Senin, 25 Mei 2009

Kolam: Buku Puisi Sapardi Djoko Damono


Judul Buku: Kolam
Penulis: Sapardi Djoko Damono
Penerbit: Editum
Cetakan: I, 2009
Tebal: 120 hlm

Buku ini dibedah pekan lalu (18/5) di Salihara bersama Hasan Aspahani (penyair) dan Muhammad Al Fayyadl. Buku dengan sampul hitam putih bergambar lukisan karya Jeihan ini memuat 51 puisi terbaru Sapardi Djoko Damono (selanjutnya aku sebut Sapardi saja). Kelima puluh satu sajak tersebut dibagi menjadi 3 bagian (kata Reda Gaudiamo pada kesempatan bertemu di sebuah acara sastra, Sapardi sangat suka angka 3).

Tahun ini, tepatnya 20 Maret silam, penyair idolaku ini genap berusia 69 tahun (eh, 69 bukan angka genap, ya?). Sebuah angka yang tidak muda lagi tentu. Namun, pada usia senjanya itu, Sapardi masih terus menyajak, membuktikan kecintaan dan kesetiaannya kepada seni yang bernama puisi.

Kalau kita cermati sejak buku perdananya, DukaMu Abadi (1969 – wow, aku masih orok!) hingga yang hadir terakhir ini, Kolam (2009 – berjarak tepat 40 tahun!), kita bisa lihat ada sesuatu yang mengabadi di dalamnya: kesetiaan Sapardi menggunakan benda-benda alam sebagai alat pengucapan sajak-sajaknya. Dalam rentang 40 tahun itu, kita akan selalu bertemu dengan kabut, bunga, embun, matahari, bulan , bintang, langit, rumput, pohon, ilalang, awan, ranting, sungai, laut, hujan……

Ketika hal tersebut disinggung oleh Zen Hae (penyair) pada malam diskusi di Salihara itu, Sapardi menanggapinya dengan berujar, “Yang terpenting adalah bukan apa yang diucapkan, tetapi bagaimana mengucapkannya (puisi). Bagi saya, sudah tidak ada lagi yang baru di dunia ini. Tema dalam puisi itu kan hanya merupakan pengulangan-pengulangan.”

Terlepas apakah Anda setuju atau tidak pada jawaban Sapardi, untukku puisi-puisi bapak ini tetaplah menjadi sesuatu yang memukau. Ia tidak ingin bercanggih-canggih dengan serba-kebaruan. Ia memilih menjadi seorang penjaga “taman” yang setia, sebab “taman” itu adalah temuannya. Miliknya. Seperti halnya celana bagi Joko Pinurbo. Kurang lebih seperti itulah pendapat Hasan Aspahani yang dengan ikhlas kusepakati. Bagiku, dalam kesetiaannya itu, puisi-puisi Sapardi menjadi klasik dan akan senantiasa lestari.

Ada yang menarik, khususnya buatku, pada acara diskusi yang lalu. Sebelum acara resmi dimulai, aku sempat bertukar kata dengan Hasan Aspahani. Tak jauh-jauh topiknya, masih di sekitar pinggir-pinggir Kolam.

Hasan bertanya padaku, “Gimana, Ndah? Sudah khatam Kolam-nya? Apa favoritmu?”

“Pohon Belimbing,” sahutku. Itu merupakan sajak nomor urut 2 di buku ini.

Belum sempat kami membincangnya lebih jauh, Guntur Romli yang malam itu bertindak selaku pembawa acara, telah naik mimbar dan memanggil Hasan untuk segera menempati kursi di muka. Acara akan segera dibuka dengan pembacaan satu puisi oleh Sapardi. Anda tahu, puisi apa yang dipilih beliau? “Pohon Belimbing”. Ah..aku jadi merasa Sapardi khusus membacakannya buatku J

Inilah “Pohon Belimbing” itu:

Pohon Belimbing

Sore itu kita berpapasan dengan pohon belimbing wuluh
yang kita tanam di halaman rumah kita beberapa tahun yang
lalu, ia sedang berjalan-jalan sendirian di trotoar. Jangan
kausapa, nanti ia bangun dari tidurnya.
Kau pernah bilang ia tidak begitu nyaman sebenarnya
di pekarangan kita yang tak terurus dengan baik., juga karena
konon ia tidak disukai rumput di sekitarnya yang bosan
menerima buahnya berjatuhan dan membusuk karena kau
jarang memetiknya. Kau, kan, yang tak suka sayur asem?
Aku paham, cinta kita telah kausayur selama ini tanpa
Belimbing wuluh; Demi kamu, tau! Yang tak bisa kupahami
adalah kenapa kau melarangku menyapa pohon itu ketika
ia berpapasan dengan kita di jalan. Yang tak akan mungkin
bisa kupahami adalah kenapa kau tega membiarkan pohon
belimbing wuluh itu berjalan dalam tidur?
Kau, kan, yang pernah bilang bahwa pohon itu akan jadi
tua juga akhirnya?


Entah. Barangkali aku pun tak paham sepenuhnya maksud puisi ini. Namun, ada yang terasa indah saat aku membacanya. Juga membersit sebuah perasaan cinta yang tulus, yang telah teruji melewati waktu nan panjang. Tetapi tentu saja, Anda boleh mempunyai tafsir yang berbeda terhadapnya. Tak berlaku tafsir tunggal dalam fiksi, terlebih puisi. Memangnya Pancasila? :D

Sebetulnya masih ada satu puisi lagi yang bakal menjadi calon kuat menggantikan “Aku Ingin” sebagai sajak wajib Valentine’s Day versi aku. Wajib di sini artinya, setiap Hari Cinta Kasih itu tiba, aku selalu mengirimkan untaian sajak tersebut kepada beberapa orang (cowok dong) yang “istimewa”. Agaknya, Februari tahun depan, “Aku Ingin” akan kutukar dengan sebuah puisi yang mirip: “Seperti Kabut”. Tidak percaya bahwa mereka mirip satu sama lain? Nih, aku kasih lihat, ya:

Seperti Kabut

aku akan menyayangimu
seperti kabut
yang raib di cahaya matahari
:
aku akan menjelma awan
hati-hati mendaki bukit
agar bisa menghujanimu
:
pada suatu hari baik nanti.

Bagaimana? Mirip sekali, kan? Spiritnya terutama: cinta.

Jadi, bagi Anda para penggemar Sapardi sepertiku atau penyuka sajak-sajak cinta yang manis romantis, Kolam perlu dimiliki sebagai koleksi karya seorang “dewa”. Puisi-puisinya bukan jenis yang berat, yang membikin kening berlipat empat. Lagian, tak perlu betul untuk benar-benar memahaminya kok. Seperti aku, nikmati saja.***

Minggu, 10 Mei 2009

Pada Sebuah Kapal


Judul buku: Pada Sebuah Kapal
Penulis: NH Dini
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Kesembilan, 2004
Tebal: 351 hlm

Nama
NH Dini sudah kudengar sejak aku di SMP lewat pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Jika harus menyebut salah satu karya terbaiknya dari sekian banyak buku yang ditulisnya, Pada Sebuah Kapal adalah jawabannya. Novel panjang yang konon memakan waktu 10 tahun dalam proses penerbitannya ini, bisa jadi merupakan otobiografi penulisnya. Banyak terdapat kesamaan, baik kisah maupun karakter, antara tokoh Sri dalam buku ini dengan NH Dini yang juga bernama lengkap Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin.

Novel ini terbit pertama kali pada 1973 di bawah penerbit PT Dian Pustaka Jaya. NH Dini mengetik naskahnya hanya dalam waktu satu bulan pada tahun 1963. Waktu itu ia telah menikah dengan seorang diplomat Prancis, Yves Coffin. Dalam buku ini, tokoh utamanya, Sri juga menikah dengan seorang diplomat Prancis, Charles Vincent. Sri, sebagaimana Dini, adalah seorang penari dan penyiar radio.

Namun, terlepas dari apakah benar novel ini terkait erat dengan sejarah hidup penulisnya atau hanya fiksi semata, yang jelas Dini telah menuliskannya dengan baik. Alur konvensional yang nyaris menjadi cirinya, tergarap dengan rapi lewat penuturan orang pertama. Melalui teknik ini, Dini lebih leluasa mengeksplorasi perasaan tokoh utamanya serta menggambarkan secara terperinci situasi dan peristiwa yang dialami sang tokoh.

Cinta menjadi tema pokok novel ini. Tepatnya, perjalanan cinta seorang wanita Jawa bernama Sri yang cukup berliku-liku. Lika-likunya inilah yang menarik, sebab di dalamnya terkandung unsur-unsur budaya, feminisme, dan pandangan-pandangan Dini terhadap keduanya. Melalui Sri yang lembut sekaligus pemberontak, Dini menggugat ihwal peran istri dan perempuan pada saat itu. Ia juga telah dengan jujur dan berani mengungkapkan fakta tentang seks sebelum menikah, perselingkuhan, dan perceraian dari perspektif perempuan. Sri yang dididik orang tuanya selaku perempuan Jawa yang harus serbahalus dalam berkata dan bersikap, ternyata memiliki pandangan sendiri dalam urusan cinta. Baginya, hubungan seks antara dua orang yang saling mencintai boleh-boleh saja dilakukan, walaupun pasangan tersebut bukan suami istri. Maka, Sri pun berselingkuh, atas nama cinta. Singkatnya, Sri adalah seorang wanita yang tahu apa yang dia inginkan.

Selain itu, Dini juga tidak canggung menampilkan adegan-adegan seks dalam karyanya ini. Ya, lagi pula mengapa harus sungkan jika itu memang terjadi secara natural–mengalir–dan bukan sekadar tempelan yang dipaksakan hadir. Bagian tersebut merupakan sesuatu yang menyatu dengan ceritanya. Dan Dini berhasil menghadirkannya dengan luwes tanpa terkesan vulgar. Tampaknya ia hendak menyampaikan, bahwa perempuan juga berhak menikmati seks yang indah dan menyenangkan (bersama lelaki yang dicintainya).

Menariknya lagi, Pada Sebuah Kapal ini dikisahkan dalam dua bagian. Pertama, dituturkan oleh Sri dari sudut pandang perempuan, dan bagian kedua ditulis dari perspektif Michel, kekasih gelap Sri.

Di usia senjanya, NH Dini masih setia menulis sembari sesekali melukis. Ia adalah contoh sebuah kesetiaan dan kecintaan terhadap profesi. Tak lekang digerus waktu. Ia adalah sang legenda.***

Senin, 23 Maret 2009

Breakfast at Tiffany's


Judul buku: Breakfast at Tiffany’s
Penulis: Truman Capote
Penerjemah: Berliani m. Nugrahani
Penerbit: Serambi
Cetakan: I, 2009
Tebal: 163 hlm

Biasanya, “peraturan”-ku adalah: baca bukunya dulu baru kemudian menonton filmnya, karena jika sebaliknya, maka imajinasiku jadi terbatas. Aku akan terkungkung oleh ingatan kepada filmnya selama membaca bukunya. Dan itu sebuah situasi yang sangat tidak nikmat dalam membaca buku.

Namun, sayangnya aku tidak selalu bisa mematuhi peraturanku sendiri itu. Banyak faktor yang menyebabkannya. Salah satunya misalnya lantaran buku terjemahannya terbit lama setelah filmnya dibuat. Ya, sebenarnya itu karena aku yang malas baca buku versi Inggrisnya. Habis mahal dan belum tentu ada di Indonesia (Alasan saja, padahal sebab utamanya adalah kemampuan bahasa Inggrisku yang minus :D)

Maka, ketika suatu hari aku memperoleh kesempatan nonton film Breakfast at Tiffany’s yang legendaris itu, tak kusia-siakan, walaupun aku belum membaca novelnya. Novel Truman Capote yang terbit pertama kali pada 1958 ini, edisi bahasa Indonesianya baru terbit awal 2009. Filmnya dibuat tahun 1961 dengan bintang utamanya si jelita Audrey Hepburn. Malalui film ini, Audrey Hepburn telah sukses menjadi salah satu ikon Hollywood. Ia akan selalu dikenang lewat perannya sebagai Holly Golightly ini. Beruntunglah ia, sebab awalnya Capote ingin lakon tersebut dimainkan oleh Marilyn Monroe.

Maka, karena aku telah melanggar peraturan, terjadilah hal yang telah kusebutkan di atas. Imajinasiku terpenjara oleh filmnya. Sepanjang membaca bukunya, mau tak mau aku membayangkan sosok Holly Golightly seperti Audrey Hepburn itu. Celakanya lagi, cerita di buku tidak sama dengan yang di film. Banyak banget bedanya. Dan apa boleh buat, aku harus mengatakan, aku lebih bisa menikmati filmnya.

Plot di film lebih disederhanakan. Karakter-karakternya juga tidak serumit dan sebanyak di buku. Pendek kata, banyak terjadi penyimpangan di filmnya yang konon telah membuat Capote kecewa berat.

