Selasa, 24 Februari 2009

Eendaagsche Exprestreinen



Judul buku: Eendaagsche Exprestreinen
Gambar: Bondan Winarno, Dhian Prasetya, Gede Juliantara
Teks: Yusi A.Pareanom & Risdianto
Penerbit: Banana
Tebal: 60 hlm
Cetakan: I, 2009

Entah kenapa, novel grafis atau komik lokal ini diberi judul memakai bahasa Londo (Belanda) yang artinya kereta ekspres siang. Barangkali agar lebih terasa aroma jadulnya mengingat seting cerita komik ini Batavia 1930. Atau bisa jadi juga sebagai daya tarik pemasarannya. Eendaagsche Exprestreinen tentu terdengar lebih keren ketimbang kereta ekspres siang. Sah-sah saja.

Kereta api di Indonesia memiliki sejarah yang panjang. Diawali di Jawa dengan pembangunan rel pertama yang membentang dari Kemijen ke Tanggung (1864) oleh perusahaan swasta NV.NISM (Naamlooze Venootschap Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij) sepanjang 26 km. Jalur ini kemudian diteruskan hingga Solo dan Yogyakarta (1870-an).

Selanjutnya, pemerintah Hindia Belanda tertarik untuk membangun jalur yang lain. Melalui perusahaannya, SS, dibuatlah jalur dari arah timur (Surabaya-Pasuruan) dan lanjut ke barat sampai ke Solo. Hingga kemudian pada 1929 telah tersedia jalur langsung Batavia-Soerabaia yang dapat ditempuh dalam satu hari saja.

Selain di Jawa, pembuatan jalan sepur ini juga dilakukan di Sumatra dan Sulawesi.

Komik kereta ini merupakan komik kedua terbitan Banana dengan masih mengandalkan Bondan Winarno dan dua rekannya sebagai juru gambar serta jalinan cerita yang dipercayakan kepada Risdianto dan Yusi Pareanom.

Bicara gambar-gambar dalam komik ini, menurutku rada mirip komik Herge, Tintin. Gambar bola mata karakter-karakternya dibuat hanya berupa titik hitam saja, persis seperti komik Tintin. Demikian pula dengan pelukisan suasana, detail dan penuh warna. Menarik. Ini bisa dilihat pada gambar sampul depannya: suasana hiruk-pikuk di sebuah stasiun kereta yang didominasi oleh gambar-gambar orang dengan segala kesibukannya.

Pada latar depan, ada penjual sate dengan 4 orang pembelinya. Agak di tengah, tampak 2 orang bocah lelaki yang tengah berkejaran. Sementara itu, seorang gadis Tionghoa, tertawa gembira menyaksikan. Berikutnya, ada tukang buah, tukang cukur, dan orang-orang yang duduk sembari makan atau mengobrol. Di belakang sekali, ada lokomotif hitam antik yang sedang parkir. Sekali lagi, menarik.

Tak kalah menarik juga gambar-gambar yang tersaji di dalam halaman-halaman yang berjumlah 60 ini. Ditampilkan dalam panel-panel berukuran besar dan kecil, deretan gambar tersebut menyajikan pemandangan tempo doeloe, baik suasana maupun peristiwanya, termasuk interior gerbong kereta yang masih terbuat dari kayu.

Sayangnya, gambar-gambar keren itu tidak ditunjang cerita yang memikat. Ah, sebenarnya temanya sih bolehlah, tentang persahabatan tiga anak yang berlainan bangsa: Seta si bocah Jawa, Johan anak Belanda, serta A Xiu, gadis kecil asli Cina. Mereka bertiga bertemu di sebuah kereta api siang jurusan Batavia-Soerabaia. Bersama orang tua masing-masing, mereka menempati gerbong-gerbong kelas I.

Perjalanan Batavia-Soerabaia yang memakan waktu tempuh 9 jam menjadi arena petualangan ketiga bocah yang kemudian bersahabat itu. Dengan keberanian khas kanak-kanak, Seta, Johan, dan A Xiu berhasil meringkus komplotan pencuri yang sedang dicari-cari polisi.

Untuk pembaca dewasa, kisah di atas mungkin kurang “nendang” (meminjam istilah Yusi). Kurang nggreget. Humor-humornya garing, kurang “hidup”, dan terkesan dipaksakan kehadirannya. Lebih cocok sebagai bacaan anak-anak dan remaja. ***

Rabu, 11 Februari 2009

Cinta di Atas Perahu Cadik


Judul buku: Cinta di Atas Perahu Cadik
Penulis: Seno Gumira Ajidarma, dll.
Penerbit: Penerbit Buku Kompas
Cetakan: I, 2008
Tebal: 166 hlm.


Beberapa waktu lalu, seorang teman cerpenis di Bandung, curhat. Katanya dengan nada masygul, ia baru saja mendapat penolakan dari salah satu penerbit untuk naskah calon buku kumpulan cerpennya. Alasan penerbit, buku kumpulan cerpen seret pemasarannya. Kurang diminati, tidak seperti novel. Teman saya bertanya kepada saya (karena katanya saya kan senang baca fiksi), apa benar demikian? Apa benar novel lebih disukai ketimbang kumpulan cerpen?


