Senin, 29 Desember 2008

Jack si Pelompat


Judul buku: Jack si Pelompat
Judul asli: Spring-Heeled Jack
Penulis: Philip Pullman
Penerjemah: Yashinta Melati F
Penerbit: PT Gramedia Pustka Utama
Cetakan: I, 2008
Tebal: 128 hlm

Tentu saja pertimbangan pertama saya membaca buku ini karena pengarangnya, Philip Pullman. Saya “jatuh cinta” pada penulis dongeng asal Inggris ini. Tiga bukunya telah saya baca: Putri si Pembuat Kembang Api, Dulu Aku Tikus, dan Si Pembuat Jam. Jack si Pelompat ini menjadi buku keempatnya yang saya baca. Semuanya tipis, hanya berkisar di 100-an halaman saja.

Yang menarik dari keempat buku Pullman itu selain ceritanya yang sederhana sekaligus fantastis adalah juga gambar-gambar ilustrasi yang tertera di setiap halamannya. Gambar-gambar tersebut menjadi bagian yang kocak dari dongengnya yang memukau. Ilustrasi itu berupa gambar hitam putih dan seperti komik memuat juga dialog tokoh-tokohnya.

Jack si Pelompat adalah seorang pahlawan pembela kebenaran dan pembasmi kejahatan yang hidup pada zaman Victoria, zaman sebelum ada Superman dan Batman. Menurut situs Wikipedia, si Jack yang suka melompat ini merupakan salah satu tokoh cerita rakyat Inggris yang sangat terkenal. Pertama kali namanya muncul pada 1837. Rupanya si Jack ini bukan sekadar tokoh dongeng rekaan Pullman. Ia telah lama hidup dalam legenda rakyat Inggris.

Dalam setiap aksinya, Jack memakai kostum seperti setan dan dia melompati atap-atap rumah dengan bantuan per yang dipasang di tumit sepatunya. Ia dikisahkan mampu melompat sangat tinggi.

Jika ada jagoan tentu harus ada penjahat dan harus ada korban yang diselamatkan. Maka, cerita pun bergulir dari sebuah panti asuhan di London. Panti Asuhan Alderman Cawn-Plaster Memorial namanya. Di panti asuhan itu tinggallah tiga bocah bersaudara, Rose, Lily, dan Ned Summers. Mereka menjadi yatim piatu sejak kepergian ayah mereka ke Australia dan ibu mereka meninggal tak lama setelah itu.

Panti asuhan itu dikelola oleh dua orang dewasa yang jahat, Mr Killjoy dan Miss Gasket. Tempat tersebut mungkin tempat paling buruk di dunia di mana selimut, penjaga, dan rasa buburnya sama dingin dan tidak enaknya.

Lantaran tidak tahan lagi, ketiga kakak beradik tersebut pada suatu malam memutuskan minggat dari tempat yang menyeramkan itu. Mereka berniat kabur ke pelabuhan untuk kemudian menumpang kapal yang akan membawa mereka ke Amerika. Oh, tentu saja upaya kabur mereka tidaklah mulus. Mereka harus berhadap-hadapan dulu dengan berbagai kendala, termasuk di antaranya ancaman dari Mack si Pelempar Pisau.

Nah, nah, sudah bisa diduga di sinilah sang jagoan, Jack si Pelompat berperan membela ketiga bersaudara itu. Ia membantu mereka meloloskan diri dari kekejaman Miss Gasket dan temannya, Mr Killjoy. Berhasilkah? Sudah pastilah….:)

Spoiler? Tidak juga, karena umumnya cerita anak-anak adalah tentang kebenaran melawan kebatilan. Pesan moralnya hampir selalu bisa dipastikan: berbuat baiklah selalu agar dirimu selamat. Hitam putih.

Yang keren lagi di samping ilustrasinya adalah juga judul-judul setiap babnya. Pullman mengutip kalimat dari buku-buku yang dibacanya. Misalnya, Bab Satu : “Malam yang gelap dan berangin….” Alexander Dumas, Three Musketeers. Atau Bab Tujuh: “Aku tak berani berhenti untuk beristirahat sejenak…” Tove Johnson, The Expolit of Moominpapa. Yang paling kocak adalah di bab sebelas, ketika Pullman mengutip kata-katanya sendiri: “Sementara itu di panti asuhan…” Philip Pullman, Spring-Heeled Jack.

Pullman sangat mengerti bagaimana memanjakan anak-anak selaku pembaca utamanya. Ia menggunakan bahasa yang mudah dicerna serta plot yang lurus. Tokoh jagoan Jack si Pelompat dihadirkan tidak sebagai superhero yang sakti mandraguna. Ia hanya seorang lelaki baik hati yang suka menolong. Ia tidak bisa terbang bagai Superman atau memiliki mobil keren yang canggih seperti Batman. Ia hanya mengandalkan keberanian dan sepasang per di kedua tumit sepatunya untuk melompat dari atap ke atap. Namun demikian, setiap bandit yang berhadapan dengannya pasti akan berakhir mengenaskan.

Selain Jack, ada lagi tokoh protagonis yang menolong Rose dan adik-adiknya. Mereka berasal dari orang-orang biasa. Jim si kelasi serta kekasihnya, Polly, pelayan di hotel Saveloy. Kedua sejoli ini dengan ringan hati memberikan bantuan untuk menyelamatkan anak-anak malang itu. Satu lagi pesan moral: tak perlu jadi superhero dulu untuk menlong orang lain. Yang dibutuhkan hanya dua hal: keberanian dan kebaikan hati.

Bukan begitu, adik-adik?***

Kamis, 18 Desember 2008

Bookends


Judul buku: Bookends
Penulis: Jane Green
Penerjemah: Utti Setiawati
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Oktober 2008
Tebal: 504 halaman

Sepanjang yang bisa aku ingat, aku cinta buku. Bukan Cuma cinta, tapi tergila-gila. Biasanya aku menghabiskan berjam-jam berkelana ke toko-toko buku, lupa waktu, menenggelamkan diri ke dunia lain.

Sejak dulu aku bermimpi memiliki toko buku. Sebenarnya, sejak dulu aku bermimpi memiliki toko buku yang juga merangkap sebagai kafe. Aku membayangkannya sebagai tempat yang akan memikat pengunjung rutin, orang-orang eksentrik yang menarik, yang mau membuatkan cappuccino jika aku butuh bantuan.