Lalu, mana yang lebih bagus? Hmm…dua-duanya bagus. Namun, karena keduanya merupakan media yang berbeda, tentu saja masing-masing memiliki kelemahan dan kelebihan. Pada novel, peluang untuk menyajikan detail lebih terbuka. Juga kesempatan untuk menggali karakter tokoh-tokohnya lebih memungkinkan. Sementara film memiliki kelebihan untuk bisa menghadirkan cerita dan tokoh-tokohnya menjadi hidup dalam gambar yang bergerak. Apalagi jika ditingkahi oleh ilustrasi musik dan efek visual yang bagus, maka akan terjadi apa yang disebut: menghidupkan buku.Bukan mustahil akan lebih keren dari bukunya. Contohnya, The Lord of the Rings (Peter Jackson).

Karakter utama kisah ini adalah Holly Golightly. Seorang wanita muda yang memiliki masa lalu suram di sebuah desa kecil di Texas. Suatu hari ia kabur dari rumahnya dan bertualang sebagai wanita penghibur di New York. Bermodalkan parasnya nan rupawan, dengan mudah Holly memperoleh uang untuk mengongkosi gaya hidupnya sebagai wanita kelas atas. Kecantikannya memungkinkan ia segera diterima oleh kalangan atas New York. Ia mengencani banyak pria dari berbagai kalangan. Mulai dari selebriti Hollywood, pengusaha, hingga politisi. Konon, Holly merupakan karakter fiktif favorit penulisnya. Bisa dimengerti, sebab kekuatan buku ini memang ada pada pengkarakteran Holly yang istimewa. Kompleks. Jika kita harus mengingat novel atau filmnya, maka yang pertama kita sebutkan adalah Holly Golightly.

Seting cerita adalah New York tahun 40-an, masa berkecamuknya Perang Dunia II. Kisahnya disampaikan melalui penuturan tokoh aku yang dipanggil Fred, kakak lelaki Holly (di film bernama Paul Varjak), seorang pria penulis yang jatuh cinta pada Holly. Sepertinya, novel ini merupakan gambaran masyarakat elit New York tahun 1940-an yang hidup serba-glamour, setiap malam berpesta, minum-minum, makan enak di restoran mewah, berbusana mahal dari rumah mode terkenal lengkap dengan perhiasannya. Sebuah kehidupan yang dilakoni oleh Truman Capote selaku pesohor Hollywood. Karena itulah ia mampu menggambarkannya dengan baik.

Jika aku boleh menyarankan, lebih baik baca novelnya dulu sebelum menonton filmnya.***

Rabu, 11 Maret 2009

Inkheart


Judul buku: Inkheart
Judul asli: Tintenherz
Penulis: Cornelia Funke
Penerjemah: Dinyah Latuconsina
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Januari 2009
Tebal: 536 hlm

Inkheart merupakan buku pertama dari sebuah rangkaian Trilogi Inkworld karya penulis Jerman, Cornelia Funke. Inkheart adalah buku kedua Funke yang saya baca setelah Pangeran Pencuri. Keduanya sudah difilmkan.

Berbeda dengan Pangeran Pencuri yang mengangkat cerita realis, Inkheart lebih cenderung bergenre fantasi. Persisnya, cerita yang mengawinkan dunia nyata dengan dongeng. Mungkin sudah biasa ya tema semacam ini. Sebut saja Harry Potter sebagai contoh mutakhir. Tetapi, dalam Inkheart nyaris tak ada kekuatan sihir. Kalaupun ada itu mungkin yang disebut sihir kata-kata. Mantra? O, bukan! Ini bahkan lebih dahsyat dari mantra para penyihir karena mampu menghadirkan tokoh-tokoh dalam buku ke dunia nyata.

Pembuat keajaiban itu adalah Mortimer, seorang “dokter” buku. Mo dan anaknya Meggie adalah orang-orang yang sangat mencintai buku. Pekerjaan Mo sebagai tukang reparasi buku–seperti memperbaiki sampul atau halaman-halaman buku yang terlepas–telah memungkinkannya bertemu dengan banyak kolektor buku. Salah satunya adalah Elinor, bibi dari istrinya yang menghilang 9 tahun lalu.

Sembilan tahun yang lalu, saat Meggie masih berumur 3 tahun, sebuah peristiwa ajaib terjadi di rumah mereka; rumah mungil dengan ratusan buku di dalamnya. Mo dikejutkan oleh kemunculan tiga sosok asing yang keluar dari dalam buku Tintenherz yang tengah dibacanya: Capricorn, Basta, dan Staubfinger serta menghilangnya Teresa, istri Mo, masuk ke dalam buku tersebut.

Sejak itu kehidupan Mo–kemudian dijuluki si Lidah Ajaib–dan Meggie tidak sama lagi. Mereka terus diburu oleh ketiga orang tersebut. Untuk menghindari mereka, Mo terpaksa harus menempuh hidup nomaden, berpindah dari satu kota ke kota lain. Hingga suatu ketika mereka tiba di rumah Elinor dan kembali mengalami petualangan yang menegangkan.

Buku ini menjadi memukau terutama lantaran tokoh-tokohnya adalah para pencinta buku yang gila-gilaan. Mo misalnya. Ia lebih rela membelanjakan uangnya untuk buku-buku ketimbang memperbaiki rumahnya yang sempit itu. Ia merawat buku-buku seperti merawat benda pusaka. Kegilaannya menurun pada Meggie, putri satu-satunya. Ke mana pun mereka pergi, benda yang tidak boleh ketinggalan adalah buku-buku.

Namun, tak ada yang melebihi kegilaan Elinor. Perempuan yang melajang itu mengabdikan seluruh hidupnya untuk buku-buku. Ia akan mengupayakan segala macam cara demi mendapatkan sebuah buku yang diinginkannya. Katanya, “Semua kolektor buku itu perampas dan pemburu”. Semua kamar di rumahnya yang besar, nyaris terisi oleh buku-buku dari segala penjuru dunia. Ia menjaga dan mencintai buku-buku itu seperti anak kandungnya sendiri. Alhasil, Elinor telah memikat hati saya dan menjadikannya tokoh favorit dalam buku ini.

Lihat saja bagaimana ia memperlakukan buku-bukunya yang sangat berharga dan ia tidak akan berpikir dua kali untuk menembakmu jika kamu berani menyentuhnya. Elinor juga rela bergelap-gelap di dalam rumahnya hanya karena lebih suka memakai uangnya untuk membeli buku ketimbang membayar tagihan listrik.

Wanita ini memang nyentrik dan tindakannya seringkali ekstrem. Namun, ia seorang yang sangat rasional dan kadang-kadang bisa arief dan bijaksana seperti saat mengucapkan, “Di tempat buku dibakar, di sana manusia pun akan segera hangus binasa.” (hlm.174)

Barangkali buat kamu yang menyukai kisah-kisah fantasi dan petualangan, bagian petualangannya itu yang paling menarik. Tetapi, buat saya, karakter-karakter para kutu buku ini jauh lebih menawan. Bukan mustahil, tokoh-tokoh rekaan ini adalah gambaran penulisnya yang juga seorang kutu buku (ia mengutip kalimat-kalimat indah dari buku-buku keren yang dibacanya di setiap bab buku ini. Saya paling suka yang ini: "Untukku, si miskin - perpustakaanku cukuplah sebagai harta" - Shakespeare, The Tempest, hlm. 282).

Sesungguhnyalah, Inkheart merupakan sebuah buku tentang buku. Tentang kecintaan terhadap buku. Tentang keajaiban kata-kata pada lembar-lembar kertas yang menghidupkan cerita dan memberi ruh, nyawa bagi tokoh-tokohnya. Rasanya Funke ingin menyampaikan pesan, bahwa cerita yang baik adalah cerita yang hidup; yang membuat pembacanya seolah-olah masuk ke dalamnya dan bertemu dengan tokoh-tokohnya. Ah, dalam hal ini, tampaknya saya harus sepakat.

Kelanjutan Inkheart adalah Inkspell dan Inkdeath. Mudah-mudahan segera terbit.***

Kamis, 05 Maret 2009

Sweetness in the Belly



Judul buku: Lily: Pencarian Cinta Seorang Gadis Eropa di Etiopia
Judul asli: Sweetness in the Belly
Penulis: Camilla Gibb
Penerjemah: Femmy Syahrani
Penerbit: Qanita
Cetakan: I, 2008
Tebal: 500 hlm
.

Nama Etiopia pernah sangat terkenal pada tahun 1980 hingga 1990-an. Hampir setiap malam, layar televisi kita menampilkan gambar-gambar mengenaskan tentang situasi di negeri tersebut yang dilanda kelaparan berkepanjangan akibat kekeringan dan juga perang saudara.

Di negeri dengan sejarah yang panjang ini pernah memerintah seorang kaisar, raja di raja, dengan kekuasaan bagaikan dewa, Haile Selassie. Ia juga sangat dipuja oleh kaum penganut ‘agama’ Rastafaria. Nama Rastafari diambil dari nama kecil Haile Selassie, Ras Tafari, sebelum menjadi penguasa Etiopia. Kaum Rastafarian inilah yang kemudian melahirkan aliran musik reggae. Pada tahun 1974, Haile Selassie digulingkan dari takhtanya, digantikan oleh sebuah pemerintahan Sosialis.

Negeri dengan populasi 40% golongan muslim ini sangat percaya pada para wali. Setiap benda dipercaya memiliki wali sendiri. Secara bergurau dikatakan, bahkan kutil pun ada walinya. Mereka juga kerap melangsungkan ritual agama yang bercampur tradisi di makam-makam para wali tersebut. Dari kenyataan ini tergambarlah sesungguhnya penduduk Ethiopia amat relijius sekaligus juga meyakini hal-hal mistis. Kalau di kita barangkali bisa disejajarkan dengan kejawen.

Melalui kaca mata seorang novelis Kanada, Camilla Gibb, yang juga adalah master antropologi sosial, novel berjudul asli Sweetness in the Belly ini memaparkan wajah Etiopia pada kurun waktu 1970 hingga 1990-an. Dengan tokoh seorang wanita muda kelahiran Inggris, Lily, Camilla telah mengawetkan sepotong catatan sejarah negeri yang pernah mengilhami penyanyi balada Iwan Fals menciptakan sebuah lagunya yang terkenal: “Ethiopia”.

Meskipun Lily adalah seorang farenji, kulit putih, ras yang sering dianggap lebih unggul dari kulit berwarna, namun Gibb tidak menampilkannya sebagai karakter yang serbapintar dan serbatahu. Gibb cukup bisa mengambil jarak dengan tokoh utamanya itu sehingga tidak terjerumus menjadikan dirinya sebagai Lily. Keterangan-keterangan ihwal kondisi alam, geografi, sosial politik, dan budaya setempat, tersampaikan melalui tokoh-tokoh lokalnya, seperti Aziz, seorang dokter muda yang bersama teman-teman mahasiswanya diam-diam melakukan gerakan perlawanan terhadap rezim yang berkuasa. Dalam setiap pertemuan dengan kawan-kawannya itu, Aziz mengajak Lily. Dari sinilah Lily mengeruk banyak informasi tentang negeri yang menjadi tanah air keduanya itu.

Agar cerita tak menjadi garing, tentu harus ada kisah cinta di antara para tokohnya, bukan? Maka, dibuatlah kisah asmara antara Lily dan Aziz.



Novel ini ditulis Gibb sebagai hasil studi dan penelitiannya tentang Islam di Mesir serta pengalamannya tinggal selama 1,5 tahun bersama satu keluarga muslim Etiopia di Harar sekitar tahun 1994-1995. Di negara ini, Gibb menyaksikan dengan mata kepala sendiri berbagai praktik budaya lokal yang sering membahayakan dan merugikan perempuan.

Umpamanya, upacara absuma, khitan bagi anak-anak perempuan yang kerap kali menelan korban karena dilakukan secara tradisional oleh seorang dukun. Biasanya penyebab melayangnya nyawa anak-anak itu akibat kehabisan darah. Sampai saat ini, tradisi tersebut masih terus berlangsung.

Camilla juga menemukan fakta masih banyaknya praktik poligami di kalangan kelompok muslim. Motivasi para perempuan yang bersedia dikawani lelaki beristri terutama karena faktor ekonomi selain alasan agama dan adat yang diyakininya.

Namun, ia juga tak memungkiri bahwa banyak pula hal unik dan indah yang ia temukan di tengah-tengah tanah yang kerontang itu. Misalnya saja, kebiasaan penduduk mengunyah daun qat atau acara minum buna (kopi khas Etiopia) sembari kumpul-kumpul dan bergosip.

Sweetness in the Belly – entah kenapa judul yang keren ini harus diubah menjadi judul yang panjang lebar, Lily: Pencarian Cinta Seorang Gadis Eropa di Ethiopia – akhirnya bagi saya menjadi sebuah bacaan fiksi yang cukup mencerahkan. Darinya, saya memperoleh “tenpa sengaja” sekeping pengetahuan adat, budaya, dan sejarah Etiopia. Andai harus dengan sengaja membaca buku tentang Etiopia, barangkali saya akan pikir-pikir dulu. Ya, agaknya demikianlah “keajaiban” sebuah karya fiksi.***

Selasa, 24 Februari 2009

Eendaagsche Exprestreinen



Judul buku: Eendaagsche Exprestreinen
Gambar: Bondan Winarno, Dhian Prasetya, Gede Juliantara
Teks: Yusi A.Pareanom & Risdianto
Penerbit: Banana
Tebal: 60 hlm
Cetakan: I, 2009

Entah kenapa, novel grafis atau komik lokal ini diberi judul memakai bahasa Londo (Belanda) yang artinya kereta ekspres siang. Barangkali agar lebih terasa aroma jadulnya mengingat seting cerita komik ini Batavia 1930. Atau bisa jadi juga sebagai daya tarik pemasarannya. Eendaagsche Exprestreinen tentu terdengar lebih keren ketimbang kereta ekspres siang. Sah-sah saja.