Setelah pura-pura mikir beberapa saat, saya menjawab, bisa jadi. Sebab, kalau diingat-ingat lagi, saya juga ternyata memang lebih banyak membaca novel daripada kumcer. Nah mengapa demikian, ya? Hmm, barangkali karena cerpen itu ceritanya singkat. Lagi seru-serunya, eh..malah sudah harus berhenti. Belum lagi, emosi kita harus terpotong-potong karena jenis ceritanya yang beragam. Tetapi, sebenarnya kalau cerpennya menarik seperti "Ripin" atau "Brokeback Mountain", kayaknya sih asyik-asyik saja ya? Dan sebaliknya, biar pun itu novel, kalau buruk, ya tetap saja ngeselin membacanya.


Sebenarnya bukan cuma teman saya yang cerpenis itu saja yang kecewa. Salah seorang teman dari sebuah penerbit juga pernah berkeluh-kesah untuk kasus yang sama. Buku kumpulan cerpen yang mereka terbitkan ternyata jeblok di pasaran. Padahal ditulis oleh seorang cerpenis kelas dunia yang memenangi beberapa penghargaan internasional. Dia gemas ketika mendapati realita justru buku-buku guyonan yang malah laku keras.


Katanya dengan pedih sembari gusar, "Maunya apa sih pembaca kita ini?"


Saya akhirnya cuma bisa garuk-garuk kepala (walaupun sebenarnya nggak gatal) :D

Tetapi yang jelas, sesekali saya masih suka membaca kumcer, termasuk buku kumcer Kompas pilihan yang terbit setiap tahun. Tahun lalu terbit dengan judul Cinta di Atas Perahu Cadik, diambil dari cerpen terbaik karya Seno Gumira Ajidarma yang ditetapkan oleh dua orang juri, yakni Sapardi Djoko Damono dan Ayu Utami. Seluruhnya ada 15 cerpen.

Tetapi, bukan itu cerpen favorit saya di buku ini. Saya lebih suka “Kisah Pilot Bejo” , cerpen karya Budi Darma. Cerpen yang bertutur dengan gaya komedi ini merupakan respons penulisnya terhadap musibah raibnya pesawat penumpang Adam Air yang nyungsep di perairan Majene, bagian barat Sulawesi dua tahun lalu. Budi Darma menyampaikan kritiknya terhadap kinerja maskapai penerbangan kita dengan gaya menyindir yang pedas dan nyelekit. Misalnya saja, penyebutan nama maskapai penerbangan dalam cerpennya dengan inisial AA (Amburadul Airline, tentu menyindir Adam Air) dan SA (Sontholoyo Airlines–apakah yang dimaksud Sriwijaya Air?) serta tentang prosedur standar penerbangan yang sering diabaikan sehingga mengakibatkan kecelakaan fatal.

Cerpen favorit kedua, “Sepatu Tuhan” (Ugoran Prasad). Sejak kepincut “Ripin”, saya hampir selalu membaca cerpen-cerpen karya Ugoran Prasad. Kisahnya juga ihwal dunia riil; tentang makna persahabatan dua orang bocah lelaki yang dipertemukan kembali ketika keduanya sama-sama dewasa di sebuah kantor polisi. Yang satu sebagai letnan polisi dan satunya lagi tersangka pelaku kejahatan. Kisah sederhana dengan akhir yang saya suka: menyentuh.

Selanjutnya, ada dua cerpen yang mengangkat tema “basi” PKI : “Hari Terakhir Meilan” (Soeprijadi Tomodihardjo) dan “Candik Kala” (GM Sudarta). Sementara itu, Adek Alwi, penulis senior sejak zaman Anita Cemerlang, menulis “Lampu Ibu”, sebuah cerita pendek seorang ibu yang putranya dituduh korupsi.

Cerpen berjudul romantis, “Gerimis yang Sederhana” (Eka Kurniawan) menjadi cerpen penutup. Mengambil seting Los Angeles, Amerika Serikat, Eka ingin mengenang tragedi kerusuhan 1998, khususnya kasus pemerkosaan perempuan-perempuan Tionghoa. Eka sukses menghindari penceritaan yang penuh dendam dan dengan cerdik ia membelokkannya menjadi sebuah kisah romantis dengan akhir yang tidak terduga.

Tunggu, masih ada satu cerpen lagi yang nyaris saya suka : “Tukang Jahit” (Agus Noor). Kenapa nyaris? Cerpen ini keren, namun karena ujung-ujungnya ternyata surealis, jadi agak mengurangi kenikmatan membaca saya yang beraliran realis.