Untuk sampai pada dua paragraf di atas, saya harus membaca 84 halaman dulu dari novel chiklit Bookends karya Jane Green ini. Mengapa saya kutip? Sebab, kalimat di paragraf tersebut kok rasanya “gue banget”. Kalimat itu diucapkan oleh Catherine atau Cath, cewek lajang berusia 31 tahun, tokoh utama di buku ini. Cath tak suka berdandan, tak suka pakai rok, doyan makan, dan berhenti memikirkan perkawinan sejak umur 29. Nah..nah…rasanya kok semakin mirip dengan diri saya? Bedanya sedikit saja, dengan rambut Afro-nya yang kriwil-kriwil berantakan, Cath pasti lebih cantik dari saya. Oya, dan saya sedikit lebih tua disbanding gadis Inggris ini.

Seperti Cath, saya pun memiliki impian suatu hari nanti bisa punya toko buku sendiri yang menyatu dengan sebuah kafe. Dalam hal ini Cath lebih beruntung karena ia bisa segera mewujudkan mimpinya dalam usia ke-31, sedangkan saya mungkin masih harus bersabar lebih lama lagi. Masalah saya cuma satu : tidak ada dana. Kalian tentu tahu, membuka sebuah toko buku yang juga merangkap kafe tentu butuh modal tidak sedikit. Kalau saja ada jutawan yang bermurah hati memodali saya, saat itu juga saya akan berhenti dari pekerjaan saya yang sekarang dan sepenuhnya mengurusi toko buku impian saya itu.

Lagi-lagi untuk urusan modal ini, saya harus iri pada Cath yang tidak perlu berpayah-payah mencari modal sebab warisan dari neneknya sudah sangat cukup untuk menjalankan bisnis idamannya tersebut. Adapun untuk masalah kafe, sudah ada sahabatnya yang bersedia berkongsi: Lucy. Lucy adalah istri Josh, sahabat Cath semasa kuliah dulu.

Selain Josh, Cath juga memiliki sahabat yang lain: Si dan Portia. Si seorang gay; sedangkan Portia adalah Miss Perfect yang sukses berkarier sebagai penulis skenario drama sitcom televisi. Lantaran sebuah sebab, Portia sempat dijauhi oleh para sahabatnya itu dan tak pernah berjumpa mereka selama 10 tahun. Mereka baru bertemu lagi saat pembukaan Bookends, nama yang diberikan untuk toko buku Cath itu.

Sudah lama sekali rasanya saya tidak membaca novel-novel chiklit. Bukan apa-apa, hanya malas saja dan lebih memilih novel yang agak serius (uuh, padahal baca chiklit itu asyik juga loh). Alasan utama saya membaca Bookends apalagi kalau bukan karena ceritanya yang sedikit banyak mirip dengan kehidupan saya itu? (ngaku-ngaku deh). Sayangnya, Bookends tak melulu berkicau soal Cath dan toko bukunya, namun justru lebih menekankan kisahnya pada tema persahabatan. Malah ihwal Cath yang disebut sebagai cewek penggila buku nyaris tak pernah diceritakan sedang membaca atau belanja buku. Rada janggal ya?

Tetapi, sebagaimana umumnya chiklit, Bookends cukup menghibur bagi saya. Setidaknya karena karakter Cath yang, seperti saya bilang tadi, agak-agak mirip dengan saya :D. Saya senang membayangkan diri saya adalah Cath yang berkencan dengan James, pria tampan yang bekerja sebagai agen penjualan properti sekaligus pelukis keren. Walaupun saya tak memiliki sahabat dekat seorang gay, namun saya tidak keberatan seandainya ada seorang lelaki homo yang ingin menjalin persahatan dengan saya seperti Si dengan Cath.

Sahabat dekat saya juga tidak seperti Portia yang senang menjadi pusat perhatian. Tapi mungkin saya juga akan berlaku seperti Cath seandainya memiliki sahabat macam Portia yang suka menyakiti orang lain. Apalagi bila orang lain itu adalah sahabat kami sendiri.

Tentu saja menamatkan Bookends tidak memerlukan waktu yang lama. Saya hanya perlu waktu dua hari saja. Sekali lagi, saudara-saudara, dua hari! Pasti karena ditulis dalam rangkaian bahasa yang ringan, ngepop, dan mudah dicerna. Humor-humor segar nan cerdas turut memperlancar saya dengan cepat menamatkannya. Memang menyenangkan membaca chiklit (yang bagus) itu. Tak ubahnya seperti menonton film atau serial komedi romantis ala Friends atau Sex and The City. Karen memang di situlah kekuatan dan daya tarik sebuah karya metropop.

Pada akhirnya, Bookends memang bukan novel yang memuat kisah tentang toko buku. Namun, jika kalian ingin sejenak mereguk kesegaran sebuah cerita cinta dan persahabatan tanpa harus berkerut kening, buku ini bolehlah dijadikan pilihan. Kriuuuuk…..***

Selasa, 16 Desember 2008

The Last Concubine


Judul buku: The Last Concubine
Penulis: Lesley Downer
Penerjemah: Yusliani Zendrato
Penyunting: Nadya Andwiani
Penerbit: Matahati
Cetakan: I, 2008
Tebal: 657 hlm.

Selir
adalah sebuah kata yang lekat dengan kekuasaan sekaligus, mungkin, penderitaan. Kekuasaan karena praktik ini pada zaman dahulu sampai dengan hari ini berlangsung di balik istana raja-raja atau para lelaki penguasa. Penderitaan karena saya hampir yakin seratus persen tak ada selir yang benar-benar merasa bahagia dengan statusnya. Ia akan selalu jadi yang nomor dua atau dua ratus. Hak-haknya sebagai “istri” tidak sama dengan permaisuri (istri pertama). Jika mereka punya anak, hak anak-anaknya pun tidak sama dengan anak-anak dari istri pertama (putra mahkota). Walaupun secara materi segala keperluan mereka dipenuhi namun tempatnya tetap di wilayah “belakang”. Dengan kata lain sesungguhnyalah selir-selir ini berfungsi hanya untuk memenuhi kebutuhan seks “tuannya” dengan imbalan harta.

Praktik perseliran memiliki usia yang cukup purba; berlangsung di seantero dunia, dari Asia hingga Eropa, Amerika, dan Afrika. Umumnya, seperti telah saya sebut di atas, terjadi di kalangan istana (bangsawan). Tidak perlu jauh-jauh mencari contoh sebab sejarah kerajaan Nusantara telah banyak menuliskannya. Ingat saja misalnya riwayat Kartini atau Rara Mendut.

Kalau mau menyeberang agak jauh, praktik pergundikan itu bisa kita dapati di Cina dan Jepang yang terkenal dengan kekaisarannya. Di dalam kastilnya, konon, para kaisar itu memiliki selir hingga seribuan orang. Terbayang nggak sih bagaimana kaisar menggilir para perempuan peliharaan itu? Bukan mustahil ada selir yang seumur hidupnya mungkin cuma pernah digilir sekali saja. Dan sebaliknya, pasti ada juga satu dua orang yang menjadi selir kesayangan.