Kereta api di Indonesia memiliki sejarah yang panjang. Diawali di Jawa dengan pembangunan rel pertama yang membentang dari Kemijen ke Tanggung (1864) oleh perusahaan swasta NV.NISM (Naamlooze Venootschap Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij) sepanjang 26 km. Jalur ini kemudian diteruskan hingga Solo dan Yogyakarta (1870-an).

Selanjutnya, pemerintah Hindia Belanda tertarik untuk membangun jalur yang lain. Melalui perusahaannya, SS, dibuatlah jalur dari arah timur (Surabaya-Pasuruan) dan lanjut ke barat sampai ke Solo. Hingga kemudian pada 1929 telah tersedia jalur langsung Batavia-Soerabaia yang dapat ditempuh dalam satu hari saja.

Selain di Jawa, pembuatan jalan sepur ini juga dilakukan di Sumatra dan Sulawesi.

Komik kereta ini merupakan komik kedua terbitan Banana dengan masih mengandalkan Bondan Winarno dan dua rekannya sebagai juru gambar serta jalinan cerita yang dipercayakan kepada Risdianto dan Yusi Pareanom.

Bicara gambar-gambar dalam komik ini, menurutku rada mirip komik Herge, Tintin. Gambar bola mata karakter-karakternya dibuat hanya berupa titik hitam saja, persis seperti komik Tintin. Demikian pula dengan pelukisan suasana, detail dan penuh warna. Menarik. Ini bisa dilihat pada gambar sampul depannya: suasana hiruk-pikuk di sebuah stasiun kereta yang didominasi oleh gambar-gambar orang dengan segala kesibukannya.

Pada latar depan, ada penjual sate dengan 4 orang pembelinya. Agak di tengah, tampak 2 orang bocah lelaki yang tengah berkejaran. Sementara itu, seorang gadis Tionghoa, tertawa gembira menyaksikan. Berikutnya, ada tukang buah, tukang cukur, dan orang-orang yang duduk sembari makan atau mengobrol. Di belakang sekali, ada lokomotif hitam antik yang sedang parkir. Sekali lagi, menarik.

Tak kalah menarik juga gambar-gambar yang tersaji di dalam halaman-halaman yang berjumlah 60 ini. Ditampilkan dalam panel-panel berukuran besar dan kecil, deretan gambar tersebut menyajikan pemandangan tempo doeloe, baik suasana maupun peristiwanya, termasuk interior gerbong kereta yang masih terbuat dari kayu.

Sayangnya, gambar-gambar keren itu tidak ditunjang cerita yang memikat. Ah, sebenarnya temanya sih bolehlah, tentang persahabatan tiga anak yang berlainan bangsa: Seta si bocah Jawa, Johan anak Belanda, serta A Xiu, gadis kecil asli Cina. Mereka bertiga bertemu di sebuah kereta api siang jurusan Batavia-Soerabaia. Bersama orang tua masing-masing, mereka menempati gerbong-gerbong kelas I.

Perjalanan Batavia-Soerabaia yang memakan waktu tempuh 9 jam menjadi arena petualangan ketiga bocah yang kemudian bersahabat itu. Dengan keberanian khas kanak-kanak, Seta, Johan, dan A Xiu berhasil meringkus komplotan pencuri yang sedang dicari-cari polisi.

Untuk pembaca dewasa, kisah di atas mungkin kurang “nendang” (meminjam istilah Yusi). Kurang nggreget. Humor-humornya garing, kurang “hidup”, dan terkesan dipaksakan kehadirannya. Lebih cocok sebagai bacaan anak-anak dan remaja. ***

Rabu, 11 Februari 2009

Cinta di Atas Perahu Cadik


Judul buku: Cinta di Atas Perahu Cadik
Penulis: Seno Gumira Ajidarma, dll.
Penerbit: Penerbit Buku Kompas
Cetakan: I, 2008
Tebal: 166 hlm.


Beberapa waktu lalu, seorang teman cerpenis di Bandung, curhat. Katanya dengan nada masygul, ia baru saja mendapat penolakan dari salah satu penerbit untuk naskah calon buku kumpulan cerpennya. Alasan penerbit, buku kumpulan cerpen seret pemasarannya. Kurang diminati, tidak seperti novel. Teman saya bertanya kepada saya (karena katanya saya kan senang baca fiksi), apa benar demikian? Apa benar novel lebih disukai ketimbang kumpulan cerpen?


Setelah pura-pura mikir beberapa saat, saya menjawab, bisa jadi. Sebab, kalau diingat-ingat lagi, saya juga ternyata memang lebih banyak membaca novel daripada kumcer. Nah mengapa demikian, ya? Hmm, barangkali karena cerpen itu ceritanya singkat. Lagi seru-serunya, eh..malah sudah harus berhenti. Belum lagi, emosi kita harus terpotong-potong karena jenis ceritanya yang beragam. Tetapi, sebenarnya kalau cerpennya menarik seperti "Ripin" atau "Brokeback Mountain", kayaknya sih asyik-asyik saja ya? Dan sebaliknya, biar pun itu novel, kalau buruk, ya tetap saja ngeselin membacanya.


Sebenarnya bukan cuma teman saya yang cerpenis itu saja yang kecewa. Salah seorang teman dari sebuah penerbit juga pernah berkeluh-kesah untuk kasus yang sama. Buku kumpulan cerpen yang mereka terbitkan ternyata jeblok di pasaran. Padahal ditulis oleh seorang cerpenis kelas dunia yang memenangi beberapa penghargaan internasional. Dia gemas ketika mendapati realita justru buku-buku guyonan yang malah laku keras.


Katanya dengan pedih sembari gusar, "Maunya apa sih pembaca kita ini?"


Saya akhirnya cuma bisa garuk-garuk kepala (walaupun sebenarnya nggak gatal) :D

Tetapi yang jelas, sesekali saya masih suka membaca kumcer, termasuk buku kumcer Kompas pilihan yang terbit setiap tahun. Tahun lalu terbit dengan judul Cinta di Atas Perahu Cadik, diambil dari cerpen terbaik karya Seno Gumira Ajidarma yang ditetapkan oleh dua orang juri, yakni Sapardi Djoko Damono dan Ayu Utami. Seluruhnya ada 15 cerpen.

Tetapi, bukan itu cerpen favorit saya di buku ini. Saya lebih suka “Kisah Pilot Bejo” , cerpen karya Budi Darma. Cerpen yang bertutur dengan gaya komedi ini merupakan respons penulisnya terhadap musibah raibnya pesawat penumpang Adam Air yang nyungsep di perairan Majene, bagian barat Sulawesi dua tahun lalu. Budi Darma menyampaikan kritiknya terhadap kinerja maskapai penerbangan kita dengan gaya menyindir yang pedas dan nyelekit. Misalnya saja, penyebutan nama maskapai penerbangan dalam cerpennya dengan inisial AA (Amburadul Airline, tentu menyindir Adam Air) dan SA (Sontholoyo Airlines–apakah yang dimaksud Sriwijaya Air?) serta tentang prosedur standar penerbangan yang sering diabaikan sehingga mengakibatkan kecelakaan fatal.

Cerpen favorit kedua, “Sepatu Tuhan” (Ugoran Prasad). Sejak kepincut “Ripin”, saya hampir selalu membaca cerpen-cerpen karya Ugoran Prasad. Kisahnya juga ihwal dunia riil; tentang makna persahabatan dua orang bocah lelaki yang dipertemukan kembali ketika keduanya sama-sama dewasa di sebuah kantor polisi. Yang satu sebagai letnan polisi dan satunya lagi tersangka pelaku kejahatan. Kisah sederhana dengan akhir yang saya suka: menyentuh.

Selanjutnya, ada dua cerpen yang mengangkat tema “basi” PKI : “Hari Terakhir Meilan” (Soeprijadi Tomodihardjo) dan “Candik Kala” (GM Sudarta). Sementara itu, Adek Alwi, penulis senior sejak zaman Anita Cemerlang, menulis “Lampu Ibu”, sebuah cerita pendek seorang ibu yang putranya dituduh korupsi.

Cerpen berjudul romantis, “Gerimis yang Sederhana” (Eka Kurniawan) menjadi cerpen penutup. Mengambil seting Los Angeles, Amerika Serikat, Eka ingin mengenang tragedi kerusuhan 1998, khususnya kasus pemerkosaan perempuan-perempuan Tionghoa. Eka sukses menghindari penceritaan yang penuh dendam dan dengan cerdik ia membelokkannya menjadi sebuah kisah romantis dengan akhir yang tidak terduga.

Tunggu, masih ada satu cerpen lagi yang nyaris saya suka : “Tukang Jahit” (Agus Noor). Kenapa nyaris? Cerpen ini keren, namun karena ujung-ujungnya ternyata surealis, jadi agak mengurangi kenikmatan membaca saya yang beraliran realis.

Dan sebagai cerpen juara “Cinta di Atas Perahu Cadik”, adalah sebuah cerpen cinta (terlarang) dengan tokoh lelaki kesayangan SGA: Sukab. Mengapa cerpen ini terpilih menjadi cerpen terbaik? Alasan dewan juri yang diwakili Ayu Utami, antara lain menyatakan, bahwa cerpen SGA ini memiliki keistimewaan karena sebagai cerpen, ia banyak kali melakukan perpindahan sudut pandang yang sesungguhnya sangat berbahaya. Tetapi pengarang berani mengambil risiko ini dan selamat.

Ayu juga mengatakan, bahwa cerpen tersebut menyajikan adegan dan dialog yang jalin-menjalin dalam simpul yang efektif dan efisien, tak ada yang sia-sia. Saya tidak sepenuhnya mengerti apa yang dikatakan Ayu ini. Bagi saya, “perahu cadik” Seno ini ya “hanya”sebuah cerpen tentang cinta dan perselingkuhan.

Tapi baiklah. Sayembara telah usai dilangsungkan. Pemenangnya sudah diputuskan. Jika ada pro dan kontra, itu biasa. Kalau kau suka, bacalah. Jika tak suka, tinggalkan saja.***

Minggu, 01 Februari 2009

Embroideries


Judul buku: Bordir
Judul asli: Embroideries
Penulis: Marjane Satrapi
Penerjemah: Tanti Lesmana
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, 2006
Tebal: 136 hl
m

Sebelum aku menulis tentang buku ini, aku ingin berterima kasih kepada Susi alias Ibutio alias Tukang Kue, yang telah membarterkan buku ini. Kalau tidak terjadi pertukaran tersebut, mungkin saja aku tidak pernah mengenal Marjane Satrapi, penulis cewek asal Teheran yang juga menulis komik Persepolis itu. Aku sih belum baca komik tersebut, tetapi gara-gara Embroideries ini, aku akan membacanya (dan juga Chicken with Plums).

Baiklah, kini aku akan ngoceh sedikit ihwal Bordir.

Di Iran, seperti terdapat di banyak tempat di dunia ini, ada satu kebiasaan yang dilakukan para perempuan: bergosip. Perempuan memang terkenal doyan ngobrol. Entah, kegiatan itu mungkin sebagai katup pelepas dari segala persoalan rutin. Biasanya dengan diobrolkan, beban yang tengah ditanggung akan terasa berkurang separuhnya.lah-olah kita memindahkan sebagian masalah kepada teman yang kita ajak bicara. Semacam terapi kira-kira. Atau barangkali aktivitas bergosip ini juga merupakan sebuah upaya memerdekakan diri dari aturan tradisional yang melarang perempuan bicara di hadapan publik. Alhasil, mereka mencari cara sendiri agar tetap bisa “bicara”.

Perempuan-perempuan dalam Klan Satrapi tak terkecuali. Mereka memiliki kebiasaan ngobrol setelah usai santap siang, di saat ketika para lelaki justru berangkat istrirahat siang. Mereka juga mengundang beberapa teman dekat untuk saling bertukar cerita.

Apa saja yang dibincang? Mungkin tentang banyak hal, tetapi di buku ini Satrapi hanya menampilkan obrolan intim di antara perempuan seputar urusan seks. Eiits, jangan buru-buru berprasangka jorok, sebab ternyata tidak jorok sama sekali. Memang ada menyinggung-nyinggung soal penis dan ukurannya, tetapi tidak lalu terjerumus menjadi vulgar. Malah yang tercipta justru sindiran-sindiran tajam dalam kemasan humor yang kental kepada kaum pria. Atau lebih jauh lagi, menertawai diri sindiri. Entah karena kebodohan atau karena ketidaktahuan.

