membalaskan dendam dan sakit hatinya.

Berkat pengalamannya, tak memakan waktu lama Satake segera menemukan petunjuk ke arah yang benar. Ia berhasil mengetahui pembunuh Kenji sesungguhnya beserta pelaku tindak mutilasi. Mereka adalah empat sekawan para wanita pegawai shift malam di pabrik makanan kotak : Yayoi, seperti sudah disebut di atas, adalah pembunuhnya; dibantu kemudian oleh Masako, Yoshie, dan Kuniko sebagai pelaku mutilasi.

Ironisnya, para wanita ‘sadis’ ini, justru muncul sebagai tokoh protagonis. Mereka, terkecuali Kuniko, menjelma semacam jagoan (pahlawan) yang mempecundangi para lelaki. Mereka, terutama Masako yang menjadi ruh novel ini, sukses merebut simpati kita. Kita pun lalu bisa memaklumi dan menerima semua alasan dan motivasi keterlibatan mereka sembari diam-diam berharap mereka selamat.

Keempat wanita ini menjadi karakter utama dalam Out. Mereka hadir sebagai warga masyarakat biasa dari kalangan menengah bawah yang mesti berjuang dan bekerja keras demi menyambung hidup di kota besar (Tokyo).

Mereka tinggal di apartemen murah dan harus bekerja paruh waktu di malam hari agar dapat upah lumayan sebagai buruh pabrik Siang hari mereka adalah para ibu rumah tangga yang harus mengurus suami pecundang, anak-anak, dan kadang-kadang juga cucu serta ibu mertua yang jompo dan cerewet. Belum lagi godaan gaya hidup konsumtif yang ditawarkan setiap hari di televisi, film, koran-koran, dan majalah.. Sebuah gambaran realisme yang dipetik Kirino dari masyarakat Jepang kelas bawah yang masih konservatif.

Maka, dengan caranya masing-masing para wanita ini memilih membebaskan diri keluar dari tekanan persoalan, kendati harus membayar mahal.

Sebagai sebuah novel detektif, daya tarik utama Out ada pada suspens yang muncul hampir di sekujur tubuh cerita, mengetuk-ngetuk saraf kepenasaran kita. Kirino telah merancang cerita ini dengan sangat mengagumkan. Kisahnya bergulir wajar dengan tempo cepat. Karakter-karakternya terasa begitu hidup dan alamiah : Masako yang dingin, cerdas dan rasional, Yayoi yang rapuh, Yoshie yang tabah, serta Kuniko yang boros dan minderan.

Tak ada yang tampak diforsir atau mubazir. Bahkan, adegan darah yang muncratpun dihadirkan secara wajar, layaknya film-film besutan Quentin Tarrantino. Cipratan darah dan potongan-potongan tubuh itu bisa jadi memualkan, namun di situlah justru nikmatnya yang membuat saya tak sabar ingin membaca lagi karya Natsuo Kirino berikutnya.

Endah Sulwesi 23/4

The Remains of The Day: Puing-puing Kehidupan Seorang Butler


Judul buku : The Remains of The Day: Puing-puing Kehidupan
Judul asli : The Remains of The Day
Penulis : Kazuo Ishiguro
Penerjemah : Femmy Syahrani
Penerbit : Hikmah
Cetakan : I, Januari 2007
Tebal : 337 hlm

The Remains of The Day adalah novel karya Kazuo Ishiguro yang berhasil memenangi penghargaan Booker Prize (1989), salah satu ajang penghargaan paling bergengsi untuk buku-buku sastra (fiksi) yang ditulis dalam bahasa Inggris. Kazuo memang keturunan Jepang. Ia lahir di Nagasaki, Jepang, pada 1954, tetapi sejak usia lima tahun, bersama orang tuanya ia pindah dan kemudian menetap di Inggris. Telah enam novel ia tulis sepanjang kariernya. Terakhir berjudul Never Let Me Go (2005) yang menjadi runner up Man Booker Prize.