Kehidupan para selir ini telah banyak menginspirasi penulis untuk mengguratkannya dalam cerpen, novel, atau film. Salah satunya yang tengah beredar adalah The Last Concubine, novel karya Lesley Downer yang mengambil setting Jepang pada pertengahan 1800-an.

Waktu itu para shogun masih diakui kekuasaannya. Layaknya seorang penguasa yang nyaris menyamai kaisar, para shogun ini di dalam istananya memelihara banyak gundik atau dalam bahasa lebih halus disebut selir yang jumlahnya mencapai ratusan atau bahkan seribuan. Gundik-gundik ini diambil dari berbagai kalangan. Mulai dari putri keluarga sesama bangsawan tinggi, menengah, hingga dari kalangan rakyat jelata. Syaratnya: muda, bertubuh indah serta berparas rupawan.

Maka bukanlah hal yang mengherankan bila usia para selir itu ada yang masih belasan tahun. Menjadi selir seorang shogun adalah impian setiap perempuan pada masa tersebut. Tepatnya, idaman para orang tua yang memiliki anak gadis. Sebab, itu berarti hidup mereka sekeluarga akan terjamin selamanya. Bukan cuma kesejahteraan tetapi juga keselamatan. Dan sudah pasti status sosial mereka pun otomatis meningkat.

Melalui riset yang panjang, Lesley Downer mempersembahkan sebuah kisah seorang perempuan bernama Sachi yang ‘beruntung’ terpilih sebagai selir terakhir shogun penguasa Kastil Edo.

Sachi dipungut oleh Putri Kazu, istri Yang Mulia Shogun, dari sebuah desa kecil yang disinggahi sang putri dalam perlananannya menuju Edo. Saat itu si gadis kampung berumur 11 tahun. Raut wajahnya yang lebih menyerupai wanita ningrat daripada seorang gadis dusun telah memikat hati sang putri hingga beliau berkenan membawanya ke kastil sebagai dayang-dayang dan tinggal di sana bersama 3000 perempuan lainnya.

Di balik dinding kastil itu kehidupan Sachi berubah drastis. Dari seorang gadis desa bermetamorfosa menjadi wanita istana yang segala gerak-gerik, cara bicara, dan tingkah lakunya harus diatur sesuai tata cara istana. Apalagi setelah kemudian dia mendapat anugerah dipilih sang putri sebagai “hadiah” bagi sang shogun sebelum melakukan perjalanan jauh. Tak dinyana, Sachi ternyata menjadi selir terakhir karena sang shogun tewas terserang penyakit di perjalanan.

Menyusul wafatnya sang shogun, terjadi perubahan politik di Jepang. Pemberontakan kaum selatan mengharuskan para penghuni kastil Edo pergi mengungsi menyelamatkan diri. Termasuk Yang Mulia Putri Kazu. Demi menyelamatkan sang putri dari kejaran para pemberontak, Sachi ditugaskan menyamar sebagai Putri Kazu yang melarikan diri. Dalam pelariannya inilah Sachi menemui banyak peristiwa yang kelak membuka tabir rahasia yang selama ini menyelimuti kehidupannya.

Yang menarik dari buku ini adalah kenyataan bahwa kisah para gundik itu merupakan fakta sejarah yang terjadi ratusan tahun lalu. Siapa saja perempuan yang telah masuk ke dalam Kastil Edo, ia terikat seumur hidup mengabdi kepada sang shogun. Baik sebagai istri, selir, atau sekadar pelayan. Bagi mereka dunia hanyalah seluas kastil dan halamannya. Sehari-hari mereka mengerjakan hal rutin seperti berdandan, bermain musik, menulis syair, menghibur sang shogun, berlatih pedang, dan bergosip.

Tak jarang pecah juga konflik terbuka atau terselubung di antara para wanita itu yang timbul sebagai akibat persaingan menjadi yang terbaik, tercantik, terpandai, terpopuler, tersayang. Bukan tak mungkin berkembang pula hubungan cinta sejenis di antara mereka. Bayangkan saja, bagi mereka haram hukumnya menjalin hubungan dengan lelaki. Mereka milik sang shogun sampai akhir hayat.

Novel ini juga menyuguhkan roman cinta agar tak semata-mata memaparkan epik sejarah era Jepang kuno yang bisa jadi akan menjemukan pembacanya. Merupakan tantangan tersendiri menulis sebuah kisah cinta dari suatu masyarakat yang tidak mempunyai konsep tentang cinta yang romantis, yang dalam kamusnya tidak terdapat kosa kata “cinta”, begitu pengakuan Lesley Downer.

Kini Jepang telah menjelma sebuah negeri besar yang modern yang tetap dikepalai seorang kaisar, pemimpin yang dipercaya sebagai keturunan Dewa Matahari. Mungkin tak ada lagi praktik perseliran di sana. Mungkin……***

Minggu, 16 November 2008

Half of A Yellow Sun


Judul buku: Half of A Yellow Sun
Judul asli: Half of A Yellow Sun
Penulis: Chimamanda Ngozi Adichie
Penerjemah: Rika Iffati
Penyunting: Nuraini Mastura
Penerbit: Hikmah
Tebal: 765 hlm.
Cetakan: I, 2008

Sumpah! Sebelum membaca novel ini, saya tidak tahu bahwa ada negara Biafra di peta dunia. Bahkan nama Biafra pun baru pertama kali ini saya dengar. Republik kecil ini terletak di sebelah tenggara Nigeria. Tetapi itu dahulu. Kalau Anda mencarinya di peta bumi sekarang, sampai lebaran monyet pun tak akan bakal Anda temukan tanah air orang-orang Igbo itu. Sebab, Republik Biafra hanya berumur 3 tahun saja (30 Mei 1967 – 15 Januari 1970). Kini, Biafra kembali ke sejarah asalnya, menjadi bagian dari Republik Nigeria.

Seperti Indonesia, Nigeria berdiri di atas banyak suku bangsa (lebih dari 250 kelompok etnik) yang berbeda bahasa, adat istiadat, dan tradisinya. Dari 250, ada tiga kelompok etnik terbesar, yaitu: Hausa di Nigeria Utara, Yaruba di barat daya, serta Igbo di belahan tenggara. Igbo merupakan kelompok mayoritas penduduk Nigeria. Tak heran jika mereka banyak tersebar di seluruh wilayah Nigeria.

Sebagai mayoritas, orang-orang Igbo banyak menempati posisi penting dalam masyarakat, bisnis, maupun pemerintahan. Hal tersebut dimungkinkan karena orang-orang Igbo sejak Nigeria dalam pendudukan Inggris banyak menerima pendidikan Barat yang membuat mereka berbeda dengan kelompok etnik lainnya. Orang-orang Igbo yang terpelajar ini dalam kehidupan sehari-hari bergaya layaknya orang Eropa.