Misalnya saja, ada salah seorang dari mereka yang mengaku belum pernah satu kali pun selama hayatnya melihat bentuk testis, karena suaminya lebih suka bercinta dalam kondisi kamar gelap gulita. Celakanya lagi, keempat anak mereka perempuan semua! Bayangkan! Rasanya aku pun akan ngakak keras-keras mendengar kisah “memilukan” seperti itu :D Bolehkah kita menyimpulkan, bahwa Satrapi tengah menggugat kondisi di Iran yang membatasi kebebasan perempuan, baik dalam berekspresi mau pun dalam memperoleh informasi?

Satrapi dan orang tuanya yang terpaksa harus pindah ke luar Iran karena rezim pemerintahan yang tidak memberi ruang pada kebebasan individu, tentu mengerti betul artinya hidup dalam serba-keterbatasan. Apalagi bagi seorang perempuan seperti dirinya. Iran yang sangat patriarki tentu sangat tidak bersahabat dengan kaum perempuan. Mereka menciptakan aturan dan aneka mitos untuk membuat perempuan tunduk dan patuh. Termasuk untuk urusan jodoh dan seks.

Di sana masih banyak terjadi praktik perkawinan yang dijodohkan oleh orang tua. Biasanya bermotif ekonomi atau takut anak gadis mereka menjadi perawan tua. Maka, bukanlah sesuatu yang mengherankan jika ada orang tua yang mengawinkan anak gadis mereka dengan pria tua bangka yang lebih pantas menjadi kakek si gadis.

Yang paling celaka, jika para gadis itu sendiri yang akhirnya termakan mitos “takut menjadi perawan tua”. Mereka lalu jadi pasrah saja ketika ada pria yang sedikit saja berpenampilan mentereng melamar mereka. Menjadi istri dari seorang suami ganteng dan kaya rupanya masih menjadi impian banyak gadis di Iran. Apalagi kalau lelaki tersebut bekerja atau mengaku berbisnis di luar negeri. Hal yang agaknya sangat dipahami oleh kaum pria, yang kemudian memakainya sebagai taktik untuk mendapatkan seorang gadis malang yang bisa ditipu dan membawa kabur seluruh perhiasan si gadis begitu malam pertama usai. Meninggalkan si gadis yang kehilangan dua miliknya : perhiasan dan keperawanannya.

Nah, soal keperawanan di sana juga masih dianggap penting. Seorang gadis baik-baik diharapkan atau malah diharuskan masih perawan suci pada malam pengantin mereka. Tidak peduli suami mereka sudah menduda delapan kali, misalnya. Maka, para perempuan itu harus pandai bersiasat. Mulai dari mengakalinya dengan darah perawan tipuan (dari anggota tubuh yang sengaja diiris) sampai metoda paling canggih: operasi selaput dara atau yang mereka sebut “bordir”. Kalau sudah begini, siapa yang salah sebenarnya?

Salah siapa juga jika para perempuan setengah baya yang merasa sudah kehilangan daya pikat fisik lantas ramai-ramai melakukan bedah kosmetik memperbesar atau memperkecil bagian-bagian vital tubuh mereka? Siapa yang bodoh akhirnya bila menginginkan seorang wanita 50 tahun masih harus kencang payudara dan bokongnya? Salahkah bila perempuan lalu memakai juga jurus tipu-tipu dengan memindahkan lemak di, maaf, pantat, untuk memperbesar dan mengencangkan payudara demi para suami pemuja payudara besar? Jadi, hati-hatilah hai para lelaki. Kalau Anda senang menciumi payudara besar, jangan bangga dulu. Siapa tahu yang Anda nafsui itu adalah payudara hasil tambal sulam lemak di pantat :)

Wow, apakah aku sudah berkata-kata vulgar dengan menyebut-nyebut tubuh bagian belakang itu? Kalau iya, bukan aku yang harus disalahkan. Aku kan cuma menceritakan kembali apa yang ditulis dan digambar oleh Satrapi. Ah, tetapi jangan berlebihanlah. Percayalah, komik hitam putih ini tidak menampilkan gambar-gambar seronok. Sama sekali tidak. Dialognya pun tentu lebih lucu dari yang sudah aku kisahkan. Secara gemilang, Satrapi telah berhasil menjadikan komik karyanya ini sebagai media menyampaikan pesan dan kritik. Jika diibaratkan makanan, Embroideries adalah snack yang ringan, renyah, gurih, namun bergizi tinggi.***

Selasa, 27 Januari 2009

Morality for Beautiful Girls


Judul buku: Morality for Beautiful Girls
Penulis: Alexander McCall Smith
Penerjemah: Maria Renny
Penyunting: Hermawan Aksan
Penerbit: Bentang Pustaka
Cetakan: I, 2008
Tebal: 265 hlm


Buat kamu yang baru akan pertama kali membaca serial ini–ya, ini sebuah serial terdiri dari beberapa judul, jadi sebaiknya dibaca secara urut dari buku pertamanya : Kantor Detektif Perempuan No. 1–saya ingatkan untuk bersiap diri mendapati kisah detektif yang berbeda. Kau tidak bisa berharap akan menemukan sosok perempuan super yang akan berkelahi melawan penjahat atau karakter wanita setua Miss Marple yang memecahkan misteri sembari merajut.

Mma Ramostwe bukan tipe perempuan seperti itu. Ia seorang perempuan Afrika bertubuh tinggi besar (untuk tidak menyebutnya gemuk). Di negerinya, Botswana, wanita cantik adalah wanita bertubuh besar. Perempuan-perempuan kurus dengan dada dan bokong rata seperti para peragawati, di sana tidak dianggap seksi. Maka, Mma Ramotswe sangat bangga dan bahagia dengan ukuran tubuhnya tersebut.

Kau juga lebih baik membuang jauh-jauh harapan tentang sebuah kisah detektif yang njelimet dan penuh ketegangan seumpama Da Vinci Code, karena kau tidak akan menemukannya di buku ini. Seperti sudah kukatakan tadi, ini cerita detektif yang berbeda.

Apalagi pada buku ketiga ini, dua kasus yang ditangani Mma Ramotswe benar-benar sederhana dan biasa-biasa saja : seorang pejabat pemerintah yang mencurigai iparnya telah meracuni adik lelaki si pejabat serta mencari tahu moralitas gadis-gadis para peserta kontes kecantikan. Kasus yang sangat sepele, bukan, meskipun untuk yang pertama agak sedikit menjanjikan sebuah kisah misteri pembunuhan.

Tetapi, jangan cepat-cepat mengurungkan niat kamu untuk membaca buku ini, karena jika kamu seorang yang senang membaca kisah-kisah yang memuat hubungan antarmanusia di sebuah negeri beserta kebiasaan masyarakat dan budayanya, kamu akan menyukai cerita di buku ini.

Ada pun untuk kamu yang sudah akrab dengan Mma Ramotswe yang keren itu tapi belum membaca bagian ketiganya, aku beri tahu, di sini ia memindahkan kantornya ke bengkel Tuan JLB Matekoni, tunangannya itu yang agaknya sedang menderita depresi oleh rasa bersalah yang tidak bisa ia ceritakan kepada siapa pun. Tingkahnya menjadi aneh. Ia mogok kerja dan menelantarkan bengkelnya, ditinggalkan begitu saja bersama kedua orang pekerja magang di sana. Kedua pemuda dengan kelakuan sedikit tengil yang perlu ditertibkan.

Maka, Mma Ramotswe, seperti biasanya segera bertindak cepat membereskan semua masalah. Ia menugaskan Mma Makutsi, sekretarisnya yang lulusan Akademi Sekretaris itu, sebagai manajer pelaksana di bengkel dan menangani semua urusan pelanggan termasuk juga pembinaan kedua montir tersebut. Sementara itu, ia berniat untuk membawa tunangannya ke dokter. Setelahnya baru melakukan penyelidikan kasus si Pejabat Pemerintah.

Karakter sentral yang menjadi nyawa buku ini memang Mma Ramotswe. Namun, kali ini ia mesti berbagi porsi cukup besar dengan Mma Makutsi yang ternyata diam-diam menyimpan bakat sebagai detektif. Selama majikannya pergi menyelidiki kasus peracunan itu, ia dengan berani memutuskan menerima order lain: menyelidiki 4 orang gadis finalis kontes kecantikan. Dia harus mencari data dan informasi sebanyak-banyaknya ihwal keempat kontestan tersebut. Hasilnya kelak akan dipakai oleh panitia penyelenggara kontes sebagai bahan pertimbangan memilih juaranya.

Dibanding dua buku sebelumnya, buku ketiga ini kurang memuaskan, terutama karena kasusnya tidak menarik dengan penyelesaian yang tidak istimewa. Nyaris tak ada unsur kejutannya. Yang sedikit agak menghibur adalah kemunculan sisi lain Mma Makutsi sebagai manajer bengkel dan asisten penyelidik. Dengan gayanya yang berusaha tampak elegan, ia membuktikan bahwa perempuan tidak harus menjadi cantik dulu untuk meraih keberhasilan. Kecerdasan otak dan kebaikan hati jauh lebih penting dari sekadar memiliki wajah rupawan dan tubuh seksi menawan. Kurasa ia sedang menyindir masyarakat modern yang memuja kecantikan.

Apa boleh buat, memang demikianlah yang ingin disampaikan McCall Smith melalui kedua tokoh perempuannya ini. Kecantikan fisik (perempuan) bukanlah segalanya. Tetapi Mr. Smith, benarkah begitu?***

Jumat, 16 Januari 2009

Anne of Green Gables


Judul buku: Anne of Green Gables
Penulis: Lucy M. Montgomery
Penerjemah: Maria M. Lubis
Penerbit: Qanita
Cetakan: I, 2008
Tebal: 516 hlm


Bukankah menakjubkan jika ada sebuah buku yang diterbitkan seabad silam masih memesona dibaca hari ini? Bukankah itu berarti buku tersebut telah berhasil melampaui ujian waktu? Rasanya karya tersebut sangat pantas disebut karya yang abadi, terus hidup jauh melebihi usia penulisnya. Jika saya harus menyebut salah satu buku seperti itu, maka itu adalah Anne of Green Gables karya pengarang Kanada, Lucy Maud Montgomery yang diterbitkan pertama kali pada 1908.

Konon, sejak penerbitan pertamanya hingga hari ini, Anne of Green Gables telah terjual lebih dari 50 juta kopi di seluruh dunia. Saya sudah lama mendengar tentang kekerenan buku ini dan karena itu merasa sangat beruntung ketika akhirnya buku ini terbit juga dalam bahasa Indonesia.

Sejatinya, novel ini adalah bacaan untuk segala umur. Menyenangkan membaca sebuah buku yang karakter utamanya anak-anak. Sepertinya cerita yang hadir terasa lebih jujur. Atau mungkin juga lantaran diam-diam kita selalu rindu untuk kembali ke masa-masa manis itu, masa kecil kita, tatkala semua terasa mudah dan indah.

Tokoh utamanya adalah Anne, seorang anak perempuan berumur 11 tahun. Mulanya Anne hidup sebatang kara di dunia ini. Ayah dan ibunya meninggal ketika Anne masih sangat kecil. Ia lalu secara bergantian diasuh oleh beberapa orang kerabat ayah ibunya sebelum akhirnya dipelihara di sebuah panti asuhan. Anne juga pernah mengalami masa-masa sulit lainnya sebagai pelayan dan pengasuh anak.

Tetapi Anne adalah seorang anak periang yang selalu berpikir positif dan memiliki ambisi tinggi untuk hal-hal yang baik di samping sifatnya yang romantis yang menyebabkan ia senang berkhayal. Dia memperlakukan dunia dan orang-orang di sekitarnya dengan penuh kasih sayang. Ia juga seorang gadis kecil yang sangat impulsif, jujur, serta sahabat yang setia bagi Diana Barry. Meskipun kadang-kadang ia membuat kesalahan yang tidak perlu, namun ia tak pernah mengulangi kesalahan yang sama itu di lain waktu. Nyaris tak ada hal yang mampu membuatnya bersedih dan marah kecuali jika ada yang berani menghina rambut merahnya dan memanggilnya “wortel”.

Green Gables adalah nama pondok petani milik kakak beradik Cuthbert. Tatkala Marilla dan Matthew beranjak semakin tua, mereka memutuskan untuk mengadopsi seorang anak lelaki agar bisa membantu kerja mereka di ladang. Akan tetapi, sebuah panti asuhan melakukan keliruan. Kekeliruan yang kelak justru sangat disyukuri oleh Marilla dan Matthew : mengirimkan Anne.

Hidup kedua Cuthbert yang tidak pernah menikah itu pun perlahan-lahan berubah berkat kehadiran gadis cilik yang suka memberi nama setiap pohon dan tempat di sekitarnya. Pohon ceri tua di muka pondok pun kini punya nama romantis, Ratu Salju. Begitu juga danau, jalan desa, bunga-bunga, dan hutan. Sesuai sifat Anne yang romantis, nama-nama yang diberikannya pun nama-nama yang indah : Danau Air Riak Berkilau, Kanopi Kekasih, Permadani Violet…..