Dan sebagai cerpen juara “Cinta di Atas Perahu Cadik”, adalah sebuah cerpen cinta (terlarang) dengan tokoh lelaki kesayangan SGA: Sukab. Mengapa cerpen ini terpilih menjadi cerpen terbaik? Alasan dewan juri yang diwakili Ayu Utami, antara lain menyatakan, bahwa cerpen SGA ini memiliki keistimewaan karena sebagai cerpen, ia banyak kali melakukan perpindahan sudut pandang yang sesungguhnya sangat berbahaya. Tetapi pengarang berani mengambil risiko ini dan selamat.

Ayu juga mengatakan, bahwa cerpen tersebut menyajikan adegan dan dialog yang jalin-menjalin dalam simpul yang efektif dan efisien, tak ada yang sia-sia. Saya tidak sepenuhnya mengerti apa yang dikatakan Ayu ini. Bagi saya, “perahu cadik” Seno ini ya “hanya”sebuah cerpen tentang cinta dan perselingkuhan.

Tapi baiklah. Sayembara telah usai dilangsungkan. Pemenangnya sudah diputuskan. Jika ada pro dan kontra, itu biasa. Kalau kau suka, bacalah. Jika tak suka, tinggalkan saja.***

Minggu, 01 Februari 2009

Embroideries


Judul buku: Bordir
Judul asli: Embroideries
Penulis: Marjane Satrapi
Penerjemah: Tanti Lesmana
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, 2006
Tebal: 136 hl
m

Sebelum aku menulis tentang buku ini, aku ingin berterima kasih kepada Susi alias Ibutio alias Tukang Kue, yang telah membarterkan buku ini. Kalau tidak terjadi pertukaran tersebut, mungkin saja aku tidak pernah mengenal Marjane Satrapi, penulis cewek asal Teheran yang juga menulis komik Persepolis itu. Aku sih belum baca komik tersebut, tetapi gara-gara Embroideries ini, aku akan membacanya (dan juga Chicken with Plums).

Baiklah, kini aku akan ngoceh sedikit ihwal Bordir.

Di Iran, seperti terdapat di banyak tempat di dunia ini, ada satu kebiasaan yang dilakukan para perempuan: bergosip. Perempuan memang terkenal doyan ngobrol. Entah, kegiatan itu mungkin sebagai katup pelepas dari segala persoalan rutin. Biasanya dengan diobrolkan, beban yang tengah ditanggung akan terasa berkurang separuhnya.lah-olah kita memindahkan sebagian masalah kepada teman yang kita ajak bicara. Semacam terapi kira-kira. Atau barangkali aktivitas bergosip ini juga merupakan sebuah upaya memerdekakan diri dari aturan tradisional yang melarang perempuan bicara di hadapan publik. Alhasil, mereka mencari cara sendiri agar tetap bisa “bicara”.

Perempuan-perempuan dalam Klan Satrapi tak terkecuali. Mereka memiliki kebiasaan ngobrol setelah usai santap siang, di saat ketika para lelaki justru berangkat istrirahat siang. Mereka juga mengundang beberapa teman dekat untuk saling bertukar cerita.

Apa saja yang dibincang? Mungkin tentang banyak hal, tetapi di buku ini Satrapi hanya menampilkan obrolan intim di antara perempuan seputar urusan seks. Eiits, jangan buru-buru berprasangka jorok, sebab ternyata tidak jorok sama sekali. Memang ada menyinggung-nyinggung soal penis dan ukurannya, tetapi tidak lalu terjerumus menjadi vulgar. Malah yang tercipta justru sindiran-sindiran tajam dalam kemasan humor yang kental kepada kaum pria. Atau lebih jauh lagi, menertawai diri sindiri. Entah karena kebodohan atau karena ketidaktahuan.

Misalnya saja, ada salah seorang dari mereka yang mengaku belum pernah satu kali pun selama hayatnya melihat bentuk testis, karena suaminya lebih suka bercinta dalam kondisi kamar gelap gulita. Celakanya lagi, keempat anak mereka perempuan semua! Bayangkan! Rasanya aku pun akan ngakak keras-keras mendengar kisah “memilukan” seperti itu :D Bolehkah kita menyimpulkan, bahwa Satrapi tengah menggugat kondisi di Iran yang membatasi kebebasan perempuan, baik dalam berekspresi mau pun dalam memperoleh informasi?

Satrapi dan orang tuanya yang terpaksa harus pindah ke luar Iran karena rezim pemerintahan yang tidak memberi ruang pada kebebasan individu, tentu mengerti betul artinya hidup dalam serba-keterbatasan. Apalagi bagi seorang perempuan seperti dirinya. Iran yang sangat patriarki tentu sangat tidak bersahabat dengan kaum perempuan. Mereka menciptakan aturan dan aneka mitos untuk membuat perempuan tunduk dan patuh. Termasuk untuk urusan jodoh dan seks.

Di sana masih banyak terjadi praktik perkawinan yang dijodohkan oleh orang tua. Biasanya bermotif ekonomi atau takut anak gadis mereka menjadi perawan tua. Maka, bukanlah sesuatu yang mengherankan jika ada orang tua yang mengawinkan anak gadis mereka dengan pria tua bangka yang lebih pantas menjadi kakek si gadis.