Seiring hengkangnya Inggris pada 1960, Nigeria kemudian mengalami perpecahan etnis, khususnya di antara 3 kelompok besar itu. Nyaris setiap hari terjadi konflik bukan saja anatarsuku tetapi juga antaragama. Puncaknya adalah pada pertengahan 60-an ketika akhirnya pecah perang saudara sebagai akibat pernyataan berdirinya Republik Biafra di bawah pimpinan Kolonel Ojukwu (30 Mei 1967). Konon, perang saudara ini telah menewaskan 1 juta orang (sipil dan militer) serta jutaan lainnya menderita kelaparan di kamp-kamp pengungsian.

Pemerintah pusat yang dipimpin oleh Yakubu Gowon melarang masuknya bantuan makanan dan obat-obatan dari dunia internasional ke wilayah konflik di Biafra. Alhasil, Biafra mengalami kekalahan total di bawah gempuran tentara Nigeria dan menyatakan takluk pada Januari 1970. Ojukwu minggat ke Pantai Gading meninggalkan jutaan rakyat Igbo dalam penderitaan.

Sejarah pahit perang sipil di Nigeria inilah yang direkam secara cermat dan detail oleh Chimamanda Ngozi Adichie, seorang penulis kelahiran Enugu, Nigeria (15 September 1977) dalam novel dramatik Half of A Yellow Sun. Judul ini diambil dari gambar separuh matahari kuning yang menjadi lambang Republik Biafra selain warna merah hitam hijau bendera mereka.

Kisah berlatar perang saudara yang penuh tragedi itu dituturkan dengan bahasa yang indah dalam kemasan drama menyentuh dengan tokoh utamanya seorang wanita Igbo, Olanna.

Berpusat pada tokoh Olanna, Adichie menguraikan kisahnya yang sarat pesan moral tentang kekejaman perang. Akibat nafsu serakah sekelompok orang yang ingin menjadi penguasa, jutaan rakyat sipil yang tak berdosa menjadi korban. Mereka harus kehilangan harta-benda dan anggota keluarga demi menyokong sebuah konflik perebutan kekuasaan yang konyol. Mereka harus menjadi pengungsi dan kelaparan di tanah airnya sendiri. Anak-anak kehilangan hak mendapat pendidikan dan kesehatan yang layak. Bahkan para remaja prianya harus ikut wajib militer, menjadi tentara anak-anak untuk memenangi perang. Para gadis pun tak luput menjadi korban, melayani nafsu seks para tentara.

Olanna seorang wanita Igbo berpendidikan Barat yang menikah dengan Odenigbo, dosen revolusioner yang sangat idealis; yang meyakini bahwa orang-orang Igbo bisa hidup lebih baik jika memisahkan diri dari Nigeria dan menjadi warga negara Biafra. Keyakinan Odenigbo ini yang kelak menjerumuskan dia dan Olanna ke dalam kubangan penderitaan perang. Mereka mesti rela meninggalkan kehidupan yang nyaman sebagai warga kelas satu di Nnsuka. Melupakan makanan-makanan lezat, brendi, dan anggur terpilih. Menggantinya dengan menu pengungsi yang sangat tidak manusiawi: garri, ikan kering, dan umbi-umbian. Bahkan manakala keadaan kian sulit, mereka terpaksa menyantap tikus, jangkrik, dan cecak panggang.

Olanna memiliki saudara kembar, Kainene, yang secara fisik dan karakter sangat bertolak belakang dengan dirinya. Kainene tidak cantik, cenderung keras sifatnya, lebih pragmatis, dan sangat rasional. Singkatnya, Kainene jauh lebih macho dibandingkan Olanna yang feminin. Oleh sebab itulah, ayah mereka lebih memercayakan bisnis keluarga kepada Kainene, kekasih Richard, seorang jurnalis Inggris yang ikut berjuang bersama rakyat Biafra. Sayangnya, hubungan kedua saudari kembar ini kurang mesra lantaran perbedaan sifat yang sangat mencolok itu. Mereka seperti terlibat dalam sebuah “perang dingin”.

Sementara itu, tokoh Richard selain berperan sebagai kekasih Kainene, ia juga hadir mewakili orang kulit putih yang bersimpati pada perjuangan rakyat Biafra. Ia yang semula hanya berniat melakukan riset tentang belanga bertali untuk bukunya, ternyata jatuh cinta pada rakyat Biafra. Maka, ia lalu menjadi saksi mata bagi beragam kekerasan yang terjadi di sana. Melalui tulisan-tulisannya ia menyiarkan warta dan fakta yang terjadi di daerah konflik. Ia merencanakan kelak bukunya akan terbit dengan judul “Dunia Bungkam Ketika Kami Mati”.



Half of A Yellow Sun tak pelak lagi adalah sebuah novel politik yang menyuarakan protes dan kritik seorang Adichie. Namun, kritik yang disampaikan oleh penulis penerima penghargaan O’Henry (2003) ini bukanlah kritik yang penuh amarah dan caci-maki. Ia cukup jernih dan proporsional dalam melihat persoalan yang ditampilkannya. Dengan bahasa yang lembut memikat, ia justru berhasil menyentuh kesadaran kemanusiaan kita dan menggetarkan nurani.

Di awal novel saya bahkan tidak mengira kalau ini sebuah novel perang yang berdarah-darah, sebab beberapa metafora yang digunakan Adichie lebih cocok untuk sebuah novel cinta romantis. Mari saya cuplikan dua di antaranya:

Bahasa Inggris Tuan seperti musik, tetapi yang didengar Ugwu sekarang dari perempuan ini adalah keajaiban. Inilah bahasa ulung, bahasa yang memukau, jenis bahasa Inggris yang didengar Ugwu dari radio Tuan, meluncur ke luar dengan ketepatan yang rapi. Mengingatkan Ugwu tentang mengiris ubi dengan sebilah pisau yang baru diasah, kesempurnaan yang nyaman dalam setiap irisan (hlm 38).

Ah ya, hampir lupa. Ada satu lagi tokoh yang tidak boleh dilewatkan : Ugwu. Bocah lelaki pelayan setia dan sangat disayang oleh Odenigbo dan Olanna. Ugwu nyaris selalu menjadi saksi setiap peristiwa yang berlangsung di antara para tokoh lainnya. Kadang-kadang, dalam novel ini, Ugwu meminjamkan mata dan telinganya dan berfungsi sebagai “narator”.