Segera saja Anne membuat jatuh cinta hampir seluruh penghuni Avonlea, desa kecil di Pulau Prince Edward, Kanada. Oh, bukan cuma orang-orang di buku itu yang dibuatnya jatuh cinta, tetapi juga termasuk saya. Karakter rekaaan Lucy Montgomery ini begitu kuatnya, sehingga seolah-olah ia benar-benar hidup dan menjelma ke luar buku. Atau sebaliknya, saya yang merasa seakan-akan ikut menjadi bagian cerita dan tinggal di Avonlea.

Sebagai pendongeng, Lucy telah berhasil memikat hati pembacanya. Dengan cemerlang ia memindahkan dunia riil (kehidupan pedesaan) ke dalam buku lewat deskripsi dan imajinasinya sehingga Anne of Green Gables menjadi sebuah buku klasik yang indah dan abadi. Ia menciptakan konflik-konfliknya secara sangat wajar dan menyelesaikannya juga dengan elegan. Kadang-kadang berakhir lucu dan kali lain penuh keharuan. Tak ada yang dipaksakan. Semuanya mengalir jernih. Moral ceritanya terbungkus rapi sehingga hampir-hampir kita tak merasakan kehadirannya.

Penggambarannya tentang Avonlea membuat saya jadi merindukan desa. Bukan kampung halaman–karena saya sudah tidak punya kampung–tetapi desa seperti yang selama ini saya kenal lewat tulisan, lukisan, dan sajak-sajak: ada pohon-pohon, bunga, gemericik sungai, telaga, langit yang cerah, kicau burung, panen buah, daun yang gugur, tetangga yang ramah, gosip-gosip, harum kue dipanggang, ayam-ayam, itik, semak belukar……Tetapi bagian terpentingnya adalah semangat buku ini yang mengajarkan kasih sayang. Sekejap saya terkenang kisah Little House on the Prairie.

Seluruhnya kisah Anne ini terdiri dari 8 judul yang akan bercerita hingga Anne dewasa. Mudah-mudahan Qanita mau menerbitkan semuanya. Jangan seperti nasib serial Anastasia Krupnik (Lois Lowry) yang entah kenapa, mandek di buku ketiga.

Nah, Teman, setelah semua kenikmatan membaca buku ini berakhir, agaknya saya harus memasukkan Anne of Green Gables ke dalam daftar buku favorit saya sepanjang masa.***

Sabtu, 10 Januari 2009

The Book of Lost Things


Judul buku: Kitab tentang yang Telah Hilang
Judul asli: The Book of Lost Things.
Penulis: John Connely
Penerjemah: Tanti Lesmana
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, 2008
Tebal: 472 hlm.

Pada dasarnya saya ini penggemar fiksi realis, tetapi juga tidak menolak bacaan-bacaan bergenre fantasi walaupun tentu saya lebih banyak membaca jenis buku yang pertama dibanding yang disebut terakhir. Entah kenapa dalam pikiran saya sudah terpatri bahwa buku fantasi identik dengan buku anak-anak/remaja. Dan saya sudah lama meninggalkan masa-masa indah tersebut. Diam-diam saya sering merindukan saat-saat itu kembali lagi. Barangkali itu salah satu alasan saya tetap menyukai kisah-kisah fantasi dan petualangan pada usia saya yang sekarang (Berapa sih? :D) Alasan yang tidak sepenuhnya saya sadari, karena seperti tertulis dalam lembar pertama buku The Book of Lost Things, dalam diri setiap orang dewasa masih tersimpan jiwa kanak-kanaknya.

Hal itu rupanya disadari betul oleh John Connolly (40) sehingga ia lalu membuat novel (dewasa) apik bergenre fantasi yang judulnya telah saya sebut di atas, The Book of Lost Things.

Tokohnya adalah David, seorang bocah lelaki 12 tahun yang–seperti sering terdapat dalam kisah-kisah petualangan–“malang” (Ingat saja Harry Potter). Ia harus menjadi piatu pada usianya yang kedua belas itu. Sejak itu David merasa sangat kesepian. Apalagi kemudian ayahnya menikah lagi dan dari perkawinan tersebut David mendapat adik tiri laki-laki, Georgie. David merasa kian diabaikan dan mulai mencari pelarian untuk menghibur dirinya yang tengah kecewa. Tak dinyana, suatu hari setelah pertengkaran mulut yang hebat dengan ibu tirinya, David terdampar ke negeri lain. Dan dimulailah petualangannya yang seru dan penuh fantastik.

Di negeri ini David bukan saja mengalami kejadian-kejadian menegangkan, tetapi juga bertemu dengan tokoh-tokoh dongeng favoritnya, seperti Snow White dan Tujuh Kurcaci serta Gadis Kecil Bermantel Merah. Lucunya, sosok atau kisah tentang mereka berbeda sama sekali dengan yang selama ini David baca dari buku-buku. Pada bagian ini saya benar-benar terhibur dan tak sanggup menahan tawa ngakak.

Gimana nggak ngakak jika Snow White yang selama ini kita kenal sebagai putri berparas jelita, berkulit seputih salju dengan bibir merah merekah, tiba-tiba berubah menjadi sosok perempuan gemuk yang rakus dan kejam. Ia selalu menghabiskan jatah makan ketujuh kurcaci. Saking rakus dan kejamnya, suatu malam pada sebuah musim dingin dan makanan sulit didapat, Snow White kedapatan sedang menggerumiti kaki salah seorang kurcaci. Gila nggak sih? J)

Tak kalah sintingnya adalah penggambaran tentang para kurcaci yang saling memanggil di antara mereka dengan sebutan kamerad. Mereka tak ubahnya buruh pertambangan yang miskin dan tertindas. Dalam obrolan mereka sering terucap kata-kata “kerja kolektif” atau “anjing-anjing kapitalis”. Huahaha. Jangan-jangan mereka baca Das Kapital juga ya? Yang tak kalah seru juga adalah twist dari dongeng Little Red Riding Hood serta Hans and Gretel.

Bagian itu memang kocak tetapi selebihnya kisah The Book of Lost Things ini cenderung kelam dengan seting Inggris pada masa Perang Dunia II. Mungkin itu sebabnya Gramedia selaku penerbit buku ini merasa perlu menyematkan label “novel dewasa” di sampul belakang. Sebab, kendati ini buku fantasi dengan tokoh utamanya anak-anak, di dalamnya banyak memuat adegan kekerasan (kepala yang dipenggal, darah berhamburan, usus terburai, dsb) yang mungkin menurut pertimbangan Gramedia tidak sesuai untuk konsumsi anak-anak. Tapi kalau saya punya anak, saya akan mengizinkan mereka membacanya. Sebab saya percaya, dalam diri setiap anak bersemayam jiwa yang kelak akan menjadi dewasa (kalimat terakhir ini hasil mengutip dari buku ini).

Selanjutnya, lazimnya kisah fantasi dan petualangan, akan kita jumpai banyak makhluk ajaib yang cuma ada dalam dongeng. Misalnya, troll dan harpy untuk menyebut salah duanya. Tentu juga harus ada petualangan, perkelahian, dan pahlawan. David dong pahlawannya. Selain karena ia mampu mengatasi lawan-lawannya yang jahat, juga lantaran dia berhasil mengalahkan rasa takut dan kebencian dalam hatinya. Bukankah perang terbesar adalah perang melawan diri sendiri?

Secara umum novel ini menarik dan cukup menghibur. Buat Anda penggemar kisah-kisah dongeng dan fantasi pasti akan menyukainya.***

Senin, 29 Desember 2008

Jack si Pelompat


Judul buku: Jack si Pelompat
Judul asli: Spring-Heeled Jack
Penulis: Philip Pullman
Penerjemah: Yashinta Melati F
Penerbit: PT Gramedia Pustka Utama
Cetakan: I, 2008
Tebal: 128 hlm

Tentu saja pertimbangan pertama saya membaca buku ini karena pengarangnya, Philip Pullman. Saya “jatuh cinta” pada penulis dongeng asal Inggris ini. Tiga bukunya telah saya baca: Putri si Pembuat Kembang Api, Dulu Aku Tikus, dan Si Pembuat Jam. Jack si Pelompat ini menjadi buku keempatnya yang saya baca. Semuanya tipis, hanya berkisar di 100-an halaman saja.

Yang menarik dari keempat buku Pullman itu selain ceritanya yang sederhana sekaligus fantastis adalah juga gambar-gambar ilustrasi yang tertera di setiap halamannya. Gambar-gambar tersebut menjadi bagian yang kocak dari dongengnya yang memukau. Ilustrasi itu berupa gambar hitam putih dan seperti komik memuat juga dialog tokoh-tokohnya.

Jack si Pelompat adalah seorang pahlawan pembela kebenaran dan pembasmi kejahatan yang hidup pada zaman Victoria, zaman sebelum ada Superman dan Batman. Menurut situs Wikipedia, si Jack yang suka melompat ini merupakan salah satu tokoh cerita rakyat Inggris yang sangat terkenal. Pertama kali namanya muncul pada 1837. Rupanya si Jack ini bukan sekadar tokoh dongeng rekaan Pullman. Ia telah lama hidup dalam legenda rakyat Inggris.

Dalam setiap aksinya, Jack memakai kostum seperti setan dan dia melompati atap-atap rumah dengan bantuan per yang dipasang di tumit sepatunya. Ia dikisahkan mampu melompat sangat tinggi.

Jika ada jagoan tentu harus ada penjahat dan harus ada korban yang diselamatkan. Maka, cerita pun bergulir dari sebuah panti asuhan di London. Panti Asuhan Alderman Cawn-Plaster Memorial namanya. Di panti asuhan itu tinggallah tiga bocah bersaudara, Rose, Lily, dan Ned Summers. Mereka menjadi yatim piatu sejak kepergian ayah mereka ke Australia dan ibu mereka meninggal tak lama setelah itu.

Panti asuhan itu dikelola oleh dua orang dewasa yang jahat, Mr Killjoy dan Miss Gasket. Tempat tersebut mungkin tempat paling buruk di dunia di mana selimut, penjaga, dan rasa buburnya sama dingin dan tidak enaknya.

Lantaran tidak tahan lagi, ketiga kakak beradik tersebut pada suatu malam memutuskan minggat dari tempat yang menyeramkan itu. Mereka berniat kabur ke pelabuhan untuk kemudian menumpang kapal yang akan membawa mereka ke Amerika. Oh, tentu saja upaya kabur mereka tidaklah mulus. Mereka harus berhadap-hadapan dulu dengan berbagai kendala, termasuk di antaranya ancaman dari Mack si Pelempar Pisau.

Nah, nah, sudah bisa diduga di sinilah sang jagoan, Jack si Pelompat berperan membela ketiga bersaudara itu. Ia membantu mereka meloloskan diri dari kekejaman Miss Gasket dan temannya, Mr Killjoy. Berhasilkah? Sudah pastilah….:)

Spoiler? Tidak juga, karena umumnya cerita anak-anak adalah tentang kebenaran melawan kebatilan. Pesan moralnya hampir selalu bisa dipastikan: berbuat baiklah selalu agar dirimu selamat. Hitam putih.

Yang keren lagi di samping ilustrasinya adalah juga judul-judul setiap babnya. Pullman mengutip kalimat dari buku-buku yang dibacanya. Misalnya, Bab Satu : “Malam yang gelap dan berangin….” Alexander Dumas, Three Musketeers. Atau Bab Tujuh: “Aku tak berani berhenti untuk beristirahat sejenak…” Tove Johnson, The Expolit of Moominpapa. Yang paling kocak adalah di bab sebelas, ketika Pullman mengutip kata-katanya sendiri: “Sementara itu di panti asuhan…” Philip Pullman, Spring-Heeled Jack.

Pullman sangat mengerti bagaimana memanjakan anak-anak selaku pembaca utamanya. Ia menggunakan bahasa yang mudah dicerna serta plot yang lurus. Tokoh jagoan Jack si Pelompat dihadirkan tidak sebagai superhero yang sakti mandraguna. Ia hanya seorang lelaki baik hati yang suka menolong. Ia tidak bisa terbang bagai Superman atau memiliki mobil keren yang canggih seperti Batman. Ia hanya mengandalkan keberanian dan sepasang per di kedua tumit sepatunya untuk melompat dari atap ke atap. Namun demikian, setiap bandit yang berhadapan dengannya pasti akan berakhir mengenaskan.

Selain Jack, ada lagi tokoh protagonis yang menolong Rose dan adik-adiknya. Mereka berasal dari orang-orang biasa. Jim si kelasi serta kekasihnya, Polly, pelayan di hotel Saveloy. Kedua sejoli ini dengan ringan hati memberikan bantuan untuk menyelamatkan anak-anak malang itu. Satu lagi pesan moral: tak perlu jadi superhero dulu untuk menlong orang lain. Yang dibutuhkan hanya dua hal: keberanian dan kebaikan hati.

Bukan begitu, adik-adik?***

Kamis, 18 Desember 2008

Bookends


Judul buku: Bookends
Penulis: Jane Green
Penerjemah: Utti Setiawati
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Oktober 2008
Tebal: 504 halaman

Sepanjang yang bisa aku ingat, aku cinta buku. Bukan Cuma cinta, tapi tergila-gila. Biasanya aku menghabiskan berjam-jam berkelana ke toko-toko buku, lupa waktu, menenggelamkan diri ke dunia lain.