Yang paling celaka, jika para gadis itu sendiri yang akhirnya termakan mitos “takut menjadi perawan tua”. Mereka lalu jadi pasrah saja ketika ada pria yang sedikit saja berpenampilan mentereng melamar mereka. Menjadi istri dari seorang suami ganteng dan kaya rupanya masih menjadi impian banyak gadis di Iran. Apalagi kalau lelaki tersebut bekerja atau mengaku berbisnis di luar negeri. Hal yang agaknya sangat dipahami oleh kaum pria, yang kemudian memakainya sebagai taktik untuk mendapatkan seorang gadis malang yang bisa ditipu dan membawa kabur seluruh perhiasan si gadis begitu malam pertama usai. Meninggalkan si gadis yang kehilangan dua miliknya : perhiasan dan keperawanannya.

Nah, soal keperawanan di sana juga masih dianggap penting. Seorang gadis baik-baik diharapkan atau malah diharuskan masih perawan suci pada malam pengantin mereka. Tidak peduli suami mereka sudah menduda delapan kali, misalnya. Maka, para perempuan itu harus pandai bersiasat. Mulai dari mengakalinya dengan darah perawan tipuan (dari anggota tubuh yang sengaja diiris) sampai metoda paling canggih: operasi selaput dara atau yang mereka sebut “bordir”. Kalau sudah begini, siapa yang salah sebenarnya?

Salah siapa juga jika para perempuan setengah baya yang merasa sudah kehilangan daya pikat fisik lantas ramai-ramai melakukan bedah kosmetik memperbesar atau memperkecil bagian-bagian vital tubuh mereka? Siapa yang bodoh akhirnya bila menginginkan seorang wanita 50 tahun masih harus kencang payudara dan bokongnya? Salahkah bila perempuan lalu memakai juga jurus tipu-tipu dengan memindahkan lemak di, maaf, pantat, untuk memperbesar dan mengencangkan payudara demi para suami pemuja payudara besar? Jadi, hati-hatilah hai para lelaki. Kalau Anda senang menciumi payudara besar, jangan bangga dulu. Siapa tahu yang Anda nafsui itu adalah payudara hasil tambal sulam lemak di pantat :)

Wow, apakah aku sudah berkata-kata vulgar dengan menyebut-nyebut tubuh bagian belakang itu? Kalau iya, bukan aku yang harus disalahkan. Aku kan cuma menceritakan kembali apa yang ditulis dan digambar oleh Satrapi. Ah, tetapi jangan berlebihanlah. Percayalah, komik hitam putih ini tidak menampilkan gambar-gambar seronok. Sama sekali tidak. Dialognya pun tentu lebih lucu dari yang sudah aku kisahkan. Secara gemilang, Satrapi telah berhasil menjadikan komik karyanya ini sebagai media menyampaikan pesan dan kritik. Jika diibaratkan makanan, Embroideries adalah snack yang ringan, renyah, gurih, namun bergizi tinggi.***

Selasa, 27 Januari 2009

Morality for Beautiful Girls


Judul buku: Morality for Beautiful Girls
Penulis: Alexander McCall Smith
Penerjemah: Maria Renny
Penyunting: Hermawan Aksan
Penerbit: Bentang Pustaka
Cetakan: I, 2008
Tebal: 265 hlm


Buat kamu yang baru akan pertama kali membaca serial ini–ya, ini sebuah serial terdiri dari beberapa judul, jadi sebaiknya dibaca secara urut dari buku pertamanya : Kantor Detektif Perempuan No. 1–saya ingatkan untuk bersiap diri mendapati kisah detektif yang berbeda. Kau tidak bisa berharap akan menemukan sosok perempuan super yang akan berkelahi melawan penjahat atau karakter wanita setua Miss Marple yang memecahkan misteri sembari merajut.

Mma Ramostwe bukan tipe perempuan seperti itu. Ia seorang perempuan Afrika bertubuh tinggi besar (untuk tidak menyebutnya gemuk). Di negerinya, Botswana, wanita cantik adalah wanita bertubuh besar. Perempuan-perempuan kurus dengan dada dan bokong rata seperti para peragawati, di sana tidak dianggap seksi. Maka, Mma Ramotswe sangat bangga dan bahagia dengan ukuran tubuhnya tersebut.

Kau juga lebih baik membuang jauh-jauh harapan tentang sebuah kisah detektif yang njelimet dan penuh ketegangan seumpama Da Vinci Code, karena kau tidak akan menemukannya di buku ini. Seperti sudah kukatakan tadi, ini cerita detektif yang berbeda.

Apalagi pada buku ketiga ini, dua kasus yang ditangani Mma Ramotswe benar-benar sederhana dan biasa-biasa saja : seorang pejabat pemerintah yang mencurigai iparnya telah meracuni adik lelaki si pejabat serta mencari tahu moralitas gadis-gadis para peserta kontes kecantikan. Kasus yang sangat sepele, bukan, meskipun untuk yang pertama agak sedikit menjanjikan sebuah kisah misteri pembunuhan.