The Remains of The Day adalah novel ‘gelap’ yang bercerita tentang kehidupan–tepatnya kondisi psikologi–seorang kepala pelayan Inggris. Ia, kepala pelayan itu, dipanggil dengan nama Mr.Stevens (Ini nama keluarga sebetulnya. Nama kecilnya tak pernah disebut satu kalipun). Jabatan atau profesi kepala pelayan hanya ada di rumah tangga-rumah tangga kalangan ningrat Inggris tempo doeloe.

Mr. Stevens kita ini mengabdikan hampir seluruh hidupnya sebagai pelayan di Darlington Hall, sebuah kediaman mewah milik bangsawan Lord Darlington semasa perang dunia II sebelum akhirnya beralih ke tangan seorang berkebangsaan Amerika, Mr. Farraday.

Selama 30 tahun, Stevens menjalani profesinya dengan penuh kebanggaan, tanggungjawab, dan profresionalisme yang tinggi. Teladan terbaik baginya adalah sang ayah sendiri, mantan seorang kepala pelayan yang “bermartabat”.

Stevens kita demikian terobsesinya sehingga tanpa disadarinya ia kerap kali berlaku ‘kejam’ pada dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya demi meraih impian sebagai kepala pelayan yang “bermartabat” itu. Sikapnya senantiasa formal, kaku, terlalu serius. Ia mengabaikan segala urusan pribadinya. Bagi Stevens, yang terpenting dan utama adalah tugas melayani majikannya. Stevens bahkan harus menanggalkan kesedihannya ketika ayahnya meninggal saat ia tengah melaksanakan sebuah tugas penting melayani jamuan makan malam bertaraf internasional di Darlington Hall.

Sikapnya yang terkesan kejam dan tak berperasaan itu sering membuat Miss Kenton, rekan kerjanya, merasa geregetan dan penasaran. Sebagai sesama pelayan, Miss Kenton kelihatan jauh lebih ‘manusiawi’. Tidak seperti Stevens kita, Miss Kenton masih sanggup bergurau dan menjalani hidup secara ‘normal’. Diam-diam, sesungguhnya ia memendam perasaan cintanya kepada Stevens. Namun, karena sifat tertutup Stevens yang ekstrem, kasih itu tak pernah sampai.

Kisahnya dipaparkan secara kilas balik oleh Stevens kita sebagai penuturnya. Ia membawa kita menelusuri seluk-beluk keluarga ningrat Inggris pada era 1920-an, masa 30 tahun ke belakang dari saat ia berkisah. Lantaran narasi dituturkan oleh orang pertama, maka kita bisa mengetahui secara mendalam kondisi batin dan psikologi Stevens selaku seorang butler. Melihat kedalamannya, novel ini tentulah hasil sebuah riset dan observasi yang cermat. Konon, dalam versi aslinya (Inggris), lebih terasa lagi kedalamannya dari bahasa Inggris ningrat–kalau dalam bahasa Jawa mungkin kromo inggilnya–yang dipergunakan Stevens.

Tentulah Stevens merupakan tokoh sentral novel ini. Karakternya yang unik mutlak menjadi ruh bagi keseluruhan cerita. Barangkali temponya tergolong lambat, akan tetapi ia memikat kita justru dengan ketidaktergesa-gesaannya itu. Stevens menguraikan masa-masa jayanya dengan sabar dan penuh percaya diri bahwa kisahnya yang memikat ini pasti akan dibaca tuntas.

Seandainya kita membaca novel ini tanpa lebih dulu mengetahui nama penulisnya, bukan mustahil jika kita mengira buku ini ditulis oleh orang Inggris asli dengan pengetahuan luas dan mendalam ihwal seorang butler.

Novel yang anggun (dan sopan), kendati agak sedikit kelam. Tak heran jika lalu menjadi buku laris dan dibaca banyak orang di seluruh dunia. Dalam versi Inggrisnya, terjual lebih dari sejuta eksemplar dan telah pula diterjemahkan ke dalam tiga puluh bahasa. Membacanya akan lebih asyik lagi apabila kita telah menonton filmnya, sebab bisa sembari membayangkan akting keren Sir Anthony Hopkins serta Emma Thompson sebagai Mr. Stevens dan Miss Kenton.

Endah Sulwesi 4/5