Sejak dulu aku bermimpi memiliki toko buku. Sebenarnya, sejak dulu aku bermimpi memiliki toko buku yang juga merangkap sebagai kafe. Aku membayangkannya sebagai tempat yang akan memikat pengunjung rutin, orang-orang eksentrik yang menarik, yang mau membuatkan cappuccino jika aku butuh bantuan.

Untuk sampai pada dua paragraf di atas, saya harus membaca 84 halaman dulu dari novel chiklit Bookends karya Jane Green ini. Mengapa saya kutip? Sebab, kalimat di paragraf tersebut kok rasanya “gue banget”. Kalimat itu diucapkan oleh Catherine atau Cath, cewek lajang berusia 31 tahun, tokoh utama di buku ini. Cath tak suka berdandan, tak suka pakai rok, doyan makan, dan berhenti memikirkan perkawinan sejak umur 29. Nah..nah…rasanya kok semakin mirip dengan diri saya? Bedanya sedikit saja, dengan rambut Afro-nya yang kriwil-kriwil berantakan, Cath pasti lebih cantik dari saya. Oya, dan saya sedikit lebih tua disbanding gadis Inggris ini.

Seperti Cath, saya pun memiliki impian suatu hari nanti bisa punya toko buku sendiri yang menyatu dengan sebuah kafe. Dalam hal ini Cath lebih beruntung karena ia bisa segera mewujudkan mimpinya dalam usia ke-31, sedangkan saya mungkin masih harus bersabar lebih lama lagi. Masalah saya cuma satu : tidak ada dana. Kalian tentu tahu, membuka sebuah toko buku yang juga merangkap kafe tentu butuh modal tidak sedikit. Kalau saja ada jutawan yang bermurah hati memodali saya, saat itu juga saya akan berhenti dari pekerjaan saya yang sekarang dan sepenuhnya mengurusi toko buku impian saya itu.

Lagi-lagi untuk urusan modal ini, saya harus iri pada Cath yang tidak perlu berpayah-payah mencari modal sebab warisan dari neneknya sudah sangat cukup untuk menjalankan bisnis idamannya tersebut. Adapun untuk masalah kafe, sudah ada sahabatnya yang bersedia berkongsi: Lucy. Lucy adalah istri Josh, sahabat Cath semasa kuliah dulu.

Selain Josh, Cath juga memiliki sahabat yang lain: Si dan Portia. Si seorang gay; sedangkan Portia adalah Miss Perfect yang sukses berkarier sebagai penulis skenario drama sitcom televisi. Lantaran sebuah sebab, Portia sempat dijauhi oleh para sahabatnya itu dan tak pernah berjumpa mereka selama 10 tahun. Mereka baru bertemu lagi saat pembukaan Bookends, nama yang diberikan untuk toko buku Cath itu.

Sudah lama sekali rasanya saya tidak membaca novel-novel chiklit. Bukan apa-apa, hanya malas saja dan lebih memilih novel yang agak serius (uuh, padahal baca chiklit itu asyik juga loh). Alasan utama saya membaca Bookends apalagi kalau bukan karena ceritanya yang sedikit banyak mirip dengan kehidupan saya itu? (ngaku-ngaku deh). Sayangnya, Bookends tak melulu berkicau soal Cath dan toko bukunya, namun justru lebih menekankan kisahnya pada tema persahabatan. Malah ihwal Cath yang disebut sebagai cewek penggila buku nyaris tak pernah diceritakan sedang membaca atau belanja buku. Rada janggal ya?

Tetapi, sebagaimana umumnya chiklit, Bookends cukup menghibur bagi saya. Setidaknya karena karakter Cath yang, seperti saya bilang tadi, agak-agak mirip dengan saya :D. Saya senang membayangkan diri saya adalah Cath yang berkencan dengan James, pria tampan yang bekerja sebagai agen penjualan properti sekaligus pelukis keren. Walaupun saya tak memiliki sahabat dekat seorang gay, namun saya tidak keberatan seandainya ada seorang lelaki homo yang ingin menjalin persahatan dengan saya seperti Si dengan Cath.

Sahabat dekat saya juga tidak seperti Portia yang senang menjadi pusat perhatian. Tapi mungkin saya juga akan berlaku seperti Cath seandainya memiliki sahabat macam Portia yang suka menyakiti orang lain. Apalagi bila orang lain itu adalah sahabat kami sendiri.

Tentu saja menamatkan Bookends tidak memerlukan waktu yang lama. Saya hanya perlu waktu dua hari saja. Sekali lagi, saudara-saudara, dua hari! Pasti karena ditulis dalam rangkaian bahasa yang ringan, ngepop, dan mudah dicerna. Humor-humor segar nan cerdas turut memperlancar saya dengan cepat menamatkannya. Memang menyenangkan membaca chiklit (yang bagus) itu. Tak ubahnya seperti menonton film atau serial komedi romantis ala Friends atau Sex and The City. Karen memang di situlah kekuatan dan daya tarik sebuah karya metropop.

Pada akhirnya, Bookends memang bukan novel yang memuat kisah tentang toko buku. Namun, jika kalian ingin sejenak mereguk kesegaran sebuah cerita cinta dan persahabatan tanpa harus berkerut kening, buku ini bolehlah dijadikan pilihan. Kriuuuuk…..***

Selasa, 16 Desember 2008

The Last Concubine


Judul buku: The Last Concubine
Penulis: Lesley Downer
Penerjemah: Yusliani Zendrato
Penyunting: Nadya Andwiani
Penerbit: Matahati
Cetakan: I, 2008
Tebal: 657 hlm.

Selir
adalah sebuah kata yang lekat dengan kekuasaan sekaligus, mungkin, penderitaan. Kekuasaan karena praktik ini pada zaman dahulu sampai dengan hari ini berlangsung di balik istana raja-raja atau para lelaki penguasa. Penderitaan karena saya hampir yakin seratus persen tak ada selir yang benar-benar merasa bahagia dengan statusnya. Ia akan selalu jadi yang nomor dua atau dua ratus. Hak-haknya sebagai “istri” tidak sama dengan permaisuri (istri pertama). Jika mereka punya anak, hak anak-anaknya pun tidak sama dengan anak-anak dari istri pertama (putra mahkota). Walaupun secara materi segala keperluan mereka dipenuhi namun tempatnya tetap di wilayah “belakang”. Dengan kata lain sesungguhnyalah selir-selir ini berfungsi hanya untuk memenuhi kebutuhan seks “tuannya” dengan imbalan harta.

Praktik perseliran memiliki usia yang cukup purba; berlangsung di seantero dunia, dari Asia hingga Eropa, Amerika, dan Afrika. Umumnya, seperti telah saya sebut di atas, terjadi di kalangan istana (bangsawan). Tidak perlu jauh-jauh mencari contoh sebab sejarah kerajaan Nusantara telah banyak menuliskannya. Ingat saja misalnya riwayat Kartini atau Rara Mendut.

Kalau mau menyeberang agak jauh, praktik pergundikan itu bisa kita dapati di Cina dan Jepang yang terkenal dengan kekaisarannya. Di dalam kastilnya, konon, para kaisar itu memiliki selir hingga seribuan orang. Terbayang nggak sih bagaimana kaisar menggilir para perempuan peliharaan itu? Bukan mustahil ada selir yang seumur hidupnya mungkin cuma pernah digilir sekali saja. Dan sebaliknya, pasti ada juga satu dua orang yang menjadi selir kesayangan.

Kehidupan para selir ini telah banyak menginspirasi penulis untuk mengguratkannya dalam cerpen, novel, atau film. Salah satunya yang tengah beredar adalah The Last Concubine, novel karya Lesley Downer yang mengambil setting Jepang pada pertengahan 1800-an.

Waktu itu para shogun masih diakui kekuasaannya. Layaknya seorang penguasa yang nyaris menyamai kaisar, para shogun ini di dalam istananya memelihara banyak gundik atau dalam bahasa lebih halus disebut selir yang jumlahnya mencapai ratusan atau bahkan seribuan. Gundik-gundik ini diambil dari berbagai kalangan. Mulai dari putri keluarga sesama bangsawan tinggi, menengah, hingga dari kalangan rakyat jelata. Syaratnya: muda, bertubuh indah serta berparas rupawan.

Maka bukanlah hal yang mengherankan bila usia para selir itu ada yang masih belasan tahun. Menjadi selir seorang shogun adalah impian setiap perempuan pada masa tersebut. Tepatnya, idaman para orang tua yang memiliki anak gadis. Sebab, itu berarti hidup mereka sekeluarga akan terjamin selamanya. Bukan cuma kesejahteraan tetapi juga keselamatan. Dan sudah pasti status sosial mereka pun otomatis meningkat.

Melalui riset yang panjang, Lesley Downer mempersembahkan sebuah kisah seorang perempuan bernama Sachi yang ‘beruntung’ terpilih sebagai selir terakhir shogun penguasa Kastil Edo.

Sachi dipungut oleh Putri Kazu, istri Yang Mulia Shogun, dari sebuah desa kecil yang disinggahi sang putri dalam perlananannya menuju Edo. Saat itu si gadis kampung berumur 11 tahun. Raut wajahnya yang lebih menyerupai wanita ningrat daripada seorang gadis dusun telah memikat hati sang putri hingga beliau berkenan membawanya ke kastil sebagai dayang-dayang dan tinggal di sana bersama 3000 perempuan lainnya.

Di balik dinding kastil itu kehidupan Sachi berubah drastis. Dari seorang gadis desa bermetamorfosa menjadi wanita istana yang segala gerak-gerik, cara bicara, dan tingkah lakunya harus diatur sesuai tata cara istana. Apalagi setelah kemudian dia mendapat anugerah dipilih sang putri sebagai “hadiah” bagi sang shogun sebelum melakukan perjalanan jauh. Tak dinyana, Sachi ternyata menjadi selir terakhir karena sang shogun tewas terserang penyakit di perjalanan.

Menyusul wafatnya sang shogun, terjadi perubahan politik di Jepang. Pemberontakan kaum selatan mengharuskan para penghuni kastil Edo pergi mengungsi menyelamatkan diri. Termasuk Yang Mulia Putri Kazu. Demi menyelamatkan sang putri dari kejaran para pemberontak, Sachi ditugaskan menyamar sebagai Putri Kazu yang melarikan diri. Dalam pelariannya inilah Sachi menemui banyak peristiwa yang kelak membuka tabir rahasia yang selama ini menyelimuti kehidupannya.

Yang menarik dari buku ini adalah kenyataan bahwa kisah para gundik itu merupakan fakta sejarah yang terjadi ratusan tahun lalu. Siapa saja perempuan yang telah masuk ke dalam Kastil Edo, ia terikat seumur hidup mengabdi kepada sang shogun. Baik sebagai istri, selir, atau sekadar pelayan. Bagi mereka dunia hanyalah seluas kastil dan halamannya. Sehari-hari mereka mengerjakan hal rutin seperti berdandan, bermain musik, menulis syair, menghibur sang shogun, berlatih pedang, dan bergosip.

Tak jarang pecah juga konflik terbuka atau terselubung di antara para wanita itu yang timbul sebagai akibat persaingan menjadi yang terbaik, tercantik, terpandai, terpopuler, tersayang. Bukan tak mungkin berkembang pula hubungan cinta sejenis di antara mereka. Bayangkan saja, bagi mereka haram hukumnya menjalin hubungan dengan lelaki. Mereka milik sang shogun sampai akhir hayat.

Novel ini juga menyuguhkan roman cinta agar tak semata-mata memaparkan epik sejarah era Jepang kuno yang bisa jadi akan menjemukan pembacanya. Merupakan tantangan tersendiri menulis sebuah kisah cinta dari suatu masyarakat yang tidak mempunyai konsep tentang cinta yang romantis, yang dalam kamusnya tidak terdapat kosa kata “cinta”, begitu pengakuan Lesley Downer.

Kini Jepang telah menjelma sebuah negeri besar yang modern yang tetap dikepalai seorang kaisar, pemimpin yang dipercaya sebagai keturunan Dewa Matahari. Mungkin tak ada lagi praktik perseliran di sana. Mungkin……***

Minggu, 16 November 2008

Half of A Yellow Sun


Judul buku: Half of A Yellow Sun
Judul asli: Half of A Yellow Sun
Penulis: Chimamanda Ngozi Adichie
Penerjemah: Rika Iffati
Penyunting: Nuraini Mastura
Penerbit: Hikmah
Tebal: 765 hlm.
Cetakan: I, 2008

Sumpah! Sebelum membaca novel ini, saya tidak tahu bahwa ada negara Biafra di peta dunia. Bahkan nama Biafra pun baru pertama kali ini saya dengar. Republik kecil ini terletak di sebelah tenggara Nigeria. Tetapi itu dahulu. Kalau Anda mencarinya di peta bumi sekarang, sampai lebaran monyet pun tak akan bakal Anda temukan tanah air orang-orang Igbo itu. Sebab, Republik Biafra hanya berumur 3 tahun saja (30 Mei 1967 – 15 Januari 1970). Kini, Biafra kembali ke sejarah asalnya, menjadi bagian dari Republik Nigeria.