Tetapi, jangan cepat-cepat mengurungkan niat kamu untuk membaca buku ini, karena jika kamu seorang yang senang membaca kisah-kisah yang memuat hubungan antarmanusia di sebuah negeri beserta kebiasaan masyarakat dan budayanya, kamu akan menyukai cerita di buku ini.

Ada pun untuk kamu yang sudah akrab dengan Mma Ramotswe yang keren itu tapi belum membaca bagian ketiganya, aku beri tahu, di sini ia memindahkan kantornya ke bengkel Tuan JLB Matekoni, tunangannya itu yang agaknya sedang menderita depresi oleh rasa bersalah yang tidak bisa ia ceritakan kepada siapa pun. Tingkahnya menjadi aneh. Ia mogok kerja dan menelantarkan bengkelnya, ditinggalkan begitu saja bersama kedua orang pekerja magang di sana. Kedua pemuda dengan kelakuan sedikit tengil yang perlu ditertibkan.

Maka, Mma Ramotswe, seperti biasanya segera bertindak cepat membereskan semua masalah. Ia menugaskan Mma Makutsi, sekretarisnya yang lulusan Akademi Sekretaris itu, sebagai manajer pelaksana di bengkel dan menangani semua urusan pelanggan termasuk juga pembinaan kedua montir tersebut. Sementara itu, ia berniat untuk membawa tunangannya ke dokter. Setelahnya baru melakukan penyelidikan kasus si Pejabat Pemerintah.

Karakter sentral yang menjadi nyawa buku ini memang Mma Ramotswe. Namun, kali ini ia mesti berbagi porsi cukup besar dengan Mma Makutsi yang ternyata diam-diam menyimpan bakat sebagai detektif. Selama majikannya pergi menyelidiki kasus peracunan itu, ia dengan berani memutuskan menerima order lain: menyelidiki 4 orang gadis finalis kontes kecantikan. Dia harus mencari data dan informasi sebanyak-banyaknya ihwal keempat kontestan tersebut. Hasilnya kelak akan dipakai oleh panitia penyelenggara kontes sebagai bahan pertimbangan memilih juaranya.

Dibanding dua buku sebelumnya, buku ketiga ini kurang memuaskan, terutama karena kasusnya tidak menarik dengan penyelesaian yang tidak istimewa. Nyaris tak ada unsur kejutannya. Yang sedikit agak menghibur adalah kemunculan sisi lain Mma Makutsi sebagai manajer bengkel dan asisten penyelidik. Dengan gayanya yang berusaha tampak elegan, ia membuktikan bahwa perempuan tidak harus menjadi cantik dulu untuk meraih keberhasilan. Kecerdasan otak dan kebaikan hati jauh lebih penting dari sekadar memiliki wajah rupawan dan tubuh seksi menawan. Kurasa ia sedang menyindir masyarakat modern yang memuja kecantikan.

Apa boleh buat, memang demikianlah yang ingin disampaikan McCall Smith melalui kedua tokoh perempuannya ini. Kecantikan fisik (perempuan) bukanlah segalanya. Tetapi Mr. Smith, benarkah begitu?***

Jumat, 16 Januari 2009

Anne of Green Gables


Judul buku: Anne of Green Gables
Penulis: Lucy M. Montgomery
Penerjemah: Maria M. Lubis
Penerbit: Qanita
Cetakan: I, 2008
Tebal: 516 hlm


Bukankah menakjubkan jika ada sebuah buku yang diterbitkan seabad silam masih memesona dibaca hari ini? Bukankah itu berarti buku tersebut telah berhasil melampaui ujian waktu? Rasanya karya tersebut sangat pantas disebut karya yang abadi, terus hidup jauh melebihi usia penulisnya. Jika saya harus menyebut salah satu buku seperti itu, maka itu adalah Anne of Green Gables karya pengarang Kanada, Lucy Maud Montgomery yang diterbitkan pertama kali pada 1908.

Konon, sejak penerbitan pertamanya hingga hari ini, Anne of Green Gables telah terjual lebih dari 50 juta kopi di seluruh dunia. Saya sudah lama mendengar tentang kekerenan buku ini dan karena itu merasa sangat beruntung ketika akhirnya buku ini terbit juga dalam bahasa Indonesia.

Sejatinya, novel ini adalah bacaan untuk segala umur. Menyenangkan membaca sebuah buku yang karakter utamanya anak-anak. Sepertinya cerita yang hadir terasa lebih jujur. Atau mungkin juga lantaran diam-diam kita selalu rindu untuk kembali ke masa-masa manis itu, masa kecil kita, tatkala semua terasa mudah dan indah.

Tokoh utamanya adalah Anne, seorang anak perempuan berumur 11 tahun. Mulanya Anne hidup sebatang kara di dunia ini. Ayah dan ibunya meninggal ketika Anne masih sangat kecil. Ia lalu secara bergantian diasuh oleh beberapa orang kerabat ayah ibunya sebelum akhirnya dipelihara di sebuah panti asuhan. Anne juga pernah mengalami masa-masa sulit lainnya sebagai pelayan dan pengasuh anak.