Kembali kepada kutipan di atas. Saya rasa rangkaian metafora yang terdapat pada kalimat tersebut menjadi menarik karena memakai perbandingan benda-benda yang akrab dengan pengucapnya, Ugwu, budak pelayan yang sehari-harinya bekerja di wilayah “bumbu dapur”. Akan jadi sangat aneh apabila ungkapan yang dipakai Ugwu barang-barang yang tidak pernah dilihat dalam keterbatasan pengetahuan dan pengalamannya. Satu contoh lagi :

Akan tetapi Olanna benar-benar ada di pintu itu. Dia berjalan mengenakan kain sarung yang diikatkan ke sekeliling dadanya, dan saat wanita itu berjalan, Ugwu membayangkan bahwa Olanna adalah sebutir kacang mete kuning, indah bentuknya dan ranum (hlm. 41).

Sebelum saya akhiri ulasan ini, saya ingin menyampaikan pujian bagi penerjemah buku ini, Rika Iffati. Terjemahan yang bagus, bahkan untuk bagian puisinya yang akan saya tampilkan sebagai penutup tulisan ini :

APAKAH KAU DIAM KETIKA KAMI MATI?

Apakah kau melihat foto-foto tahun enam puluh depalan
Menampilkan anak-anak dengan rambut berangsur memerah;
Bidang-bidang pucat hinggap pada kepala-kepala mungil itu,
Kemudian rontok, seperti dedaunan busuk jatuh ke atas tanah?

Bayangkan anak-anak dengan lengan seperti tusuk gigi,
Dengan bola sepak untu perut dan kulit terbentang tipis.
Itu adalah kwashiorkor – kata yang sulit,
Sebuah kata yang tak cukup jelek, sebuah dosa.

Kau tak perlu membayangkan. Ada foto-foto
Terpampang pada halaman-halaman majalah Life-mu yang mengilat itu
Apakah kau melihatnya? Apakah kau merasa iba sesaat?
Lantas berbalik untuk memeluk kekasih atau istrimu?

Kulit mereka telah berubah menjadi cokelat laksana the encer
Serta menampakkan jarring-jaring urat dan tulang nan rawan
Anak-anak telanjang tertawa, seolah-olah pria itu
Tak akan memotret lantas pergi, seorang diri.

***

Sabtu, 25 Oktober 2008

Kartunama Putih


Judul buku: Kartunama Putih
Penulis: Kurnia Effendi
Penerbit: Biduk, Bandung
Cetakan: I, 1997
Tebal: xiv + 95 hlm.

Kurnia Effendi sebagai cerpenis, itu sudah lama saya tahu. Sejak dua puluh tahun yang lalu di era generasi Anita Cemerlang. Tetapi bahwa ia juga seorang penyair, baru belakangan ini saya mengetahuinya. Dan diam-diam, oh…tepatnya sih saya yang kurang informasi, ia telah pernah menerbitkan puisi-puisinya itu dalam satu buku : Kartunama Putih. Buku tersebut lahir 11 tahun silam.

Kerena usianya yang sudah cukup “tua” untuk ukuran sebuah buku, tidaklah mengherankan jika kita sudah tidak akan menemukannya lagi di rak-rak toko buku. Namun, beruntunglah saya yang berkat persahabatan saya dengan penulisnya, masih bisa menikmati jejak kepenyairan Kurnia Effendi atau yang kerap disapa dengan nama akrabnya, Kef, ini. Sepekan lalu, pada sebuah siang yang menyengat, ia menghadiahi saya buku kumpulan puisinya itu.

Kartunama Putih memuat 86 biji sajak yang bertema atau berkisah ihwal nama-nama orang yang oleh saya akan saya bedakan menjadi dua bagian. Pertama adalah puisi-puisi yang melibatkan atau diperuntukkan bagi orang-orang terdekat Kef. Misalnya, istri, anak-anaknya, keluarga, keponakan, kakek, sahabat, atau bisa jadi sejumlah mantan kekasih di masa remaja. Bagian kedua merupakan puisi-puisi persembahan atau ungkapan kekaguman Kef kepada para tokoh. Baik nasional ataupun internasional. Di sana akan kita temukan nama-nama seperti Mega, Udin, Benyamin Netanyahu, Slobodan Milosevic, dan lain-lain.

Dari kedua pembagian ini, saya bisa merasakan perbedaannya. Maksud saya, saya merasakan kesan yang berbeda dari keduanya.

Pada bagian untuk orang-orang terdekatnya, puisi-puisi yang ditulisnya terasa lebih “bunyi”. Barangkali karena ia benar-benar menuliskannya dari hati. Dari jarak yang dekat dengan subjeknya. Benar-benar merupakan ungkapan perasaan yang personal; yang umumnya hanya bisa dipahami oleh yang bersangkutan. Tetapi tidak demikian halnya dengan sajak-sajak Kef di buku ini. Meskipun puisi tersebut sangat personal sifatnya dan bukan ditujukan untuk kita (baca : saya), tapi kita (baca: saya) dapat ikut merasakan getarannya. Dengan kata lain, sampai ke hati. Baik maknanya maupun keindahannya. Atau saya lebih suka menyebutnya sebagai puisi-pusi yang bikin cemburu; lantaran tatkala membacanya saya membayangkan tentu pribadi-pribadi kepada siapa Kef menujukan sajak-sajaknya ini merasa tersanjung dan senang sekali. Sebab hal yang sama pernah saya rasakan pula.

Untuk jelasnya, baiklah, saya petikkan satu contohnya :


R.A.

Tinggal wangi bajumu, menyapu udara, ketika
Kereta bertolak ke utara. Tanganmu lepas dari
Genggaman. Jarak pun berkali lipat menawarkan sunyi
Di bumi yang selalu basah ini kutunggu kabar:
Kapan engkau kembali? Hujan terus turun, mencuci
Jarak pertemuan yang sengaja kunamai kenangan
Dingin peron merayap ke lantai kamar. Tempat
Sepasang kakiku terhenti. Menopang kerinduan
Yang tiba-tiba sangat berat.

Ingin kularutkan dalam mimpi: seluruh percakapan
Tentang harapan dan kecemasan. Juga tahun-tahun
Yang kupertaruhkan. Menunggu bulan turun
Ke pangkuan, alangkah panjang pengembaraan
Di malam yang kelewat basah, terus kupagut
Wangi bajumu. Terus kupagut

Puisi yang berangka tahun 1989 ini, jelas sekali merupakan puisi persembahan cinta untuk kekasih yang kini menjadi istrinya : R.A. Kependekan dari Ratu Ade. Tentu waktu itu mereka masih berstatus pacaran.

Walaupun “R.A.” sajak yang sangat personal bagi penulisnya, namun kita bisa meminjamnya untuk merayu kekasih kita. Apa lagi bila peristiwa atau situasi yang kita hadapi memiliki kemiripan dengan sajak tersebut.