Seperti Indonesia, Nigeria berdiri di atas banyak suku bangsa (lebih dari 250 kelompok etnik) yang berbeda bahasa, adat istiadat, dan tradisinya. Dari 250, ada tiga kelompok etnik terbesar, yaitu: Hausa di Nigeria Utara, Yaruba di barat daya, serta Igbo di belahan tenggara. Igbo merupakan kelompok mayoritas penduduk Nigeria. Tak heran jika mereka banyak tersebar di seluruh wilayah Nigeria.

Sebagai mayoritas, orang-orang Igbo banyak menempati posisi penting dalam masyarakat, bisnis, maupun pemerintahan. Hal tersebut dimungkinkan karena orang-orang Igbo sejak Nigeria dalam pendudukan Inggris banyak menerima pendidikan Barat yang membuat mereka berbeda dengan kelompok etnik lainnya. Orang-orang Igbo yang terpelajar ini dalam kehidupan sehari-hari bergaya layaknya orang Eropa.

Seiring hengkangnya Inggris pada 1960, Nigeria kemudian mengalami perpecahan etnis, khususnya di antara 3 kelompok besar itu. Nyaris setiap hari terjadi konflik bukan saja anatarsuku tetapi juga antaragama. Puncaknya adalah pada pertengahan 60-an ketika akhirnya pecah perang saudara sebagai akibat pernyataan berdirinya Republik Biafra di bawah pimpinan Kolonel Ojukwu (30 Mei 1967). Konon, perang saudara ini telah menewaskan 1 juta orang (sipil dan militer) serta jutaan lainnya menderita kelaparan di kamp-kamp pengungsian.

Pemerintah pusat yang dipimpin oleh Yakubu Gowon melarang masuknya bantuan makanan dan obat-obatan dari dunia internasional ke wilayah konflik di Biafra. Alhasil, Biafra mengalami kekalahan total di bawah gempuran tentara Nigeria dan menyatakan takluk pada Januari 1970. Ojukwu minggat ke Pantai Gading meninggalkan jutaan rakyat Igbo dalam penderitaan.

Sejarah pahit perang sipil di Nigeria inilah yang direkam secara cermat dan detail oleh Chimamanda Ngozi Adichie, seorang penulis kelahiran Enugu, Nigeria (15 September 1977) dalam novel dramatik Half of A Yellow Sun. Judul ini diambil dari gambar separuh matahari kuning yang menjadi lambang Republik Biafra selain warna merah hitam hijau bendera mereka.

Kisah berlatar perang saudara yang penuh tragedi itu dituturkan dengan bahasa yang indah dalam kemasan drama menyentuh dengan tokoh utamanya seorang wanita Igbo, Olanna.

Berpusat pada tokoh Olanna, Adichie menguraikan kisahnya yang sarat pesan moral tentang kekejaman perang. Akibat nafsu serakah sekelompok orang yang ingin menjadi penguasa, jutaan rakyat sipil yang tak berdosa menjadi korban. Mereka harus kehilangan harta-benda dan anggota keluarga demi menyokong sebuah konflik perebutan kekuasaan yang konyol. Mereka harus menjadi pengungsi dan kelaparan di tanah airnya sendiri. Anak-anak kehilangan hak mendapat pendidikan dan kesehatan yang layak. Bahkan para remaja prianya harus ikut wajib militer, menjadi tentara anak-anak untuk memenangi perang. Para gadis pun tak luput menjadi korban, melayani nafsu seks para tentara.

Olanna seorang wanita Igbo berpendidikan Barat yang menikah dengan Odenigbo, dosen revolusioner yang sangat idealis; yang meyakini bahwa orang-orang Igbo bisa hidup lebih baik jika memisahkan diri dari Nigeria dan menjadi warga negara Biafra. Keyakinan Odenigbo ini yang kelak menjerumuskan dia dan Olanna ke dalam kubangan penderitaan perang. Mereka mesti rela meninggalkan kehidupan yang nyaman sebagai warga kelas satu di Nnsuka. Melupakan makanan-makanan lezat, brendi, dan anggur terpilih. Menggantinya dengan menu pengungsi yang sangat tidak manusiawi: garri, ikan kering, dan umbi-umbian. Bahkan manakala keadaan kian sulit, mereka terpaksa menyantap tikus, jangkrik, dan cecak panggang.

Olanna memiliki saudara kembar, Kainene, yang secara fisik dan karakter sangat bertolak belakang dengan dirinya. Kainene tidak cantik, cenderung keras sifatnya, lebih pragmatis, dan sangat rasional. Singkatnya, Kainene jauh lebih macho dibandingkan Olanna yang feminin. Oleh sebab itulah, ayah mereka lebih memercayakan bisnis keluarga kepada Kainene, kekasih Richard, seorang jurnalis Inggris yang ikut berjuang bersama rakyat Biafra. Sayangnya, hubungan kedua saudari kembar ini kurang mesra lantaran perbedaan sifat yang sangat mencolok itu. Mereka seperti terlibat dalam sebuah “perang dingin”.

Sementara itu, tokoh Richard selain berperan sebagai kekasih Kainene, ia juga hadir mewakili orang kulit putih yang bersimpati pada perjuangan rakyat Biafra. Ia yang semula hanya berniat melakukan riset tentang belanga bertali untuk bukunya, ternyata jatuh cinta pada rakyat Biafra. Maka, ia lalu menjadi saksi mata bagi beragam kekerasan yang terjadi di sana. Melalui tulisan-tulisannya ia menyiarkan warta dan fakta yang terjadi di daerah konflik. Ia merencanakan kelak bukunya akan terbit dengan judul “Dunia Bungkam Ketika Kami Mati”.



Half of A Yellow Sun tak pelak lagi adalah sebuah novel politik yang menyuarakan protes dan kritik seorang Adichie. Namun, kritik yang disampaikan oleh penulis penerima penghargaan O’Henry (2003) ini bukanlah kritik yang penuh amarah dan caci-maki. Ia cukup jernih dan proporsional dalam melihat persoalan yang ditampilkannya. Dengan bahasa yang lembut memikat, ia justru berhasil menyentuh kesadaran kemanusiaan kita dan menggetarkan nurani.

Di awal novel saya bahkan tidak mengira kalau ini sebuah novel perang yang berdarah-darah, sebab beberapa metafora yang digunakan Adichie lebih cocok untuk sebuah novel cinta romantis. Mari saya cuplikan dua di antaranya:

Bahasa Inggris Tuan seperti musik, tetapi yang didengar Ugwu sekarang dari perempuan ini adalah keajaiban. Inilah bahasa ulung, bahasa yang memukau, jenis bahasa Inggris yang didengar Ugwu dari radio Tuan, meluncur ke luar dengan ketepatan yang rapi. Mengingatkan Ugwu tentang mengiris ubi dengan sebilah pisau yang baru diasah, kesempurnaan yang nyaman dalam setiap irisan (hlm 38).

Ah ya, hampir lupa. Ada satu lagi tokoh yang tidak boleh dilewatkan : Ugwu. Bocah lelaki pelayan setia dan sangat disayang oleh Odenigbo dan Olanna. Ugwu nyaris selalu menjadi saksi setiap peristiwa yang berlangsung di antara para tokoh lainnya. Kadang-kadang, dalam novel ini, Ugwu meminjamkan mata dan telinganya dan berfungsi sebagai “narator”.

Kembali kepada kutipan di atas. Saya rasa rangkaian metafora yang terdapat pada kalimat tersebut menjadi menarik karena memakai perbandingan benda-benda yang akrab dengan pengucapnya, Ugwu, budak pelayan yang sehari-harinya bekerja di wilayah “bumbu dapur”. Akan jadi sangat aneh apabila ungkapan yang dipakai Ugwu barang-barang yang tidak pernah dilihat dalam keterbatasan pengetahuan dan pengalamannya. Satu contoh lagi :

Akan tetapi Olanna benar-benar ada di pintu itu. Dia berjalan mengenakan kain sarung yang diikatkan ke sekeliling dadanya, dan saat wanita itu berjalan, Ugwu membayangkan bahwa Olanna adalah sebutir kacang mete kuning, indah bentuknya dan ranum (hlm. 41).

Sebelum saya akhiri ulasan ini, saya ingin menyampaikan pujian bagi penerjemah buku ini, Rika Iffati. Terjemahan yang bagus, bahkan untuk bagian puisinya yang akan saya tampilkan sebagai penutup tulisan ini :

APAKAH KAU DIAM KETIKA KAMI MATI?

Apakah kau melihat foto-foto tahun enam puluh depalan
Menampilkan anak-anak dengan rambut berangsur memerah;
Bidang-bidang pucat hinggap pada kepala-kepala mungil itu,
Kemudian rontok, seperti dedaunan busuk jatuh ke atas tanah?

Bayangkan anak-anak dengan lengan seperti tusuk gigi,
Dengan bola sepak untu perut dan kulit terbentang tipis.
Itu adalah kwashiorkor – kata yang sulit,
Sebuah kata yang tak cukup jelek, sebuah dosa.

Kau tak perlu membayangkan. Ada foto-foto
Terpampang pada halaman-halaman majalah Life-mu yang mengilat itu
Apakah kau melihatnya? Apakah kau merasa iba sesaat?
Lantas berbalik untuk memeluk kekasih atau istrimu?

Kulit mereka telah berubah menjadi cokelat laksana the encer
Serta menampakkan jarring-jaring urat dan tulang nan rawan
Anak-anak telanjang tertawa, seolah-olah pria itu
Tak akan memotret lantas pergi, seorang diri.

***

Sabtu, 25 Oktober 2008

Kartunama Putih


Judul buku: Kartunama Putih
Penulis: Kurnia Effendi
Penerbit: Biduk, Bandung
Cetakan: I, 1997
Tebal: xiv + 95 hlm.

Kurnia Effendi sebagai cerpenis, itu sudah lama saya tahu. Sejak dua puluh tahun yang lalu di era generasi Anita Cemerlang. Tetapi bahwa ia juga seorang penyair, baru belakangan ini saya mengetahuinya. Dan diam-diam, oh…tepatnya sih saya yang kurang informasi, ia telah pernah menerbitkan puisi-puisinya itu dalam satu buku : Kartunama Putih. Buku tersebut lahir 11 tahun silam.

Kerena usianya yang sudah cukup “tua” untuk ukuran sebuah buku, tidaklah mengherankan jika kita sudah tidak akan menemukannya lagi di rak-rak toko buku. Namun, beruntunglah saya yang berkat persahabatan saya dengan penulisnya, masih bisa menikmati jejak kepenyairan Kurnia Effendi atau yang kerap disapa dengan nama akrabnya, Kef, ini. Sepekan lalu, pada sebuah siang yang menyengat, ia menghadiahi saya buku kumpulan puisinya itu.

Kartunama Putih memuat 86 biji sajak yang bertema atau berkisah ihwal nama-nama orang yang oleh saya akan saya bedakan menjadi dua bagian. Pertama adalah puisi-puisi yang melibatkan atau diperuntukkan bagi orang-orang terdekat Kef. Misalnya, istri, anak-anaknya, keluarga, keponakan, kakek, sahabat, atau bisa jadi sejumlah mantan kekasih di masa remaja. Bagian kedua merupakan puisi-puisi persembahan atau ungkapan kekaguman Kef kepada para tokoh. Baik nasional ataupun internasional. Di sana akan kita temukan nama-nama seperti Mega, Udin, Benyamin Netanyahu, Slobodan Milosevic, dan lain-lain.

Dari kedua pembagian ini, saya bisa merasakan perbedaannya. Maksud saya, saya merasakan kesan yang berbeda dari keduanya.

Pada bagian untuk orang-orang terdekatnya, puisi-puisi yang ditulisnya terasa lebih “bunyi”. Barangkali karena ia benar-benar menuliskannya dari hati. Dari jarak yang dekat dengan subjeknya. Benar-benar merupakan ungkapan perasaan yang personal; yang umumnya hanya bisa dipahami oleh yang bersangkutan. Tetapi tidak demikian halnya dengan sajak-sajak Kef di buku ini. Meskipun puisi tersebut sangat personal sifatnya dan bukan ditujukan untuk kita (baca : saya), tapi kita (baca: saya) dapat ikut merasakan getarannya. Dengan kata lain, sampai ke hati. Baik maknanya maupun keindahannya. Atau saya lebih suka menyebutnya sebagai puisi-pusi yang bikin cemburu; lantaran tatkala membacanya saya membayangkan tentu pribadi-pribadi kepada siapa Kef menujukan sajak-sajaknya ini merasa tersanjung dan senang sekali. Sebab hal yang sama pernah saya rasakan pula.

Untuk jelasnya, baiklah, saya petikkan satu contohnya :


R.A.

Tinggal wangi bajumu, menyapu udara, ketika
Kereta bertolak ke utara. Tanganmu lepas dari
Genggaman. Jarak pun berkali lipat menawarkan sunyi
Di bumi yang selalu basah ini kutunggu kabar:
Kapan engkau kembali? Hujan terus turun, mencuci
Jarak pertemuan yang sengaja kunamai kenangan
Dingin peron merayap ke lantai kamar. Tempat
Sepasang kakiku terhenti. Menopang kerinduan
Yang tiba-tiba sangat berat.