Tetapi Anne adalah seorang anak periang yang selalu berpikir positif dan memiliki ambisi tinggi untuk hal-hal yang baik di samping sifatnya yang romantis yang menyebabkan ia senang berkhayal. Dia memperlakukan dunia dan orang-orang di sekitarnya dengan penuh kasih sayang. Ia juga seorang gadis kecil yang sangat impulsif, jujur, serta sahabat yang setia bagi Diana Barry. Meskipun kadang-kadang ia membuat kesalahan yang tidak perlu, namun ia tak pernah mengulangi kesalahan yang sama itu di lain waktu. Nyaris tak ada hal yang mampu membuatnya bersedih dan marah kecuali jika ada yang berani menghina rambut merahnya dan memanggilnya “wortel”.

Green Gables adalah nama pondok petani milik kakak beradik Cuthbert. Tatkala Marilla dan Matthew beranjak semakin tua, mereka memutuskan untuk mengadopsi seorang anak lelaki agar bisa membantu kerja mereka di ladang. Akan tetapi, sebuah panti asuhan melakukan keliruan. Kekeliruan yang kelak justru sangat disyukuri oleh Marilla dan Matthew : mengirimkan Anne.

Hidup kedua Cuthbert yang tidak pernah menikah itu pun perlahan-lahan berubah berkat kehadiran gadis cilik yang suka memberi nama setiap pohon dan tempat di sekitarnya. Pohon ceri tua di muka pondok pun kini punya nama romantis, Ratu Salju. Begitu juga danau, jalan desa, bunga-bunga, dan hutan. Sesuai sifat Anne yang romantis, nama-nama yang diberikannya pun nama-nama yang indah : Danau Air Riak Berkilau, Kanopi Kekasih, Permadani Violet…..

Segera saja Anne membuat jatuh cinta hampir seluruh penghuni Avonlea, desa kecil di Pulau Prince Edward, Kanada. Oh, bukan cuma orang-orang di buku itu yang dibuatnya jatuh cinta, tetapi juga termasuk saya. Karakter rekaaan Lucy Montgomery ini begitu kuatnya, sehingga seolah-olah ia benar-benar hidup dan menjelma ke luar buku. Atau sebaliknya, saya yang merasa seakan-akan ikut menjadi bagian cerita dan tinggal di Avonlea.

Sebagai pendongeng, Lucy telah berhasil memikat hati pembacanya. Dengan cemerlang ia memindahkan dunia riil (kehidupan pedesaan) ke dalam buku lewat deskripsi dan imajinasinya sehingga Anne of Green Gables menjadi sebuah buku klasik yang indah dan abadi. Ia menciptakan konflik-konfliknya secara sangat wajar dan menyelesaikannya juga dengan elegan. Kadang-kadang berakhir lucu dan kali lain penuh keharuan. Tak ada yang dipaksakan. Semuanya mengalir jernih. Moral ceritanya terbungkus rapi sehingga hampir-hampir kita tak merasakan kehadirannya.

Penggambarannya tentang Avonlea membuat saya jadi merindukan desa. Bukan kampung halaman–karena saya sudah tidak punya kampung–tetapi desa seperti yang selama ini saya kenal lewat tulisan, lukisan, dan sajak-sajak: ada pohon-pohon, bunga, gemericik sungai, telaga, langit yang cerah, kicau burung, panen buah, daun yang gugur, tetangga yang ramah, gosip-gosip, harum kue dipanggang, ayam-ayam, itik, semak belukar……Tetapi bagian terpentingnya adalah semangat buku ini yang mengajarkan kasih sayang. Sekejap saya terkenang kisah Little House on the Prairie.

Seluruhnya kisah Anne ini terdiri dari 8 judul yang akan bercerita hingga Anne dewasa. Mudah-mudahan Qanita mau menerbitkan semuanya. Jangan seperti nasib serial Anastasia Krupnik (Lois Lowry) yang entah kenapa, mandek di buku ketiga.

Nah, Teman, setelah semua kenikmatan membaca buku ini berakhir, agaknya saya harus memasukkan Anne of Green Gables ke dalam daftar buku favorit saya sepanjang masa.***

Sabtu, 10 Januari 2009

The Book of Lost Things


Judul buku: Kitab tentang yang Telah Hilang
Judul asli: The Book of Lost Things.
Penulis: John Connely
Penerjemah: Tanti Lesmana
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, 2008
Tebal: 472 hlm.

Pada dasarnya saya ini penggemar fiksi realis, tetapi juga tidak menolak bacaan-bacaan bergenre fantasi walaupun tentu saya lebih banyak membaca jenis buku yang pertama dibanding yang disebut terakhir. Entah kenapa dalam pikiran saya sudah terpatri bahwa buku fantasi identik dengan buku anak-anak/remaja. Dan saya sudah lama meninggalkan masa-masa indah tersebut. Diam-diam saya sering merindukan saat-saat itu kembali lagi. Barangkali itu salah satu alasan saya tetap menyukai kisah-kisah fantasi dan petualangan pada usia saya yang sekarang (Berapa sih? :D) Alasan yang tidak sepenuhnya saya sadari, karena seperti tertulis dalam lembar pertama buku The Book of Lost Things, dalam diri setiap orang dewasa masih tersimpan jiwa kanak-kanaknya.