Atau sajak yang ini :

KANGEN
: Ageng-Erda

Benarkah hanya jarak memisahkan kita
(Bukan karena orang ketiga, atau matirasa?)
Waktu telah lancang menghimpun seluruh
Perasaan yang diam-diam kutabung untukmu

Bahwa suatu ketika kado ini kubuka
Persis di depan bolamatamu
Yang menyembunyikan sejumlah gemerlap,
adalah tentang kangen semata

Ini juga milikku
Satu kangen yang tak bergeser
dari alamatmu.

Saya tentu tak kenal Ageng dan Erda. Dan saya memang tak perlu mengenal mereka lebih dahulu untuk bisa menikmati sajak ini; untuk dapat ikut serta merasakan kerinduan seorang kekasih di dalamnya. Bahkan saya berniat, kapan-kapan jikalau saya sedang kangen pada kekasih saya (kalau pas lagi punya kekasih), saya akan ungkapkan rindu saya dengan sajak ini.

Nah, kini mari kita bandingkan dengan sajak-sajaknya di “bagian kedua”. Langsung saja saya ambil satu sampel :

MEGA

Ketika bibirmu tersenyum
Beribu-ribu hati bijak turut tersiram sejuk
Tanganmu yang mengepal: menanamkan tunas
semangat kepada kebun massa di sekelilingmu

Engkau duduk pada kursi yang mula-mula
disiapkan untuk memimpin komunitas luluh-lantak
Babak kondisional dalam peta sosial politik,
dielu-elu dengan saputangan basah
Lorong panjang masa silam kembali diteropong
Darah orator mengalir kuat di jantungmu

Ketika bibirmu tersenyum
Seharusnya untuk 1993 sampai 1998
Namun dramatisasi dalam sandiwara negeri ini diperlukan
Untuk mengecoh para penulis sejarah masa depan
Akankah tangan-tangan kita perlu berlumur darah lagi?

Engkau kini duduk di kursi goyah
Sedang mata dunia tengah bersama-sama menatap
dari segala penjuru. Mungkin berjuta lembar skenario
harus ditimbang-tinbang, sebelum diterbitkan
dengan tinta cetak kepalsuan
Akankah tangan-tangan kita perlu berlumur darah lagi?

Sajak ini ditulis tahun 1996. Sudah pasti bermaksud mengenang peristiwa bersejarah 27 Juli 1996 yang berupaya menumbangkan Megawati dari kursi ketua DPP PDI. Zaman itu, ketika pemerintahan masih dijalankan oleh rezim Orde Baru yang otoriter, sosok Megawati dan PDI-nya menjadi simbol perlawanan. Megawati yang didzalimi, telah menumbuhkan banyak simpati di hati banyak orang di negeri ini. Mungkin termasuk Kurnia Effendi, sehingga terciptalah puisi ini.

Perhatikan diksi yang dipilih Kef dalam sajak ini. Sangat berbeda dengan yang ia pakai dalam sajak-sajak cintanya yang lembut dan romantis. Pada sajak “Mega” ini, saya seperti sedang membaca pamflet. Ada aroma politik, kekerasan, bau amis darah, kemarahan, serta sarat gugatan di sana. Demikian pula pada sajak “Literatur Kematian Udin” (hlm.16), “Kepada Ny. Hillary Clinton” (hlm.38), dan “Slobodan Milosevic” (hlm.24)

Tetapi itu masih lumayan. Masih lumayan ngerti, maksud saya. Sosok Megawati, Udin, Ny. Clinton, dan Milosevic bukanlah sosok asing. Namun, ketika sampai pada Peter Brook, Eva Johnson, Narrowsky, Oodgeroo Noonuccal, atau Hikotaro Yazaki, lantaran dangkalnya ilmu yang saya punyai, terpaksa kudu tanya si Google dulu untuk mengulik pengetahuan ihwal nama-nama tersebut. Akibatnya, saya merasakan ada jarak antara saya dengan puisi-puisi tentang mereka. Tidak senikmat saat saya membaca puisi-puisi di “bagian pertama”. Ah, mudah-mudahan Kef menulis sajak-sajak di “bagian kedua” ini bukan sekadar sebagai sebuah upaya gagah-gagahan.

Lalu, mana sajak “Kartunama Putih” yang dipakai untuk judul buku ini? Ia terletak di halaman xi (pembuka) dan 95 (penutup) :

Kartunama itu putih saja
Tak ada huruf kecuali warna kain kafan
Kartunama itu : putih saja

Namun, agaknya kartunama itu tak putih lagi. Di dalamnya, Kef telah mengukir nama-nama, puisi-puisi…***

Selasa, 14 Oktober 2008

Jalan Raya Pos, Jalan Daendels


Judul buku: Jalan Raya Pos, Jalan Daendles.
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Editor: Daniel Mahendra dan Astuti Ananta Toer
Penerbit: Lentera Dipantara
Cetakan: I, 2005
Tebal: 148 hlm.

Telah satu windu lebih setiap hari saya melakoni perjalanan pergi pulang Jakarta-Puncak setiap hari. Ya, setiap hari, karena kantor saya terletak nun di negeri awan dengan selendang kabut yang melayang-layang di pagi hari : Puncak. Anda tentu tahu perkebunan teh yang membentang di kiri kanan Jalan Raya Puncak mulai dari desa Tugu Selatan dan berakhir di sekitar restoran Rindu Alam? Nah, di situlah saya ngantor setiap harinya. Enam hari dalam sepekan. Nama perkebunan itu adalah Gunung Mas yang merupakan salah satu “warisan” peninggalan pemerintah kolonial Belanda.

Oh, saya melantur. Sebaiknya saya segera kembali ke niat semula membincang ihwal riwayat Jalan Raya Pos atau yang lebih populer lagi dengan sebutan Jalan Daendels (atau beken juga dengan nama Anyer-Panarukan). Kiranya salah sepotong jalan yang memiliki panjang keseluruhan seribu kilometer itu adalah Jalan Raya Puncak yang selama delapan tahun mondar-mandir saya lalui setiap hari.

Sebetulnya saya sudah sedikit mengetahui fakta tersebut. Namun, selama ini saya tidak pernah memberikan perhatian khusus pada jalan raya yang dalam sejarah pembuatannya telah menelan ribuan korban jiwa (menurut data pemerintah Inggris, sekitar 12.000) rakyat Indonesia. Barulah setelah membaca buku nonfiksi karya sastrawan aktivis Lekra, Pramoedya Ananta Toer, perhatian saya tergugah sepenuhnya.

Kini, jika tidak tertidur di angkot, setiap kali melintasi jalur Puncak tersebut, saya membayangkan betapa sengsaranya para kuli pribumi saat menjalani kerja rodi membangun jalan ini. Membabat hutan, memangkas bukit. Membelahnya hingga menjadi sebatang jalan yang menembus memanjang hingga ke ujung timur Pulau Jawa. Dengan teknologi dan peralatan yang tentu masih sangat sederhana, tak mengherankan jika banyak jatuh korban dalam upaya pembikinan jalan ini. Terlebih lagi mereka bekerja secara paksa di bawah tekanan penjajahan yang dipimpin oleh Sang Tuan Besar Guntur, Mr. Herman Willem Daendels. Tanpa upah dan kerap tak diberi makan.