Ingin kularutkan dalam mimpi: seluruh percakapan
Tentang harapan dan kecemasan. Juga tahun-tahun
Yang kupertaruhkan. Menunggu bulan turun
Ke pangkuan, alangkah panjang pengembaraan
Di malam yang kelewat basah, terus kupagut
Wangi bajumu. Terus kupagut

Puisi yang berangka tahun 1989 ini, jelas sekali merupakan puisi persembahan cinta untuk kekasih yang kini menjadi istrinya : R.A. Kependekan dari Ratu Ade. Tentu waktu itu mereka masih berstatus pacaran.

Walaupun “R.A.” sajak yang sangat personal bagi penulisnya, namun kita bisa meminjamnya untuk merayu kekasih kita. Apa lagi bila peristiwa atau situasi yang kita hadapi memiliki kemiripan dengan sajak tersebut.

Atau sajak yang ini :

KANGEN
: Ageng-Erda

Benarkah hanya jarak memisahkan kita
(Bukan karena orang ketiga, atau matirasa?)
Waktu telah lancang menghimpun seluruh
Perasaan yang diam-diam kutabung untukmu

Bahwa suatu ketika kado ini kubuka
Persis di depan bolamatamu
Yang menyembunyikan sejumlah gemerlap,
adalah tentang kangen semata

Ini juga milikku
Satu kangen yang tak bergeser
dari alamatmu.

Saya tentu tak kenal Ageng dan Erda. Dan saya memang tak perlu mengenal mereka lebih dahulu untuk bisa menikmati sajak ini; untuk dapat ikut serta merasakan kerinduan seorang kekasih di dalamnya. Bahkan saya berniat, kapan-kapan jikalau saya sedang kangen pada kekasih saya (kalau pas lagi punya kekasih), saya akan ungkapkan rindu saya dengan sajak ini.

Nah, kini mari kita bandingkan dengan sajak-sajaknya di “bagian kedua”. Langsung saja saya ambil satu sampel :

MEGA

Ketika bibirmu tersenyum
Beribu-ribu hati bijak turut tersiram sejuk
Tanganmu yang mengepal: menanamkan tunas
semangat kepada kebun massa di sekelilingmu

Engkau duduk pada kursi yang mula-mula
disiapkan untuk memimpin komunitas luluh-lantak
Babak kondisional dalam peta sosial politik,
dielu-elu dengan saputangan basah
Lorong panjang masa silam kembali diteropong
Darah orator mengalir kuat di jantungmu

Ketika bibirmu tersenyum
Seharusnya untuk 1993 sampai 1998
Namun dramatisasi dalam sandiwara negeri ini diperlukan
Untuk mengecoh para penulis sejarah masa depan
Akankah tangan-tangan kita perlu berlumur darah lagi?

Engkau kini duduk di kursi goyah
Sedang mata dunia tengah bersama-sama menatap
dari segala penjuru. Mungkin berjuta lembar skenario
harus ditimbang-tinbang, sebelum diterbitkan
dengan tinta cetak kepalsuan
Akankah tangan-tangan kita perlu berlumur darah lagi?

Sajak ini ditulis tahun 1996. Sudah pasti bermaksud mengenang peristiwa bersejarah 27 Juli 1996 yang berupaya menumbangkan Megawati dari kursi ketua DPP PDI. Zaman itu, ketika pemerintahan masih dijalankan oleh rezim Orde Baru yang otoriter, sosok Megawati dan PDI-nya menjadi simbol perlawanan. Megawati yang didzalimi, telah menumbuhkan banyak simpati di hati banyak orang di negeri ini. Mungkin termasuk Kurnia Effendi, sehingga terciptalah puisi ini.

Perhatikan diksi yang dipilih Kef dalam sajak ini. Sangat berbeda dengan yang ia pakai dalam sajak-sajak cintanya yang lembut dan romantis. Pada sajak “Mega” ini, saya seperti sedang membaca pamflet. Ada aroma politik, kekerasan, bau amis darah, kemarahan, serta sarat gugatan di sana. Demikian pula pada sajak “Literatur Kematian Udin” (hlm.16), “Kepada Ny. Hillary Clinton” (hlm.38), dan “Slobodan Milosevic” (hlm.24)

Tetapi itu masih lumayan. Masih lumayan ngerti, maksud saya. Sosok Megawati, Udin, Ny. Clinton, dan Milosevic bukanlah sosok asing. Namun, ketika sampai pada Peter Brook, Eva Johnson, Narrowsky, Oodgeroo Noonuccal, atau Hikotaro Yazaki, lantaran dangkalnya ilmu yang saya punyai, terpaksa kudu tanya si Google dulu untuk mengulik pengetahuan ihwal nama-nama tersebut. Akibatnya, saya merasakan ada jarak antara saya dengan puisi-puisi tentang mereka. Tidak senikmat saat saya membaca puisi-puisi di “bagian pertama”. Ah, mudah-mudahan Kef menulis sajak-sajak di “bagian kedua” ini bukan sekadar sebagai sebuah upaya gagah-gagahan.

Lalu, mana sajak “Kartunama Putih” yang dipakai untuk judul buku ini? Ia terletak di halaman xi (pembuka) dan 95 (penutup) :

Kartunama itu putih saja
Tak ada huruf kecuali warna kain kafan
Kartunama itu : putih saja

Namun, agaknya kartunama itu tak putih lagi. Di dalamnya, Kef telah mengukir nama-nama, puisi-puisi…***

Selasa, 14 Oktober 2008

Jalan Raya Pos, Jalan Daendels


Judul buku: Jalan Raya Pos, Jalan Daendles.
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Editor: Daniel Mahendra dan Astuti Ananta Toer
Penerbit: Lentera Dipantara
Cetakan: I, 2005
Tebal: 148 hlm.

Telah satu windu lebih setiap hari saya melakoni perjalanan pergi pulang Jakarta-Puncak setiap hari. Ya, setiap hari, karena kantor saya terletak nun di negeri awan dengan selendang kabut yang melayang-layang di pagi hari : Puncak. Anda tentu tahu perkebunan teh yang membentang di kiri kanan Jalan Raya Puncak mulai dari desa Tugu Selatan dan berakhir di sekitar restoran Rindu Alam? Nah, di situlah saya ngantor setiap harinya. Enam hari dalam sepekan. Nama perkebunan itu adalah Gunung Mas yang merupakan salah satu “warisan” peninggalan pemerintah kolonial Belanda.

Oh, saya melantur. Sebaiknya saya segera kembali ke niat semula membincang ihwal riwayat Jalan Raya Pos atau yang lebih populer lagi dengan sebutan Jalan Daendels (atau beken juga dengan nama Anyer-Panarukan). Kiranya salah sepotong jalan yang memiliki panjang keseluruhan seribu kilometer itu adalah Jalan Raya Puncak yang selama delapan tahun mondar-mandir saya lalui setiap hari.

Sebetulnya saya sudah sedikit mengetahui fakta tersebut. Namun, selama ini saya tidak pernah memberikan perhatian khusus pada jalan raya yang dalam sejarah pembuatannya telah menelan ribuan korban jiwa (menurut data pemerintah Inggris, sekitar 12.000) rakyat Indonesia. Barulah setelah membaca buku nonfiksi karya sastrawan aktivis Lekra, Pramoedya Ananta Toer, perhatian saya tergugah sepenuhnya.

Kini, jika tidak tertidur di angkot, setiap kali melintasi jalur Puncak tersebut, saya membayangkan betapa sengsaranya para kuli pribumi saat menjalani kerja rodi membangun jalan ini. Membabat hutan, memangkas bukit. Membelahnya hingga menjadi sebatang jalan yang menembus memanjang hingga ke ujung timur Pulau Jawa. Dengan teknologi dan peralatan yang tentu masih sangat sederhana, tak mengherankan jika banyak jatuh korban dalam upaya pembikinan jalan ini. Terlebih lagi mereka bekerja secara paksa di bawah tekanan penjajahan yang dipimpin oleh Sang Tuan Besar Guntur, Mr. Herman Willem Daendels. Tanpa upah dan kerap tak diberi makan.

Pramoedya, sastrawan yang banyak melahirkan roman sejarah, kali inipun menuliskan riwayat Jalan Daendels ini dengan cara bertutur, mengawinkan fakta sejarah dengan pengalaman pribadinya dengan kota-kota yang dilewati jalan raya “maut” ini.

Ia memulai kisahnya dari Lasem, Jawa Tengah. Kota yang dekat dengan tanah kelahirannya : Blora. Kemudian meloncat ke ujung barat Jawa: Anyer, tempat “mandor” Daendels pertama kali menginjakkan kaki di bumi Jawa (5 Januari 1808).

Dari Anyer, ia lantas mengurutnya ke Cilegon, Banten, Serang Tangerang, dan Batavia. Semua daerah itu ada di garis pantai utara Jawa. Dari Batavia Jalan Raya Pos ini membelok ke Depok, berlanjut ke jalur mudik selatan: Bogor (waktu itu namanya masih Buitenzorg), Cianjur, Cimahi, Bandung, Sumedang, dan berakhir di Karang Sembung sebelum kembali menuju pantura (jalur mudik yang senantiasa macet dan rawan kecelakaan) yang berawal di Cirebon.

Dari Kota Udang ini, Meneer Daendels memerintahkan untuk melanjutkan pembuatan jalan terus ke timur, melewati sederetan kota sebagai berikut: Losari, Brebes, Tegal, Pekalongan, Batang, Waleri, Kendal, Semarang, Demak, Kudus, Pati, Juwana, dan stop di Rembang yang merupakan perbatasan Jawa Tengah dan Oosthoek (Jawa Timur).

Apakah jalan itu buntu di kota tepi pantai ini? Tentu tidak, sebab kita tahu dari sejarah, jalan “berdarah” ini berujung di Panarukan, Jawa Timur. Maka, dari Rembang jalan menyambung ke Tuban, Gresik, Surabaya, Wonokromo, Sidoarjo, Porong, Bangil, Pasuruan, Probolinggo, Kraksaan, Besuki, dan tamat di Panarukan yang pada masanya pernah menjadi pelabuhan terpenting di bagian paling timur pantai utara Jawa.

Jika hanya menuliskan barisan kota-kota tadi, pastilah terbayang di benak Anda (dan saya sebelum membaca) alangkah membosankannya buku ini. Tetapi bukan Pram namanya jika ia tak pandai menyiasati “sejarah”.

Maka, Pram mengakali penulisan sejarah Jalan Raya Pos ini melalui penuturan yang sangat personal; mengaitkannya dengan pengalaman dan kenang-kenangannya terhadap barisan kota yang dilalui jalan raya itu plus sejarah kota-kota tersebut sembari sesekali melontarkan kritik dan kecaman terhadap penguasa. Bahkan kejadian-kejadian lucu yang sempat dialaminya tak luput diuraikan pula.

Misalnya, pengalaman harus mengantre selama dua harmal (dua hari dua malam) di Semarang untuk memperoleh karcis kereta api cepat jurusan Jakarta. Atau pengalaman “menjijikan” ketika ia menginap di markas Laskar Rakyat di Cirebon pada pertengahan 1946. Pada tengah malam, mendadak Pram muda terserang sakit perut ingin buang air besar. Karena tidak ada penerangan, di dalam kakus, ia tak dapat melihat apapun di sekitarnya.

“Kaki menggerayangi takhta kakus. Begitu mendapatkan ketinggian langsung nongkrong. Aneh, barang buangan itu jatuh memantulkan bunyi minor. Membersihkan diri pun tangan gerayangan mencari sumur. Dan waktu membasuh itu korek logam jatuh dari kantong celana. Curiga pada suara minor aku kembali ke kakus. Sinar api korek itu? Masya Allah, ternyata yang kuberaki bukan takhta kakus tapi tungku dapur. Dan kotoranku jatuh ke dalam periuk rendah yang masih ada sisa singkong rebus” (hlm. 79).

Sudah pasti, paparan demikian tak akan kita temukan dalam buku teks sejarah. Oleh karenanya, melalui buku Jalan Raya Pos, Jalan Daendels ini sejarah jadi terasa menarik dan nikmat untuk diikuti. Dengan ketekunan seorang sejarawan, Pram mencangkuli, menggali, setiap data dan detail sebuah peristiwa untuk kemudian dicatat dan dituliskan kembali sebagai sebuah upaya melawan lupa.

Tahun ini, tepat 200 tahun usia Jalan Raya Daendels. Pada masanya, jalan ini pernah menjadi jalan terpanjang di dunia. Sama dengan jalan raya yang menghubungkan Amsterdam-Paris. Jalan yang ternyata tidak sepenuhnya hasil karya Daendels (jalan aslinya sebagian sudah ada sejak berabad-abad sebelumnya, ia hanya melebarkannya menjadi 7 meter) ini, menjadi saksi dan bukti pembantaian manusia-manusia pribumi. Kisah di balik pembuatannya hanya salah satu dari banyak tragedi kerja paksa yang pernah berlangsung di Hindia Belanda. Di bawah Jalan Daendels ini terhimpun ribuan mayat petani dan orang-orang kecil tak berdaya.

Dan, oops! “Kuburan” itulah yang selama sewindu setiap hari saya lintasi. Masya Allah….***