Hal itu rupanya disadari betul oleh John Connolly (40) sehingga ia lalu membuat novel (dewasa) apik bergenre fantasi yang judulnya telah saya sebut di atas, The Book of Lost Things.

Tokohnya adalah David, seorang bocah lelaki 12 tahun yang–seperti sering terdapat dalam kisah-kisah petualangan–“malang” (Ingat saja Harry Potter). Ia harus menjadi piatu pada usianya yang kedua belas itu. Sejak itu David merasa sangat kesepian. Apalagi kemudian ayahnya menikah lagi dan dari perkawinan tersebut David mendapat adik tiri laki-laki, Georgie. David merasa kian diabaikan dan mulai mencari pelarian untuk menghibur dirinya yang tengah kecewa. Tak dinyana, suatu hari setelah pertengkaran mulut yang hebat dengan ibu tirinya, David terdampar ke negeri lain. Dan dimulailah petualangannya yang seru dan penuh fantastik.

Di negeri ini David bukan saja mengalami kejadian-kejadian menegangkan, tetapi juga bertemu dengan tokoh-tokoh dongeng favoritnya, seperti Snow White dan Tujuh Kurcaci serta Gadis Kecil Bermantel Merah. Lucunya, sosok atau kisah tentang mereka berbeda sama sekali dengan yang selama ini David baca dari buku-buku. Pada bagian ini saya benar-benar terhibur dan tak sanggup menahan tawa ngakak.

Gimana nggak ngakak jika Snow White yang selama ini kita kenal sebagai putri berparas jelita, berkulit seputih salju dengan bibir merah merekah, tiba-tiba berubah menjadi sosok perempuan gemuk yang rakus dan kejam. Ia selalu menghabiskan jatah makan ketujuh kurcaci. Saking rakus dan kejamnya, suatu malam pada sebuah musim dingin dan makanan sulit didapat, Snow White kedapatan sedang menggerumiti kaki salah seorang kurcaci. Gila nggak sih? J)

Tak kalah sintingnya adalah penggambaran tentang para kurcaci yang saling memanggil di antara mereka dengan sebutan kamerad. Mereka tak ubahnya buruh pertambangan yang miskin dan tertindas. Dalam obrolan mereka sering terucap kata-kata “kerja kolektif” atau “anjing-anjing kapitalis”. Huahaha. Jangan-jangan mereka baca Das Kapital juga ya? Yang tak kalah seru juga adalah twist dari dongeng Little Red Riding Hood serta Hans and Gretel.

Bagian itu memang kocak tetapi selebihnya kisah The Book of Lost Things ini cenderung kelam dengan seting Inggris pada masa Perang Dunia II. Mungkin itu sebabnya Gramedia selaku penerbit buku ini merasa perlu menyematkan label “novel dewasa” di sampul belakang. Sebab, kendati ini buku fantasi dengan tokoh utamanya anak-anak, di dalamnya banyak memuat adegan kekerasan (kepala yang dipenggal, darah berhamburan, usus terburai, dsb) yang mungkin menurut pertimbangan Gramedia tidak sesuai untuk konsumsi anak-anak. Tapi kalau saya punya anak, saya akan mengizinkan mereka membacanya. Sebab saya percaya, dalam diri setiap anak bersemayam jiwa yang kelak akan menjadi dewasa (kalimat terakhir ini hasil mengutip dari buku ini).

Selanjutnya, lazimnya kisah fantasi dan petualangan, akan kita jumpai banyak makhluk ajaib yang cuma ada dalam dongeng. Misalnya, troll dan harpy untuk menyebut salah duanya. Tentu juga harus ada petualangan, perkelahian, dan pahlawan. David dong pahlawannya. Selain karena ia mampu mengatasi lawan-lawannya yang jahat, juga lantaran dia berhasil mengalahkan rasa takut dan kebencian dalam hatinya. Bukankah perang terbesar adalah perang melawan diri sendiri?

Secara umum novel ini menarik dan cukup menghibur. Buat Anda penggemar kisah-kisah dongeng dan fantasi pasti akan menyukainya.***

Senin, 29 Desember 2008

Jack si Pelompat


Judul buku: Jack si Pelompat
Judul asli: Spring-Heeled Jack
Penulis: Philip Pullman
Penerjemah: Yashinta Melati F
Penerbit: PT Gramedia Pustka Utama
Cetakan: I, 2008
Tebal: 128 hlm

Tentu saja pertimbangan pertama saya membaca buku ini karena pengarangnya, Philip Pullman. Saya “jatuh cinta” pada penulis dongeng asal Inggris ini. Tiga bukunya telah saya baca: Putri si Pembuat Kembang Api, Dulu Aku Tikus, dan Si Pembuat Jam. Jack si Pelompat ini menjadi buku keempatnya yang saya baca. Semuanya tipis, hanya berkisar di 100-an halaman saja.