Pramoedya, sastrawan yang banyak melahirkan roman sejarah, kali inipun menuliskan riwayat Jalan Daendels ini dengan cara bertutur, mengawinkan fakta sejarah dengan pengalaman pribadinya dengan kota-kota yang dilewati jalan raya “maut” ini.

Ia memulai kisahnya dari Lasem, Jawa Tengah. Kota yang dekat dengan tanah kelahirannya : Blora. Kemudian meloncat ke ujung barat Jawa: Anyer, tempat “mandor” Daendels pertama kali menginjakkan kaki di bumi Jawa (5 Januari 1808).

Dari Anyer, ia lantas mengurutnya ke Cilegon, Banten, Serang Tangerang, dan Batavia. Semua daerah itu ada di garis pantai utara Jawa. Dari Batavia Jalan Raya Pos ini membelok ke Depok, berlanjut ke jalur mudik selatan: Bogor (waktu itu namanya masih Buitenzorg), Cianjur, Cimahi, Bandung, Sumedang, dan berakhir di Karang Sembung sebelum kembali menuju pantura (jalur mudik yang senantiasa macet dan rawan kecelakaan) yang berawal di Cirebon.

Dari Kota Udang ini, Meneer Daendels memerintahkan untuk melanjutkan pembuatan jalan terus ke timur, melewati sederetan kota sebagai berikut: Losari, Brebes, Tegal, Pekalongan, Batang, Waleri, Kendal, Semarang, Demak, Kudus, Pati, Juwana, dan stop di Rembang yang merupakan perbatasan Jawa Tengah dan Oosthoek (Jawa Timur).

Apakah jalan itu buntu di kota tepi pantai ini? Tentu tidak, sebab kita tahu dari sejarah, jalan “berdarah” ini berujung di Panarukan, Jawa Timur. Maka, dari Rembang jalan menyambung ke Tuban, Gresik, Surabaya, Wonokromo, Sidoarjo, Porong, Bangil, Pasuruan, Probolinggo, Kraksaan, Besuki, dan tamat di Panarukan yang pada masanya pernah menjadi pelabuhan terpenting di bagian paling timur pantai utara Jawa.

Jika hanya menuliskan barisan kota-kota tadi, pastilah terbayang di benak Anda (dan saya sebelum membaca) alangkah membosankannya buku ini. Tetapi bukan Pram namanya jika ia tak pandai menyiasati “sejarah”.

Maka, Pram mengakali penulisan sejarah Jalan Raya Pos ini melalui penuturan yang sangat personal; mengaitkannya dengan pengalaman dan kenang-kenangannya terhadap barisan kota yang dilalui jalan raya itu plus sejarah kota-kota tersebut sembari sesekali melontarkan kritik dan kecaman terhadap penguasa. Bahkan kejadian-kejadian lucu yang sempat dialaminya tak luput diuraikan pula.

Misalnya, pengalaman harus mengantre selama dua harmal (dua hari dua malam) di Semarang untuk memperoleh karcis kereta api cepat jurusan Jakarta. Atau pengalaman “menjijikan” ketika ia menginap di markas Laskar Rakyat di Cirebon pada pertengahan 1946. Pada tengah malam, mendadak Pram muda terserang sakit perut ingin buang air besar. Karena tidak ada penerangan, di dalam kakus, ia tak dapat melihat apapun di sekitarnya.

“Kaki menggerayangi takhta kakus. Begitu mendapatkan ketinggian langsung nongkrong. Aneh, barang buangan itu jatuh memantulkan bunyi minor. Membersihkan diri pun tangan gerayangan mencari sumur. Dan waktu membasuh itu korek logam jatuh dari kantong celana. Curiga pada suara minor aku kembali ke kakus. Sinar api korek itu? Masya Allah, ternyata yang kuberaki bukan takhta kakus tapi tungku dapur. Dan kotoranku jatuh ke dalam periuk rendah yang masih ada sisa singkong rebus” (hlm. 79).

Sudah pasti, paparan demikian tak akan kita temukan dalam buku teks sejarah. Oleh karenanya, melalui buku Jalan Raya Pos, Jalan Daendels ini sejarah jadi terasa menarik dan nikmat untuk diikuti. Dengan ketekunan seorang sejarawan, Pram mencangkuli, menggali, setiap data dan detail sebuah peristiwa untuk kemudian dicatat dan dituliskan kembali sebagai sebuah upaya melawan lupa.

Tahun ini, tepat 200 tahun usia Jalan Raya Daendels. Pada masanya, jalan ini pernah menjadi jalan terpanjang di dunia. Sama dengan jalan raya yang menghubungkan Amsterdam-Paris. Jalan yang ternyata tidak sepenuhnya hasil karya Daendels (jalan aslinya sebagian sudah ada sejak berabad-abad sebelumnya, ia hanya melebarkannya menjadi 7 meter) ini, menjadi saksi dan bukti pembantaian manusia-manusia pribumi. Kisah di balik pembuatannya hanya salah satu dari banyak tragedi kerja paksa yang pernah berlangsung di Hindia Belanda. Di bawah Jalan Daendels ini terhimpun ribuan mayat petani dan orang-orang kecil tak berdaya.

Dan, oops! “Kuburan” itulah yang selama sewindu setiap hari saya lintasi. Masya Allah….***

Minggu, 21 September 2008

Nora : Tetralogi Dangdut Jilid 1


Judul buku: Nora
Penulis: Putu Wijaya
Editor: Kenedi Nurhan
Penerbit: Penerbit Buku Kompas
Cetakan: November, 2007
Tebal: 304 hlm

Siapa tak kenal Putu Wijaya? Nama itu tak asing lagi di kalangan pencinta sastra dan teater. Kiprah seniman-sastrawan asal Tabanan, Bali ini sudah dimulai sejak ia masih duduk di kelas 3 SMP. Jadi kira-kira sudah lebih dari 50 tahun yang lalu, ya. Sebab, usia pria bernama lengkap I Gusti Ngurah Putu Wijaya kini 64 tahun. Tak heran jika dalam perjalanan yang panjang itu ia telah banyak memperoleh penghargaan dalam dunia yang digelutinya.