Yang menarik dari keempat buku Pullman itu selain ceritanya yang sederhana sekaligus fantastis adalah juga gambar-gambar ilustrasi yang tertera di setiap halamannya. Gambar-gambar tersebut menjadi bagian yang kocak dari dongengnya yang memukau. Ilustrasi itu berupa gambar hitam putih dan seperti komik memuat juga dialog tokoh-tokohnya.

Jack si Pelompat adalah seorang pahlawan pembela kebenaran dan pembasmi kejahatan yang hidup pada zaman Victoria, zaman sebelum ada Superman dan Batman. Menurut situs Wikipedia, si Jack yang suka melompat ini merupakan salah satu tokoh cerita rakyat Inggris yang sangat terkenal. Pertama kali namanya muncul pada 1837. Rupanya si Jack ini bukan sekadar tokoh dongeng rekaan Pullman. Ia telah lama hidup dalam legenda rakyat Inggris.

Dalam setiap aksinya, Jack memakai kostum seperti setan dan dia melompati atap-atap rumah dengan bantuan per yang dipasang di tumit sepatunya. Ia dikisahkan mampu melompat sangat tinggi.

Jika ada jagoan tentu harus ada penjahat dan harus ada korban yang diselamatkan. Maka, cerita pun bergulir dari sebuah panti asuhan di London. Panti Asuhan Alderman Cawn-Plaster Memorial namanya. Di panti asuhan itu tinggallah tiga bocah bersaudara, Rose, Lily, dan Ned Summers. Mereka menjadi yatim piatu sejak kepergian ayah mereka ke Australia dan ibu mereka meninggal tak lama setelah itu.

Panti asuhan itu dikelola oleh dua orang dewasa yang jahat, Mr Killjoy dan Miss Gasket. Tempat tersebut mungkin tempat paling buruk di dunia di mana selimut, penjaga, dan rasa buburnya sama dingin dan tidak enaknya.

Lantaran tidak tahan lagi, ketiga kakak beradik tersebut pada suatu malam memutuskan minggat dari tempat yang menyeramkan itu. Mereka berniat kabur ke pelabuhan untuk kemudian menumpang kapal yang akan membawa mereka ke Amerika. Oh, tentu saja upaya kabur mereka tidaklah mulus. Mereka harus berhadap-hadapan dulu dengan berbagai kendala, termasuk di antaranya ancaman dari Mack si Pelempar Pisau.

Nah, nah, sudah bisa diduga di sinilah sang jagoan, Jack si Pelompat berperan membela ketiga bersaudara itu. Ia membantu mereka meloloskan diri dari kekejaman Miss Gasket dan temannya, Mr Killjoy. Berhasilkah? Sudah pastilah….:)

Spoiler? Tidak juga, karena umumnya cerita anak-anak adalah tentang kebenaran melawan kebatilan. Pesan moralnya hampir selalu bisa dipastikan: berbuat baiklah selalu agar dirimu selamat. Hitam putih.

Yang keren lagi di samping ilustrasinya adalah juga judul-judul setiap babnya. Pullman mengutip kalimat dari buku-buku yang dibacanya. Misalnya, Bab Satu : “Malam yang gelap dan berangin….” Alexander Dumas, Three Musketeers. Atau Bab Tujuh: “Aku tak berani berhenti untuk beristirahat sejenak…” Tove Johnson, The Expolit of Moominpapa. Yang paling kocak adalah di bab sebelas, ketika Pullman mengutip kata-katanya sendiri: “Sementara itu di panti asuhan…” Philip Pullman, Spring-Heeled Jack.

Pullman sangat mengerti bagaimana memanjakan anak-anak selaku pembaca utamanya. Ia menggunakan bahasa yang mudah dicerna serta plot yang lurus. Tokoh jagoan Jack si Pelompat dihadirkan tidak sebagai superhero yang sakti mandraguna. Ia hanya seorang lelaki baik hati yang suka menolong. Ia tidak bisa terbang bagai Superman atau memiliki mobil keren yang canggih seperti Batman. Ia hanya mengandalkan keberanian dan sepasang per di kedua tumit sepatunya untuk melompat dari atap ke atap. Namun demikian, setiap bandit yang berhadapan dengannya pasti akan berakhir mengenaskan.

Selain Jack, ada lagi tokoh protagonis yang menolong Rose dan adik-adiknya. Mereka berasal dari orang-orang biasa. Jim si kelasi serta kekasihnya, Polly, pelayan di hotel Saveloy. Kedua sejoli ini dengan ringan hati memberikan bantuan untuk menyelamatkan anak-anak malang itu. Satu lagi pesan moral: tak perlu jadi superhero dulu untuk menlong orang lain. Yang dibutuhkan hanya dua hal: keberanian dan kebaikan hati.

Bukan begitu, adik-adik?***