Seperti kebiasaan saya membeli buku dengan pertimbangan utama nama penulisnya, maka Nora saya comot dari rak di toko buku tentu karena penulisnya adalah Putu Wijaya. Beberapa karyanya sudah saya lahap sejak mungkin lebih dari sepuluh tahun lalu. Terutama cerpen-cerpennya yang kadang-kadang terasa absurd sebagaimana karya-karya drama yang ditulis dan disutradarainya. Banyak di antara ratusan cerpennya yang saya suka, tetapi tak sedikit juga yang bikin jidat saya berkerut tujuh lapis saking absurdnya. Celakanya, sudah begitupun saya ternyata lebih sering gagal menangkap maksudnya. Umpamanya sewaktu menonton pementasan dramanya yang berjudul “Zero”. Pemahaman saya terhadap apa yang tersaji di panggung benar-benar zero.

Maka, tatkala usai membaca Nora–yang merupakan buku pertama dari rangkaian “Tetralogi Dangdut” seperti tertulis di kover novel ini–dengan sejumlah “ganjalan”, saya berusaha menemukan “pembenarannya”. Maksud saya, ketika di dalam Nora saya mendapati hal-hal yang saya tidak sepakat karena kelewat dramatis, saya berusaha melihatnya dari kacamata yang lain (kacamata apa ya?) kendati tak selalu berhasil.

Novel ini dimulai dengan sebuah pembukaan yang menarik : Nora tanpa sengaja melihat kemaluan Mala, pria lajang tetangganya, saat Mala membuang hajat kecilnya di gerumbul semak kembang sepatu. Ketika itu Nora sedang mencuci piring di sebaliknya. Apa yang dilihatnya membuat Nora panas dingin dan berhari-hari meracau dalam ketidaksadarannya; menyebutkan kata-kata : “Takut…takut…takut. Hitam. Besar. Panjang..”

Igauan tersebut lalu disimpulkan oleh kedua orang tua Nora sebagai akibat dari perbuatan jahat seseorang terhadap putri mereka. Saat kemudian racauan Nora melafalkan nama Mala, tak pelak lagi tuduhan bagi si pelaku perbuatan jahat itu jatuh pada Mala, tetangga mereka, pemimpin redaksi sebuah majalah berita. Maka, lantas mereka mendatangi Mala untuk bersegera menikahi Nora.

Tanpa kuasa menolak, Mala pasrah saja pada todongan orang tua Nora. Ia yang dikenal sebagai seorang yang kritis, rasional, cerdas, berpendidikan tinggi, berpandangan luas, tiba-tiba menyerah begitu saja pada “nasib” yang disodorkan oleh ayah Nora. Menikahlah ia dengan Nora, gadis kampung lugu yang tidak pernah benar-benar dikenalnya. Agar tindakan Mala tampak masuk akal, Putu Wijaya memberi penjelasan sederhana: setiap orang punya sudut gendeng yang tidak dimengertinya sendiri. Tubuh sudah punya kemauan sendiri dan bertindak seenak udelnya tanpa konsultasi. Mala seperti dihipnotis, mengiyakan semuanya.

Setelah menikah, Mala ternyata hanya dijadikan sapi perahan oleh keluarga istrinya itu. Seluruh kebutuhan keluarga dia yang mencukupinya. Sementara itu, Nora sama sekali tidak pernah disetubuhinya sebab ia mengira istrinya itu sedang hamil akibat perbuatan lelaki lain sebelum menikah dengannya. Sampai berbulan-bulan ia tak menyadari bahwa Nora sebenarnya tidak pernah hamil.

Pada suatu hari tanpa persetujuan Mala, orang tua Nora menerima lamaran dan hendak menikahkan Nora dengan orang lain. Keberatan Mala tidak digubris. Mereka tetap menikahkan (lagi) Nora dengan laki-laki yang masih ada hubungan sanak famili dan meminta Mala membiayai pernikahan tersebut. Lagi-lagi Mala tidak berdaya.

Sementara itu, kehidupan Mala di luar hubungannya dengan Nora, juga sedang mengalami ujian. Pergaulannya yang luas tanpa disadarinya telah melibatkannya dengan Yayasan Nurani, perkumpulan politik yang berkedok yayasan yang agenda utamanya makar dan mengubah NKRI menjadi negara serikat. Tiba-tiba saja Mala telah terseret sebuah persoalan besar yang di dalamnya menyertakan pula kedua sahabatnya, Midori dan Adam. Termasuk pula dana sebesar 400 miliar rupiah. Persoalan semakin rumit sewaktu kemudian Midori ditemukan tewas terpotong-potong. Sebuah konspirasi tingkat tinggi yang tidak Mala mengerti telah menjeratnya sebagai tersangka pelaku pembunuhan tersebut.

Meski dengan geregetan, saya akhirnya bisa juga menamatkan novel ini. Bukan karena menarik, tetapi lantaran penasaran ingin tahu mau dibawa ke mana cerita ini sebenarnya. Jelas sekali, buku ini berpijak pada realisme, walaupun di beberapa bagian terlihat dilebih-lebihkan. Seperti gambar karikatur. Atau ibarat lagu dangdut yang syair dan ceritanya kerap sangat dramatis (untuk tidak menyebutnya norak) dalam mengungkapkan sesuatu. Apakah itu sebabnya Putu menamakan karyanya ini sebagai “Tetralogi Dangdut”?

Mulanya sih saya masih bisa ketawa-ketiwi lantaran menganggap lakon ini sebagai sebuah gaya lucu-lucuan ala Putu. Namun, lama-lama jadi sebal juga saat Putu makin “seenaknya”. Bagai menonton pertunjukan sandiwara panggung yang banyak adegan improvisasinya. Peristiwa dan para pemain sering ujug-ujug datang dan pergi seolah tanpa direncanakan. Misalnya saja, kita baru tahu bahwa Mala ternyata punya pinjaman 100 juta rupiah kepada kantornya untuk membangun rumah padahal sebelumnya hal tersebut tidak pernah disinggung-singgung. Fakta ihwal utang Mala itu muncul secara sekonyong-konyong di tengah adegan raibnya dana sebesar 400 miliar dari rekening Mala.

Demikian pun tentang karakter Mala yang kelewat baik sehingga malah jadi “bodoh” itu, rasanya kok berlebihan betul. Ada fakta yang saling bertentangan dalam karakter Mala. Ia yang cerdas, serbarasional, calon doktor, jadi terasa aneh ketika tak berdaya berhadapan dengan keluguan Nora dan kebebalan keluarganya. Atau barangkali saya harus ikhlas untuk sepakat dengan apa yang dikatakan Putu, bahwa setiap orang memiliki sudut gendeng yang tidak dimengertinya? Yang pasti sih, saya capek mengikuti alur logika buku ini yang terasa dibentur-benturkan. Saya tidak yakin, seandainya bukan Putu Wijaya yang menulis, apakah bakal ada penerbit yang mau menerbitkannya. Yang jelas, saya sudah memutuskan untuk tidak membaca buku lanjutannya. Atau mungkin Anda punya pendapat berbeda?***